Pencemaran udara merupakan kondisi ketika udara terkontaminasi oleh zat kimia, fisik, atau biologis yang dapat memengaruhi kesehatan manusia dan lingkungan. Indonesia sendiri tidak bisa lepas dari isu ini. Salah satu indikator yang banyak digunakan untuk melihat kualitas udara adalah PM2.5, yaitu partikel sangat kecil yang berasal dari pembakaran bahan bakar hingga kebakaran hutan.
Data World Health Organization (WHO) menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 di kawasan urban Indonesia mencapai 17,51 µg/m³ pada 2019, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan pedoman tahunan WHO sebesar 5 µg/m³.
Kondisi ini menunjukkan perlunya langkah yang lebih terarah untuk menekan pencemaran udara. Karena itu, agar langkah pencegahan maupun penanganannya tepat perlu memahami apa saja yang menjadi penyebabnya.
Apa Saja Penyebab Pencemaran Udara?
Pencemaran udara dapat terjadi karena berbagai sumber, baik yang berasal dari aktivitas manusia maupun proses alami. Sumber tersebut menghasilkan jenis dan jumlah polutan yang berbeda, sehingga upaya pengendaliannya juga perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing sumber.
1. Pembakaran Bahan Bakar Fosil
Pembakaran bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi dapat menghasilkan berbagai polutan udara, terutama ketika menggunakan bahan bakar seperti batu bara dan minyak bumi. Salah satu contoh nyata dari kondisi ini adalah penggunaan bahan bakar tersebut pada sektor pembangkit listrik.
Proses pembakaran batu bara dan minyak bumi dapat menghasilkan sulfur dioksida (SO₂), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), dan partikulat yang dapat menurunkan kualitas udara.
2. Aktivitas Industri dan Pabrik
Aktivitas industri dan pabrik dapat menghasilkan emisi dari proses produksi maupun penggunaan bahan bakar untuk menghasilkan energi.
Jenis polutan yang dilepaskan dapat berbeda sesuai dengan sektor dan proses produksinya, tetapi umumnya berupa partikulat, sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan polutan lainnya. Pabrik yang tidak memiliki sistem kontrol emisi berkontribusi besar terhadap pencemaran udara.
3. Penggunaan Kendaraan Bermotor
Penggunaan kendaraan bermotor menjadi salah satu sumber pencemaran udara, terutama akibat emisi dari proses pembakaran bahan bakar. Kendaraan dapat menghasilkan berbagai polutan, termasuk nitrogen oksida, karbon monoksida, dan partikulat.
Selain menghasilkan emisi dari knalpot, penggunaan kendaraan bermotor juga dapat menghasilkan partikulat dari sumber non-knalpot, seperti debu jalan serta keausan rem dan ban. Gesekan selama kendaraan bergerak dapat melepaskan partikel dan sebagian di antaranya dapat menjadi partikulat di udara.
4. Pembakaran Hutan dan Lahan
Pembakaran hutan dan lahan dapat menghasilkan asap yang mengandung berbagai polutan, terutama partikulat yang dapat menyebar ke wilayah di sekitarnya.
Paparan terhadap partikulat halus seperti PM2.5 menjadi perhatian karena ukurannya memungkinkan partikel masuk ke dalam tubuh. Karena itu, pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak hanya penting untuk melindungi ekosistem, tetapi juga untuk mengurangi paparan pencemaran udara terhadap masyarakat.
5. Kegiatan Rumah Tangga
Kegiatan rumah tangga juga dapat menjadi sumber pencemaran udara, terutama ketika menggunakan bahan bakar yang menghasilkan banyak polutan atau teknologi pembakaran yang tidak efisien.
Pembakaran kayu, arang, limbah pertanian, dan bahan bakar padat lainnya untuk memasak dapat menghasilkan partikulat dan polutan lain yang berbahaya bagi kesehatan. WHO menyebut penggunaan bahan bakar dan teknologi memasak yang berpolusi sebagai salah satu sumber utama pencemaran udara rumah tangga.
6. Sumber Alami
Selain aktivitas manusia, pencemaran udara dapat berasal dari sumber alami. Letusan gunung berapi dapat melepaskan abu vulkanik dan gas ke atmosfer. Debu yang terbawa angin juga dapat meningkatkan konsentrasi partikulat di udara.
Meskipun berasal dari proses alami, peningkatan polutan dari sumber-sumber tersebut tetap dapat memengaruhi kualitas udara dan kesehatan manusia.
Baca Juga: 5 Jenis Polusi Hasil Pembakaran Energi Fosil
Apa Akibat dari Pencemaran Udara?
Pencemaran udara dapat memberikan dampak terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan. Dampaknya bergantung pada jenis polutan, konsentrasi, serta durasi dan tingkat paparan. Partikulat halus seperti PM2.5 menjadi salah satu perhatian utama karena dapat masuk ke dalam sistem pernapasan dan bahkan mencapai aliran darah.
Dalam jangka pendek maupun panjang, paparan pencemaran udara dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan, penyakit jantung, stroke, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan kanker paru-paru.
Pencemaran udara juga dapat memengaruhi kualitas lingkungan dan ekosistem. Oleh karena itu, pengurangan emisi dari sumber pencemar menjadi bagian penting dalam upaya melindungi kesehatan masyarakat dan menjaga kualitas lingkungan.
Baca Juga: Zat Polutan Udara Beracun dari Batu Bara
Bagaimana Cara Mengatasi Pencemaran Udara?
Mengatasi pencemaran udara membutuhkan langkah yang dilakukan pada berbagai sumber emisi. Upaya tersebut tidak hanya mencakup pengurangan penggunaan bahan bakar berpolusi, tetapi juga pengendalian emisi industri, perbaikan sistem transportasi, pengelolaan sampah, dan perubahan perilaku masyarakat.
Meningkatkan Penggunaan Energi Rendah Emisi
Penggunaan energi dengan emisi yang lebih rendah dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi polutan dari sektor energi. Pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin dapat mengurangi ketergantungan pada pembakaran bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik.
Selain itu, pada kondisi tertentu, penggunaan bahan bakar yang beremisi lebih rendah dibandingkan batu bara dapat menjadi bagian dari strategi transisi energi. Namun, pemilihan sumber energi tetap perlu mempertimbangkan jenis emisi, teknologi yang digunakan, dan karakteristik kebutuhan energi.
Memperketat Regulasi Emisi
Regulasi emisi diperlukan untuk menetapkan batas emisi yang harus dipenuhi oleh berbagai sumber pencemar, termasuk industri, pembangkit listrik, dan kendaraan.
Penerapan standar tersebut perlu disertai dengan pemantauan dan pengawasan agar industri terkait menjalankan kewajibannya. Regulasi yang didukung teknologi pengendalian emisi dapat membantu menekan pelepasan polutan ke atmosfer.
Melakukan Penghijauan
Penghijauan dapat menjadi salah satu upaya pendukung dalam menjaga kualitas lingkungan. Vegetasi dapat membantu menangkap sebagian partikulat dan berperan dalam menjaga kondisi lingkungan di sekitarnya.
Namun, penghijauan tidak menggantikan kebutuhan untuk mengurangi emisi langsung dari sumber pencemar seperti kendaraan, industri, dan pembakaran bahan bakar. Karena itu, upaya penghijauan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pengendalian emisi dari sumbernya.
Mendorong Transportasi Rendah Emisi
Penggunaan transportasi publik, berjalan kaki, bersepeda, dan kendaraan dengan emisi lebih rendah dapat membantu mengurangi pencemaran udara dari sektor transportasi. Pengembangan sistem transportasi publik yang efektif juga dapat mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Mengelola Sampah dengan Baik
Pengelolaan sampah yang baik dapat membantu mengurangi pencemaran udara, terutama dengan mencegah praktik pembakaran sampah secara terbuka. Pembakaran sampah dapat menghasilkan berbagai polutan yang berdampak terhadap kesehatan dan lingkungan.
Karena itu, pengurangan sampah, pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, hingga pengelolaan dan pembuangan sampah yang tepat dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi akibat pembakaran.
Meningkatkan Edukasi dan Kesadaran Publik
Edukasi mengenai sumber dan dampak pencemaran udara dapat membantu masyarakat memahami tindakan yang dapat mengurangi emisi maupun paparan.
Misalnya, masyarakat dapat menghindari pembakaran sampah secara terbuka, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi ketika tersedia alternatif transportasi, serta menggunakan bahan bakar dan teknologi memasak yang menghasilkan emisi lebih rendah.
Perubahan perilaku tersebut dapat mendukung upaya pengendalian pencemaran udara yang dilakukan melalui kebijakan dan teknologi.
Menggunakan Teknologi Pengendalian Polusi
Teknologi pengendalian polusi dapat digunakan untuk mengurangi jumlah polutan yang dilepaskan dari sumber emisi. Pada sektor industri dan pembangkit, teknologi tersebut dapat digunakan untuk mengendalikan partikulat maupun gas pencemar sebelum dilepaskan ke atmosfer.
Pemilihan teknologi perlu disesuaikan dengan jenis polutan, karakteristik proses produksi, dan standar emisi yang berlaku. WHO juga menempatkan penggunaan teknologi yang dapat mengurangi emisi dari cerobong industri sebagai salah satu pendekatan untuk meningkatkan kualitas udara.
Baca Juga: Manfaat Utama Energi Alternatif, Tak Hanya Kurangi Polusi!
Bagaimana Peran LNG dalam Mendukung Pengurangan Pencemaran Udara?
Pengurangan pencemaran udara dari sektor energi dapat dilakukan dengan mengurangi penggunaan bahan bakar yang menghasilkan emisi polutan lebih tinggi dan beralih ke opsi dengan karakteristik emisi yang lebih rendah.
Dalam konteks tersebut, gas alam dapat menjadi salah satu pilihan pada sektor industri maupun pembangkitan. Saat dibakar, gas alam menghasilkan emisi SO₂ dan partikulat yang jauh lebih rendah dibandingkan batu bara.
LNG (Liquefied Natural Gas) merupakan gas alam yang dicairkan untuk memudahkan penyimpanan dan pengangkutan. Dengan karakteristik tersebut, LNG dapat digunakan untuk memasok kebutuhan energi ke wilayah atau fasilitas yang tidak memiliki akses langsung ke jaringan pipa gas.
Kebutuhan LNG di sektor industri tidak hanya berkaitan dengan jenis bahan bakar, tetapi juga dengan bagaimana LNG dapat dipasok, disimpan, didistribusikan, dan digunakan sesuai kebutuhan operasional.
Rantai pasok yang terintegrasi membantu memastikan LNG dapat tersedia bagi pelanggan, termasuk wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap energi.
PGN LNG Indonesia menyediakan layanan LNG yang mencakup penerimaan, penyimpanan, transportasi, dan regasifikasi. Dengan dukungan infrastruktur yang sudah berkembang di banyak wilayah nusantara, kami menghadirkan solusi energi yang terintegrasi bagi industri secara andal.
Ingin mendiskusikan kebutuhan pasokan dan solusi LNG yang sesuai dengan operasional Anda? Hubungi PGN LNG Indonesia.
Referensi
- WHO. Diakses Tahun 2026. Health and environment scorecard Urban Rural Indonesia
- WHO. Diakses Tahun 2026. Air pollution
- WHO. Diakses Tahun 2026. Health consequences of air pollution on populations
- IEA. Diakses Tahun 2026. The environmental case for natural gas