Efek gas rumah kaca (GRK) pada dasarnya merupakan proses alami yang berperan penting dalam menjaga suhu Bumi tetap hangat dan layak huni. Namun, peningkatan aktivitas manusia, terutama di sektor energi, telah menyebabkan konsentrasi gas ini di atmosfer meningkat jauh melampaui keseimbangan alaminya.
Kondisi ini membuat panas yang seharusnya dipantulkan kembali ke luar angkasa justru terperangkap di atmosfer. Akumulasi panas tersebut menjadi pemicu utama pemanasan global dan berbagai dampak yang kini dikenal sebagai krisis iklim.
Tanpa langkah mitigasi yang efektif dan berkelanjutan, risiko yang ditimbulkan bisa semakin parah dan sulit dikendalikan di masa mendatang.
Apa Risiko Efek Gas Rumah Kaca Terus Meningkat?
Meningkatnya akumulasi gas rumah kaca di atmosfer akan memicu pemanasan global dan perubahan iklim. Fenomena ini kemudian akan menyebabkan banyak risiko, antara lain:
Peningkatan Suhu Global
Efek rumah kaca yang berlebihan menyebabkan suhu rata-rata permukaan bumi terus naik. Sejak akhir abad ke-19, suhu rata-rata permukaan bumi telah meningkat sekitar 1,1°C, sehingga meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas.
Kondisi ini berdampak serius terhadap kesehatan manusia, seperti meningkatnya risiko heatstroke, serta menekan sistem energi karena lonjakan penggunaan pendingin ruangan yang dapat mengganggu stabilitas jaringan listrik.
Baca Juga: Ini Proses Terjadinya Pemanasan Global dari Awal hingga Dampaknya
Perubahan Pola Iklim dan Cuaca Ekstrem
Pemanasan global memengaruhi dinamika atmosfer dan siklus hidrologi, sehingga mengubah pola curah hujan di berbagai wilayah.
Dampaknya terlihat dari meningkatnya kejadian hujan ekstrem yang memicu banjir, sementara di daerah lain mengalami kekeringan berkepanjangan.
Untuk sektor energi, kondisi ini menjadi ancaman serius karena cuaca ekstrem dapat merusak infrastruktur distribusi dan mengganggu pasokan listrik dari pembangkit energi terbarukan.
Naiknya Permukaan Laut
Efek gas rumah kaca mempercepat pencairan lapisan es di kutub, sehingga menyebabkan kenaikan permukaan air laut.
Dampak ini sangat signifikan bagi negara kepulauan seperti Indonesia, di mana banyak infrastruktur energi strategis, seperti kilang minyak dan terminal gas, berlokasi di wilayah pesisir.
Kenaikan muka laut meningkatkan risiko abrasi dan genangan yang berpotensi mengganggu keberlanjutan suplai energi.
Gangguan pada Ekosistem serta Ketahanan Pangan
Perubahan iklim berdampak besar pada sektor pertanian dan ketahanan pangan melalui meningkatnya kekeringan ekstrem serta ketidakpastian musim tanam yang menekan produktivitas pangan global.
Ketersediaan air bersih juga semakin terancam akibat kombinasi peningkatan penguapan dan perubahan pola curah hujan.
Di saat yang sama, keanekaragaman hayati menghadapi tekanan serius karena banyak spesies tidak mampu beradaptasi dengan cepatnya perubahan suhu, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem.
Baca Juga: Mengenal Carbon Offset Beserta Manfaat dan Cara Kerjanya
Apa Penyebab Utama Peningkatan Efek Gas Rumah Kaca?
Meningkatnya emisi gas rumah kaca dipengaruhi banyak faktor, bukan hanya karena penggunaan batu bara dan minyak bumi saja. Inilah penyebab utamanya:
Pembakaran Bahan Bakar Fosil
Sektor energi merupakan penyumbang terbesar emisi karbon dioksida (CO₂), terutama dari pembakaran batu bara untuk pembangkit listrik dan minyak bumi di sektor transportasi.
Aktivitas ini melepaskan miliaran ton CO₂ ke atmosfer setiap tahun. Karena sebagian besar karbon dioksida memiliki masa tinggal yang sangat panjang di atmosfer, akumulasinya menyebabkan dampak pemanasan global yang bertahan selama ratusan tahun.
Emisi Metana dari Aktivitas Energi
Metana (CH₄) adalah gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam memerangkap panas.
Gas ini banyak terlepas dari aktivitas produksi dan pengolahan bahan bakar fosil. Pengendalian kebocoran metana kini menjadi prioritas utama dalam industri gas global untuk menekan laju pemanasan global.
Deforestasi
Hutan berperan sebagai penyerap karbon alami yang menyimpan karbon melalui biomassa dan tanah. Namun, deforestasi untuk pembukaan lahan industri dan pertanian dapat mengurangi kemampuan bumi menyerap emisi karbon.
Selain itu, penebangan dan pembakaran hutan melepaskan kembali karbon yang tersimpan, sehingga memperparah akumulasi gas rumah kaca di atmosfer.
Aktivitas Industri & Pertanian
Selain sektor energi, industri manufaktur dan aktivitas pertanian juga berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, terutama dinitrogen oksida (N₂O) yang berasal dari penggunaan pupuk nitrogen.
Meskipun dilepaskan dalam jumlah lebih kecil dibandingkan karbon dioksida, gas ini memiliki potensi pemanasan global yang sangat tinggi.
Baca Juga: Manfaat Pirolisis, Mengolah Sampah Menjadi Bahan Bakar
Bagaimana Strategi Mitigasinya?
Untuk menekan laju peningkatan emisi dan dampak lingkungan, strategi mitigasi perlu dilakukan secara terpadu di sektor energi dan industri. Upaya tersebut mencakup:
- Peningkatan efisiensi pembangkit listrik agar konsumsi bahan bakar dan emisi per unit energi dapat ditekan.
- Pengendalian kebocoran metana pada infrastruktur energi.
Di sisi lain, percepatan transisi dari bahan bakar berintensitas karbon tinggi seperti batu bara menuju sumber energi yang lebih rendah emisi juga menjadi langkah kunci.
Strategi ini dapat dilengkapi dengan penerapan Carbon Capture and Storage (CCS) untuk menangkap emisi gas buang dari proses industri dan pembangkit sebelum dilepaskan ke atmosfer.
Baca Juga: Jenis-jenis Refrigerant dan Cara Kerjanya
Apakah LNG bisa Menjadi Solusi Menurunkan Efek GRK?
Ya, Liquefied Natural Gas (LNG) bisa menurunkan efek gas rumah kaca. Penggunaan LNG sebagai pengganti batu bara terbukti mampu menurunkan emisi karbon dioksida hingga sekitar 40–50% di sektor pembangkitan listrik, sehingga efektif menekan intensitas emisi dalam jangka pendek.
LNG juga menawarkan fleksibilitas pasokan yang membantu menjaga keandalan sistem energi saat energi terbarukan belum selalu stabil.
Oleh karena itu, dalam konteks target Net Zero Emission, LNG harus diposisikan sebagai bahan bakar jembatan dalam masa transisi energi, bukan sebagai solusi akhir. Tujuannya, LNG digunakan untuk mempercepat penurunan emisi saat ini, sambil membuka jalan menuju sistem energi yang sepenuhnya berbasis energi terbarukan.
Referensi:
- NASA. Diakses Tahun 2025. What is the greenhouse effect?
- WMO. Diakses Tahun 2025. Greenhouse gases
- EIA. Diakses Tahun 2025. Energy and the environment explained
- EPA. Diakses Tahun 2025. Overview of Greenhouse Gases
- IEA. Diakses Tahun 2025. New IEA report assesses emissions from LNG supply and maps out opportunities to reduce them