Industri yang saat ini masih bergantung pada batu bara dan minyak bumi menghadapi tantangan energi yang semakin kompleks. Selain perlu beradaptasi dengan tuntutan pengurangan emisi, volatilitas pasar energi juga dapat meningkatkan ketidakpastian biaya operasional.
Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk mengevaluasi sumber energi yang tidak hanya mampu menjaga keandalan operasional, tetapi juga membantu menurunkan intensitas emisi dari penggunaan energi.
Di tengah situasi tersebut, gas alam menjadi salah satu alternatif yang menarik dipertimbangkan. Penggunaan gas alam mampu menghasilkan pasokan energi yang stabil dan juga menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah. Itulah kenapa gas alam dapat menjadi jawaban bagi industri yang ingin menjaga kelangsungan operasional dalam jangka panjang.
Apa Itu Gas Alam?
Gas alam adalah campuran hidrokarbon yang sebagian besar terdiri dari metana (CH₄). Selain metana, gas alam juga mengandung hidrokarbon lain, seperti etana, propana, butana, dan pentana, serta sejumlah air dan komponen nonhidrokarbon. Komposisi tersebut dapat berbeda-beda tergantung pada karakteristik reservoir tempat gas diproduksi.
Sebelum digunakan oleh konsumen atau industri, gas alam perlu diproses terlebih dahulu untuk mengurangi atau memisahkan air, pengotor, dan komponen tertentu agar memenuhi spesifikasi penggunaan.
Setelah diproses, gas alam dapat disalurkan dan dimanfaatkan dalam berbagai bentuk. Perbedaan cara penyimpanan dan distribusi kemudian menghasilkan bentuk pemanfaatan yang berbeda, termasuk gas pipa, CNG, dan LNG.
Baca Juga: Integrasi Smart Grid dan LNG: Kunci Penggerak Efisiensi Energi
Apa Saja Jenis-jenis Gas Alam?
Gas alam dapat dibedakan berdasarkan karakteristik komposisinya maupun berdasarkan bentuk yang digunakan untuk penyimpanan dan distribusi.
Wet Natural Gas dan Dry Natural Gas
Secara umum, gas yang keluar dari sumur dapat mengandung metana maupun natural gas liquids (NGL) seperti etana, propana, butana, dan pentana, sehingga sering disebut sebagai wet natural gas.
Setelah komponen hidrokarbon yang dapat dicairkan dan sejumlah gas nonhidrokarbon dipisahkan, gas yang tersisa dapat dikategorikan sebagai dry natural gas atau gas yang memenuhi spesifikasi untuk dipasarkan dan digunakan.
Metana tetap menjadi komponen utama dalam gas alam yang digunakan sebagai sumber energi, sementara komponen lain dapat dipisahkan atau dimanfaatkan untuk kebutuhan industri tertentu.
LNG (Liquefied Natural Gas)
LNG adalah gas alam yang didinginkan hingga sekitar -162°C sehingga berubah dari fase gas menjadi cair. Proses pencairan ini mengurangi volume gas secara signifikan, sekitar 600 kali dibandingkan volumenya dalam bentuk gas, sehingga LNG lebih efisien untuk disimpan dan diangkut dalam jumlah besar.
Karakteristik tersebut membuat LNG dapat menjadi solusi distribusi gas alam ke wilayah atau fasilitas industri yang tidak terhubung langsung dengan jaringan pipa, termasuk melalui pengangkutan menggunakan kapal atau truk LNG.
CNG (Compressed Natural Gas)
CNG adalah gas alam yang dikompresi hingga tekanan tinggi, umumnya sekitar 200 hingga 248 bar, dan disimpan dalam wadah bertekanan tinggi.
Berbeda dengan LNG, CNG tetap berada dalam bentuk gas sehingga tidak memerlukan proses pencairan kriogenik. Karakteristik ini membuat CNG dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu, terutama ketika distribusi melalui pipa tidak tersedia.
Namun, kebutuhan penyimpanan bertekanan tinggi dan kapasitas volume yang lebih terbatas dapat menjadi pertimbangan untuk penggunaan energi dalam skala besar dan distribusi jarak jauh.
Baca Juga: Inilah Alasan Munculnya Desakan Tinggalkan LPG dan Pilih CNG
Seperti Apa Pemanfaatan Gas Alam untuk Industri?
Bagi industri, salah satu keunggulan utama gas alam adalah fleksibilitas penggunaannya. Gas alam dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan energi, mulai dari pembangkit listrik, boiler, proses pemanasan, hingga proses produksi yang membutuhkan pasokan energi secara kontinu.
Pada industri dengan kebutuhan listrik yang besar, gas alam dapat digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik, sementara pada proses yang membutuhkan panas, gas alam dapat digunakan untuk menghasilkan steam melalui boiler atau menghasilkan panas secara langsung.
Pemanfaatan gas alam juga dapat disesuaikan dengan kondisi infrastruktur dan kebutuhan operasional industri. Gas alam dapat disalurkan melalui jaringan pipa atau didistribusikan dalam bentuk CNG dan LNG ketika jaringan pipa belum tersedia atau lokasi industri membutuhkan pasokan yang lebih fleksibel.
Dari sisi lingkungan, gas alam juga memiliki intensitas emisi yang umumnya lebih rendah dibandingkan batu bara, sehingga dapat menjadi salah satu opsi untuk mengurangi emisi pada operasional industri.
Baca Juga: 5 Keunggulan LNG di Sektor Tambang, Tak Hanya Lebih Efisien
Mengapa LNG Menjadi Pilihan Utama Industri?
LNG menjadi salah satu pilihan energi bagi industri karena menawarkan fleksibilitas dalam penyediaan dan distribusi gas alam.
Dalam bentuk cair, LNG membutuhkan ruang penyimpanan yang jauh lebih kecil dibandingkan gas alam dalam bentuk gas, sehingga lebih praktis untuk diangkut dalam jumlah besar. Karakteristik ini memungkinkan LNG dikirim menggunakan kapal atau truk ke berbagai lokasi, termasuk wilayah yang belum terhubung dengan jaringan pipa gas.
Bagi industri, fleksibilitas tersebut memberikan lebih banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhan energi sesuai kondisi lokasi dan operasional. LNG dapat disimpan sebelum digunakan dan kemudian diregasifikasi untuk menghasilkan gas alam yang siap dimanfaatkan.
Dengan demikian, penggunaan LNG tidak perlu bergantung pada ketersediaan jaringan pipa di sekitar lokasi industri, tetapi dapat didukung oleh infrastruktur penyimpanan dan distribusi LNG yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Baca Juga: Tanpa LNG, Upaya Carbon Neutral Sulit Tercapai? Cek Faktanya!
Pemanfaatan LNG sebagai Solusi untuk Beragam Industri
Kebutuhan energi setiap industri tidak selalu dapat dipenuhi melalui jaringan pipa gas. Faktor lokasi, kapasitas energi, dan kebutuhan operasional dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan metode penyediaan energi.
Dalam kondisi tersebut, LNG menawarkan alternatif karena gas alam dapat disimpan dan diangkut dalam bentuk cair sebelum digunakan kembali sebagai gas melalui proses regasifikasi.
Bahan Bakar dengan Emisi Lebih Rendah
LNG tetap merupakan bahan bakar fosil sehingga penggunaannya tetap menghasilkan emisi. Namun, ketika dibandingkan dengan batu bara, gas alam pada umumnya memiliki intensitas emisi yang lebih rendah.
Keunggulan tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi industri yang ingin mengurangi emisi dari penggunaan bahan bakar dengan intensitas karbon lebih tinggi.
Alternatif untuk Lokasi yang Tidak Terhubung Pipa Gas
Salah satu karakteristik utama LNG adalah fleksibilitas distribusinya. Setelah dicairkan, LNG dapat diangkut menggunakan kapal atau truk menuju wilayah dan fasilitas yang tidak terhubung langsung dengan jaringan pipa gas.
Setelah sampai di lokasi tujuan, LNG dapat diregasifikasi kembali menjadi gas untuk digunakan sebagai bahan bakar. Kemampuan ini menjadikan LNG relevan bagi industri yang membutuhkan pasokan gas tetapi menghadapi keterbatasan akses terhadap infrastruktur pipa.
Mendukung Aktivitas dan Rantai Pasok Industri
Ketersediaan pilihan distribusi energi dapat membantu industri menyesuaikan strategi pasokan dengan kondisi lokasi dan kebutuhan operasionalnya. LNG memungkinkan gas alam dikirim ke berbagai wilayah dalam volume yang lebih efisien dibandingkan pengangkutan gas dalam bentuk biasa, sehingga dapat memperluas akses terhadap sumber energi gas.
Hadirnya fleksibilitas tersebut dapat mendukung kontinuitas pasokan energi, terutama ketika pembangunan atau akses terhadap infrastruktur pipa menghadapi keterbatasan.
Salah Satu Opsi dalam Transisi Energi
LNG dapat berperan sebagai salah satu opsi energi transisi, khususnya ketika digunakan untuk menggantikan bahan bakar dengan intensitas emisi yang lebih tinggi seperti batu bara.
Meski menghasilkan emisi lebih rendah dalam penggunaan tertentu, LNG tetap merupakan bahan bakar fosil. Karena itu, pengurangan emisi perlu diperhatikan mulai dari produksi hingga distribusi.
Dengan demikian, penggunaan LNG sebagai bagian dari strategi transisi energi perlu disertai dengan peningkatan efisiensi energi dan pengelolaan emisi di seluruh rantai pasok.
Memahami jenis dan karakteristik gas alam membantu industri menentukan bentuk energi yang paling sesuai dengan kebutuhan operasional, infrastruktur, dan distribusinya.
Di antara berbagai pilihan tersebut, LNG menawarkan fleksibilitas dalam penyimpanan dan transportasi sehingga dapat menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi industri, termasuk di wilayah yang belum terhubung dengan jaringan pipa gas.
PGN LNG Indonesia hadir untuk mendukung kebutuhan energi industri melalui layanan LNG yang terintegrasi, mulai dari penerimaan, penyimpanan, transportasi, hingga regasifikasi LNG. Dengan dukungan rantai pasok dan infrastruktur LNG, PGN LNG Indonesia membantu industri memperoleh solusi energi yang andal sekaligus mendukung penggunaan energi dengan emisi lebih rendah.
Ingin mengetahui solusi LNG yang sesuai dengan kebutuhan industri Anda? Hubungi PGN LNG Indonesia dan konsultasikan kebutuhan energi Anda bersama tim kami.