Di Indonesia, kapasitas terpasang seluruh pembangkit listrik telah mencapai sekitar 107 GW per Oktober 2025 menurut data Kementerian ESDM. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan listrik untuk industri, rumah tangga, dan aktivitas ekonomi lainnya sangatlah besar dan akan terus meningkat.
Saat ini, pembangkit listrik nasional masih didominasi oleh sumber fosil. Namun di samping itu, ada juga pembangkit lainnya yang juga punya kontribusi penting dalam menyokong pasokan energi nasional.
Ingin tahu apa saja jenis pembangkit selain dari fosil? Simak penjelasan lengkapnya di artikel ini.
Apa itu pembangkit listrik?
Pembangkit listrik adalah fasilitas atau sistem yang mengubah berbagai jenis sumber daya, seperti air, panas, bahan bakar fosil, atau radiasi matahari menjadi tenaga listrik.
Fungsi utamanya adalah menyediakan listrik agar bisa digunakan masyarakat maupun industri sesuai kebutuhan.
Pembangkit listrik bisa sangat berbeda dalam hal sumber energi, skala, dan karakteristik operasional. Beberapa dirancang untuk produksi besar (misalnya untuk jaringan nasional), sementara yang lain bisa saja berukuran kecil, tergantung lokasi, kebutuhan, atau sumber daya yang tersedia.
Baca Juga: Macam-macam Energi Alternatif dan Contohnya
Apa Saja Macam-macam Pembangkit Listrik?
Di Indonesia dan global terdapat berbagai jenis pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber daya alam maupun teknologi berbeda. Berikut 12 jenis pembangkit listrik serta contohnya:
1. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
PLTA memanfaatkan aliran air, biasanya melalui bendungan, untuk menggerakkan turbin generator. Air dialirkan dari ketinggian, menghasilkan energi kinetik yang kemudian dikonversi jadi listrik.
PLTA banyak dijumpai di wilayah pegunungan dan sungai besar di Indonesia. Dengan karakteristik yang relatif stabil dan efisien, PLTA menjadi salah satu fondasi dalam sistem pembangkit listrik nasional, terutama untuk energi terbarukan.
Contoh pembangkit listrik tenaga air ada di Sumatera Barat, Riau, Lampung, Aceh, Bengkulu, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat.
2. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)
PLTB menggunakan tenaga angin untuk memutar turbin pada kincir angin yang kemudian menghasilkan listrik lewat generator.
Di Indonesia, PLTB mulai dibangun di lokasi dengan potensi angin cukup baik. PLTB menjadi opsi menarik karena tidak memerlukan pembakaran atau polusi langsung, serta bisa menambah diversifikasi sumber listrik nasional.
Contoh PLTB yang memanfaatkan energi dari angin berada di Tolo (Janeponto) dan juga PLTB Sidrab (Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan).
Baca Juga: Fakta Kontribusi Energi Angin vs Fosil
3. Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG)
PLTG memakai gas (umumnya gas alam) sebagai bahan bakar untuk memutar turbin genset, lalu menghasilkan listrik.
Karena fleksibilitasnya, PLTG sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik di kota besar atau wilayah dengan pasokan gas, terutama saat beban listrik berfluktuasi. PLTG juga mendukung sistem ketenagalistrikan nasional agar lebih responsif terhadap permintaan.
Contoh jenis pembangkit ini berada di Kalimantan Timur, Jambi, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.
4. Pembangkit Listrik Tenaga Uap / Batu Bara (PLTU)
PLTU menggunakan batu bara sebagai bahan bakar untuk menghasilkan panas. Panas ini menguapkan air menjadi uap, yang kemudian menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik.
Karena efisiensi dan kapasitas besar, PLTU telah lama menjadi tulang punggung listrik nasional, terutama sebagai base load (pembebanan dasar) yang berjalan terus menerus.
Contoh PLTU cukup banyak di Indonesia, misalnya PLTU di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Batam, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Banten.
5. Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)
PLTP atau pembangkit geotermal memanfaatkan panas alami bumi, seperti dari gunung berapi atau patahan panas untuk menggerakkan generator listrik.
Energi panas bumi bersifat relatif stabil dan berpotensi besar di banyak wilayah Indonesia. Sebagai energi terbarukan, PLTP mendukung diversifikasi dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Contoh tempat PLTP terdapat di Wonosobo, Pengalengan, Garut, hingga Sukabumi.
Baca Juga: Potensi Geothermal dan Tantangan Implementasinya
6. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
PLTS memanfaatkan sinar matahari lewat panel surya untuk menghasilkan listrik. Panel surya bisa dipasang di atap rumah, area terbuka, hingga lokasi terpencil.
Hadirnya teknologi ini menjadikannya sebagai solusi fleksibel terutama di wilayah yang sulit dijangkau jaringan listrik utama.
PLTS tersebar di berbagai wilayah Indonesia, misalnya PLTS di Sulawesi Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, dan Purwakarta Jawa Barat.
7. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD)
PLTD menggunakan mesin diesel atau solar untuk menggerakkan generator listrik. Biasanya jenis pembangkit ini digunakan di area terpencil atau pulau-pulau kecil dimana akses ke jaringan utama terbatas.
Meski biaya operasional bisa lebih tinggi, PLTD penting demi memastikan pasokan listrik dasar di berbagai sudut negeri. PLTD yang dapat ditemukan berada di Kabupaten Natuna sebagai PLTD dengan kapasitas terbesar di Indonesia.
8. Pembangkit Listrik Tenaga Ombak (PLTO)
PLTO memanfaatkan energi ombak laut untuk menghasilkan listrik, lewat mekanisme turbin yang digerakkan pergerakan air laut.
Meski potensinya besar di negara maritim seperti Indonesia, implementasi PLTO di Indonesia masih terbatas karena tantangan teknis, biaya, dan kondisi geografis.
9. Pembangkit Listrik Tenaga Gas-Uap / Kombinasi (PLTGU)
PLTGU menggabungkan siklus gas dan uap, yaitu gas membakar untuk memutar turbin gas, dan sisa panasnya dipakai untuk menghasilkan uap yang juga memutar turbin. Mekanisme ini dapat meningkatkan efisiensi energi..
Jenis pembangkit ini populer di kawasan industri atau kota besar, di mana kebutuhan listrik tinggi dan stabilitas serta efisiensi sangat dibutuhkan. Indonesia sudah memiliki PLTGU yang dibangun di Cilegon, Serang, Banten.
10. Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut (PLTPS)
PLTPS menggunakan energi dari pasang-surut air laut untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik.
Meskipun potensinya sangat menjanjikan di wilayah pesisir dan kepulauan, pembangunan infrastruktur dan teknologinya perlu investasi besar. Itulah kenapa PLTPS baru sedikit diimplementasikan secara nyata.
Baca Juga: Energi Pasang Surut, Teknologi Hijau dari Ombak Laut
11. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)
PLTSa mengubah sampah, terutama sampah organik atau residu, menjadi energi listrik lewat proses insinerasi atau konversi lain.
Dengan meningkatnya volume sampah di kota besar, PLTSa bisa menjadi solusi ganda, yaitu mengurangi limbah sekaligus menghasilkan listrik. Namun hal ini membutuhkan manajemen sampah dan teknologi yang tepat.
12. Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)
PLTN memanfaatkan reaksi fisi inti atom (misalnya uranium) di reaktor untuk menghasilkan panas, lalu uap, dan akhirnya listrik.
Karena energi yang dihasilkan sangat besar dan berkelanjutan, PLTN bisa menjadi sumber listrik skala besar. Namun, pembangkit jenis ini punya tantangan besar terkait keamanan dan limbah radioaktif, sehingga implementasinya harus sangat hati-hati.
Baca Juga: Kelebihan Energi Nuklir dan Risikonya
Apa Tantangan Sistem Pembangkit di Indonesia?
Indonesia kini berada di fase penting transisi energi, dengan kebutuhan menurunkan emisi sekaligus menjaga keandalan pasokan listrik nasional.
Tantangan terbesarnya adalah mengurangi ketergantungan pada pembangkit batu bara yang menjadi sumber emisi, sambil memastikan energi yang lebih bersih seperti gas dan LNG (Liquefied Natural Gas) sebagai energi transisi.
Kebijakan pemerintah melalui RUEN, RUPTL, dan target Net-Zero Emission 2060 semakin memperjelas arah bahwa bauran energi masa depan harus lebih rendah karbon, efisien, dan berkelanjutan.
Di sisi lain, penetrasi energi terbarukan terus meningkat tetapi menghadapi kendala intermitensi yang membuat sistem kelistrikan tetap membutuhkan sumber baseload yang fleksibel. LNG memiliki peran strategis sebagai bridge fuel yang dapat menjembatani kebutuhan tersebut.
Modernisasi infrastruktur pembangkit dan grid juga menjadi prioritas, termasuk digitalisasi, integrasi smart grid, serta perluasan jaringan gas dan fasilitas LNG skala besar maupun small-scale untuk mendukung elektrifikasi yang lebih merata.
Dengan penguatan infrastruktur LNG dan teknologi pembangkit yang semakin efisien, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan kombinasi gas dan energi terbarukan dalam membangun sistem energi masa depan yang kuat dan berkelanjutan.