Kebutuhan energi tidak hanya berpusat di daerah yang dekat dengan pembangkit. Di wilayah-wilayah terpencil pun membutuhkan pasokan energi yang memadai untuk mendukung aktivitas manusia dan pertumbuhan ekonomi.
Sayangnya, banyak lokasi tersebut belum tersentuh jaringan listrik nasional. Akibatnya, daerah-daerah ini memerlukan solusi mandiri untuk menjaga keberlanjutan pasokan energinya. Di sinilah sistem off-grid memiliki peran penting.
Namun, sistem off-grid juga perlu didukung oleh sumber energi yang stabil dan andal. Lantas, apakah LNG (Liquefied Natural Gas) menjadi salah satu pilihan yang paling tepat untuk sistem ini? Simak penjelasan lengkapnya di artikel ini.
Apa Itu Off-grid?
Off-grid adalah sistem penyediaan energi yang beroperasi secara mandiri dan tidak terhubung secara langsung ke jaringan listrik publik atau nasional (PLN). Sistem ini dirancang untuk menghasilkan, menyimpan, dan mendistribusikan listriknya sendiri di lokasi penggunaan.
Contoh penggunaan sistem off-grid yang paling umum adalah di sektor pertambangan di hutan atau pegunungan, pabrik di daerah terpencil, serta kawasan industri khusus yang jauh dari jaringan listrik utama.
Komponen utama sistem off-grid biasanya terdiri dari sumber energi, seperti diesel, gas, atau tenaga surya, serta sistem penyimpanan energi seperti baterai. Inilah yang membuat perusahaan bisa mandiri energi tanpa bergantung pada kebijakan atau gangguan teknis dari penyedia listrik eksternal.
Baca Juga: Integrasi Smart Grid dan LNG Jadi Kunci Penggerak Efisiensi Energi
Apa Perbedaan Off-grid dan On-grid?
Memahami perbedaan antara off-grid dan on-grid sangatlah penting karena bisa membantu menentukan strategi operasional.
Sistem on-grid adalah sistem yang terhubung langsung dengan jaringan listrik nasional. Biaya infrastruktur awal relatif lebih rendah bagi wilayah yang telah terjangkau jaringan listrik, tetapi sistem ini memiliki keterbatasan besar dalam hal jangkauan geografis.
Potensi kelemahan sistem on-grid terletak pada risiko pemadaman atau fluktuasi tegangan, yang umumnya dipengaruhi oleh keandalan dan kapasitas jaringan di wilayah tertentu.
Di sisi lain, sistem off-grid menawarkan fleksibilitas operasional yang lebih tinggi, sehingga pengguna dapat mengatur kapasitas daya sesuai kebutuhan spesifik.
Meskipun biaya infrastruktur off-grid awal lebih tinggi karena mencakup pembangunan unit pembangkit sendiri, solusi ini sering kali menjadi satu-satunya pilihan strategis bagi industri yang tidak memiliki akses ke jaringan listrik nasional.
Baca Juga: Carbon Capture and Storage Jadi Gimmick Hijau? Simak Faktanya!
Apa Saja Tantangan Utama Sistem Off-grid?
Membangun sistem energi mandiri tidaklah mudah. Ada beberapa hambatan signifikan yang sering dihadapi, antara lain:
- Kontinuitas listrik yang sangat tinggi pada industri, seperti smelter atau pusat data, karena gangguan daya dapat merusak peralatan dan menyebabkan kerugian finansial.
- Ketergantungan pada satu sumber energi juga menjadi tantangan karena jika sumber tersebut mengalami masalah teknis, seluruh operasi berpotensi lumpuh.
- Keterbatasan atau intermitensi energi terbarukan menjadi masalah utama karena meskipun ramah lingkungan, sumber energi seperti surya dan angin bersifat tidak stabil akibat ketergantungan pada kondisi cuaca.
- Pengiriman logistik bahan bakar secara rutin ke lokasi yang sulit dijangkau membutuhkan manajemen rantai pasok yang efisien.
Inilah mengapa stabilitas menjadi kata kunci utama dalam memilih bahan bakar untuk sistem off-grid.
Baca Juga: Tanpa LNG, Upaya Carbon Neutral Sulit Tercapai? Cek Faktanya!
Kenapa LNG Menjadi Solusi Off-grid Paling Stabil?
Dengan memahami tantangan sistem off-grid tersebut, maka diperlukan bahan bakar yang pasokannya stabil dan mudah didistribusikan hingga ke wilayah terpencil.
Salah satu solusi yang dinilai paling stabil saat ini adalah LNG. Ada beberapa alasan mengapa LNG menjadi pilihan:
1. Menyediakan Pasokan Energi yang Konsisten
LNG adalah gas alam yang telah didinginkan menjadi bentuk cair sehingga memungkinkan penyimpanan dalam volume besar. Sebagai bahan bakar gas, LNG mampu mendukung operasi pembangkit listrik secara terus-menerus selama 24/7.
Dalam sistem off-grid, LNG dapat berperan sebagai energi baseload, yaitu sumber energi utama yang stabil dengan pasokan yang konsisten melalui infrastruktur LNG yang telah mapan. Hal ini berbeda dengan sumber energi terbarukan yang bersifat fluktuatif.
2. Mudah Disimpan dan Didistribusikan ke Wilayah Terpencil
Melalui proses pencairan, volume gas alam akan menyusut hingga sekitar 600 kali lipat. Hal ini membuat LNG sangat efisien untuk diangkut menggunakan kapal tangki, truk ISO-tank, atau kereta api ke wilayah yang tidak memiliki infrastruktur pipa gas.
Fleksibilitas transportasi ini memungkinkan konsep virtual pipeline, di mana gas alam dapat mencapai berbagai lokasi terpencil layaknya pengiriman bahan bakar cair, tetapi dengan keunggulan kualitas gas yang lebih bersih dan konsisten.
Baca Juga: 5 Peran Penting Small Scale LNG
3. Lebih Stabil Dibanding Energi Terbarukan
Banyak sistem off-grid mencoba mengandalkan panel surya atau turbin angin. Namun, tantangan utama energi surya adalah keterbatasan produksi listrik pada malam hari atau saat cuaca mendung.
LNG memiliki kelebihan karena tidak bergantung pada kondisi cuaca atau waktu. Pembangkit listrik tenaga gas dapat dengan cepat menyesuaikan output dayanya untuk menjaga kestabilan voltase dan frekuensi dalam jaringan off-grid.
4. Emisi Lebih Rendah Dibanding Diesel dan Batu Bara
Dalam banyak proyek off-grid tradisional, mesin diesel dan pembangkit berbahan bakar batu bara sering menjadi pilihan utama.
Namun, kedua sumber energi ini menghasilkan emisi karbon, sulfur, dan partikulat yang relatif tinggi, serta berdampak pada kualitas udara dan lingkungan sekitar.
Sebaliknya, LNG dikenal sebagai salah satu bahan bakar fosil yang paling bersih. Dibandingkan diesel, LNG menghasilkan emisi CO₂ sekitar 25–30% lebih rendah serta hampir tidak menghasilkan emisi sulfur.
Jika dibandingkan dengan batu bara, perbedaan emisinya bahkan lebih signifikan, karena batu bara merupakan sumber energi dengan intensitas karbon dan polutan udara yang lebih tinggi.
Dengan menggunakan LNG, tentunya akan mendukung pencapaian target ESG (Environmental, Social, and Governance) tanpa perlu mengorbankan performa dan keandalan mesin pembangkit.
Baca Juga: Mengenal Carbon Credits dan Bedanya Dengan Carbon Trading
5. Mendukung Efisiensi dan Keandalan Operasional Bisnis
Mesin pembangkit listrik berbahan bakar gas umumnya memiliki efisiensi termal yang relatif tinggi serta biaya perawatan yang lebih terukur dalam jangka panjang dibandingkan mesin diesel.
Dengan menggunakan LNG, risiko downtime akibat fluktuasi pasokan atau kerusakan mesin karena bahan bakar berkualitas rendah dapat diminimalisir. Hal ini menjadikannya salah satu solusi jangka menengah hingga panjang yang ekonomis dan andal.
Pemilihan sistem energi off-grid bukan lagi sekadar upaya mencari alternatif listrik, melainkan keputusan strategis yang menentukan keberlangsungan operasional dan profitabilitas bisnis di wilayah terpencil.
Meskipun energi terbarukan terus berkembang, LNG tetap menjadi salah satu solusi yang stabil dan andal untuk memenuhi beban baseload yang besar dan berkelanjutan.
Referensi:
- DoE. Diakses Tahun 2026. Off-Grid or Stand-Alone Renewable Energy Systems
- IRENA. Diakses Tahun 2026. Solutions and best practices to increase energy access
- IEA. Diakses Tahun 2026. Natural Gas
- MDPI. Diakses Tahun 2026. Off-Grid Hybrid Renewable Energy System Operation in Different Scenarios for Household Consumers