Hutan sering disebut sebagai paru-paru dunia karena memiliki peran penting dalam menyerap karbon dioksida, mengatur iklim, dan menjaga kualitas udara.
Namun, peran tersebut semakin melemah seiring terjadinya deforestasi yang terus meluas. Akibatnya, muncul risiko krisis iklim, hilangnya ekosistem, hingga perubahan cuaca ekstrem.
Lantas, apa yang mendorong terjadinya deforestasi ini? Mari kita ulas penyebabnya serta peran LNG dalam mitigasi dampaknya.
Apa Penyebab Deforestasi Terus Meluas?
Masalah deforestasi terbilang sangat kompleks karena disebabkan bukan hanya dari faktor tunggal saja. Banyak aktivitas ilegal maupun legal yang memicu munculnya kondisi tersebut, antara lain:
Alih Fungsi Lahan untuk Pertanian dan Perkebunan
Penyebab utama yang paling sering disorot adalah konversi hutan menjadi lahan agrikultur skala besar. Permintaan global terhadap komoditas seperti kelapa sawit, kedelai, dan komoditas perkebunan lainnya mendorong pembukaan lahan baru.
Menurut laporan dari Food and Agriculture Organization (FAO), ekspansi pertanian, mulai dari tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan telah menyumbang hampir 90% dari deforestasi global. Di Indonesia, kondisi ini sangat terasa karena posisinya sebagai produsen utama minyak sawit dunia.
Baca Juga: 7 Dampak Deforestasi yang Mengancam Kita Semua
Aktivitas Pertambangan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam
Di bawah rimbunnya hutan, sering kali tersimpan kekayaan mineral dan batu bara. Untuk mengambilnya, hutan di atasnya sering kali digunduli habis melalui pertambangan terbuka (open-pit).
Tambang batu bara, emas, hingga nikel kerap meninggalkan bekas permanen pada bentang alam. Dampaknya bukan hanya hilangnya pepohonan, tetapi juga rusaknya struktur tanah dan pencemaran sumber air bagi warga sekitar.
Penebangan Hutan (Legal dan Ilegal)
Ada perbedaan tipis tetapi krusial antara penebangan legal dan ilegal. Penebangan legal, secara regulasi, biasanya mengikuti aturan tebang pilih dan prinsip pengelolaan hutan lestari.
Namun, penebangan ilegal (illegal logging) sering kali beroperasi tanpa memikirkan regenerasi hutan. Aktivitas ini kerap luput dari pengawasan karena terjadi di wilayah terpencil dengan akses yang sulit.
Pembangunan Infrastruktur dan Urbanisasi
Seiring dengan target pertumbuhan ekonomi, pembangunan jalan, perluasan kawasan industri, dan pemukiman baru sering kali membelah wilayah hutan.
Fenomena ini menciptakan fragmentasi hutan, di mana area hutan yang luas terbagi menjadi bagian-bagian kecil. Kondisi ini berisiko mengganggu jalur migrasi satwa dan merusak keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Baca Juga: Peak Shaving Plant, Inovasi Efisien untuk Cegah Blackout
Seperti Apa Data dan Tren Deforestasi di Indonesia?
Deforestasi di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa periode terakhir. Menurut data Kementerian Kehutanan, pada tahun 2024 angka deforestasi neto tercatat sekitar 175,4 ribu hektar, yang menunjukkan penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Meskipun demikian, Forest Watch Indonesia (FWI) mencatat bahwa deforestasi masih terjadi, terutama di wilayah konsesi perkebunan, hutan tanaman industri, serta hutan alam yang masih tersisa.
Berikut adalah tren deforestasi Indonesia dalam tiga tahun terakhir:
| Tahun | Angka Deforestasi Neto (ha) |
| 2021–2022 | 104.000 |
| 2022–2023 | 257.384 |
| 2023–2024 | 175.400 |
Berdasarkan data di atas, setelah mencapai tingkat deforestasi yang lebih rendah pada periode 2021–2022, angka deforestasi meningkat pada 2023 dan kemudian kembali menurun pada 2024.
Baca Juga: IMO 2020 dan LNG jadi Solusi Final? Cek Faktanya
Bagaimana Dampak Deforestasi terhadap Iklim dan Emisi Karbon?
Hutan adalah penyimpan karbon (carbon sink) alami yang sangat efektif. Saat pohon tumbuh, ia menyerap molekul CO₂ dari atmosfer melalui fotosintesis, lalu menyimpannya di dalam batang, akar, dan tanah.
Sebaliknya, ketika hutan dibakar atau digunduli, karbon yang telah tersimpan selama puluhan tahun tersebut dilepaskan kembali ke atmosfer dalam waktu singkat. Inilah yang terjadi dalam proses deforestasi dan menjadi salah satu sumber utama peningkatan emisi karbon.
Peningkatan emisi ini berkontribusi langsung terhadap naiknya suhu bumi, memicu mencairnya es di kutub, dan mempengaruhi perubahan pola hujan yang semakin tidak menentu.
Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya tidak hanya memperparah kerusakan lingkungan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi manusia.
Baca Juga: Apa Itu Biofuel? Ini Bedanya dengan Biodiesel
Apa Peran LNG dalam Menekan Emisi Akibat Deforestasi?
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, deforestasi memicu peningkatan emisi karbon akibat pelepasan karbon yang tersimpan di dalam hutan.
Kondisi ini semakin diperparah oleh penggunaan bahan bakar seperti batu bara, yang proses pembakarannya juga menghasilkan emisi karbon dalam jumlah besar.
Dampak tersebut menjadi lebih serius ketika deforestasi terjadi untuk membuka lahan eksplorasi tambang batu bara, karena peningkatan emisi telah terjadi sejak tahap pembukaan hutan, proses eksplorasi, hingga distribusinya.
Hingga saat ini, banyak sektor industri dan pembangkit listrik masih sangat bergantung pada batu bara. Oleh karena itu, upaya menekan emisi karbon perlu disertai dengan peralihan ke sumber energi yang lebih bersih namun tetap memiliki pasokan yang stabil.
Salah satu solusi yang paling realistis saat ini adalah penggunaan LNG (Liquefied Natural Gas atau gas alam cair).
Ada beberapa alasan mengapa LNG menjadi opsi yang relevan di era transisi energi, antara lain:
- Memiliki emisi karbon yang lebih rendah, sekitar 40–50% dibandingkan batu bara saat digunakan untuk pembangkitan listrik.
- Mengurangi tekanan terhadap pembukaan lahan baru, karena infrastruktur gas bumi memiliki jejak fisik (physical footprint) yang relatif lebih kecil dan efisien.
- Menghasilkan emisi partikulat yang lebih rendah, sehingga risiko terhadap lingkungan dan kesehatan manusia juga lebih kecil.
Bagi industri, beralih ke LNG bukan sekadar mengikuti tren keberlanjutan, tetapi merupakan langkah realistis untuk tetap menjaga produktivitas sambil menekan emisi karbon.
Sebagai energi transisi, LNG berperan penting dalam menjaga keandalan pasokan energi nasional sembari secara bertahap mengurangi ketergantungan pada batu bara yang merusak lingkungan.
Referensi:
- FAO. Diakses Tahun 2026. COP26: Agricultural expansion drives almost 90 percent of global deforestation
- Kemenhut. Diakses Tahun 2026. Hutan dan Deforestasi Indonesia Tahun 2024
- FWI. Diakses Tahun 2026. Klaim Deforestasi KLHK: Titik Terendah atau Beda Cara Hitung?
- IEA. Diakses Tahun 2026. The Role of Gas in Today’s Energy Transitions