Batu bara memang menjadi penopang energi nasional saat ini. Meski punya kontribusi penting, nyatanya pembakaran batu bara juga menghasilkan zat polutan udara paling tinggi.
Zat polutan tersebut memiliki dampak yang berbahaya bagi kesehatan karena berpotensi menimbulkan masalah pernapasan dan juga penyakit jantung.
Untuk menurunkan risiko tersebut, sudah saatnya beralih pada sumber energi yang lebih bersih dan tetap mendukung pasokan energi yang stabil. Mau tahu apa solusinya? Temukan jawabannya di artikel ini.
Apa Itu Polutan Udara?
Polutan udara adalah zat kimia, fisik, atau biologis di atmosfer yang menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Polutan ini dapat berasal dari sumber alami, seperti letusan gunung berapi, namun dalam konteks modern sebagian besar bersumber dari aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil.
Di sektor energi, pembangkit listrik berbasis batu bara menjadi salah satu penyumbang utama emisi polusi udara yang sering diisukan sebagai penyebab jutaan kematian dini setiap tahun.
Itulah kenapa, pemahaman terhadap emisi industri menjadi aspek penting dalam upaya perlindungan kesehatan dan lingkungan.
Baca Juga: 5 Peran Penting Small-Scale LNG, Ukuran Mini Dampak Maksimal
Apa Saja Jenis Zat Polutan Udara dari Pembakaran Batu Bara?
Pada proses pembakaran batu bara menghasilkan berbagai zat polutan yang berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan, antara lain:
Karbon Dioksida (CO₂)
Karbon dioksida merupakan gas rumah kaca paling dominan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia.
Dibandingkan bahan bakar fosil lainnya, pembakaran batu bara menghasilkan emisi CO₂ paling tinggi per unit energi.
Akumulasi CO₂ di atmosfer, bersama gas rumah kaca lainnya, menjadi pendorong utama pemanasan global dan perubahan iklim yang tengah dihadapi dunia saat ini.
Karbon Monoksida (CO)
Karbon monoksida terbentuk dari proses pembakaran yang tidak sempurna. Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau.
Namun, sangat berbahaya karena memiliki afinitas yang jauh lebih kuat terhadap hemoglobin dibandingkan oksigen, sehingga menghambat distribusi oksigen dalam tubuh.
Paparan CO dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius, kehilangan kesadaran, hingga berujung pada kematian.
Sulfur Dioksida (SO₂)
Sulfur dioksida dilepaskan ketika batu bara yang mengandung belerang dibakar. Gas ini merupakan salah satu kontributor utama hujan asam dan bersifat korosif ketika bereaksi dengan uap air di atmosfer.
Paparan SO₂ juga berdampak buruk bagi kesehatan manusia, terutama menyebabkan iritasi dan gangguan pada saluran pernapasan.
Baca Juga: Dampak Lingkungan Daur Sulfur dalam Proses Industri
Nitrogen Oksida (NOx)
Nitrogen oksida terbentuk terutama selama proses pembakaran bersuhu tinggi, baik dari reaksi nitrogen di udara maupun dari kandungan nitrogen dalam bahan bakar.
Gas ini berperan penting dalam pembentukan kabut asap fotokimia dan ozon tingkat dasar melalui reaksi kimia di atmosfer.
Paparan NOx dan ozon troposferik dapat merusak jaringan paru-paru serta memicu atau memperburuk serangan asma.
Partikulat Halus (PM2.5/PM10)
Partikulat halus merupakan partikel padat atau cair berukuran sangat kecil yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara. PM2.5 dapat menembus hingga alveoli paru-paru dan masuk ke aliran darah, sehingga berpotensi memicu peradangan sistemik.
Paparan jangka panjang terhadap PM2.5 dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan kronis, penyakit jantung, dan kematian dini. Sementara PM10 berdampak pada saluran pernapasan bagian atas.
Merkuri, Arsenik, dan Timbal
Pembakaran batu bara melepaskan berbagai logam berat berbahaya, termasuk merkuri, arsenik, dan timbal. Logam berat ini dapat terdispersi melalui udara atau terikat pada partikel abu.
Merkuri merupakan racun saraf yang berpotensi terakumulasi dalam rantai makanan, sementara arsenik diklasifikasikan sebagai karsinogen dengan risiko kesehatan yang meningkat akibat paparan jangka panjang.
Kehadiran polutan beracun ini menambah dampak serius pembakaran batu bara terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.
Baca Juga: Apa Itu Bio LNG? Kenali Kelebihan, Manfaat, dan Cara Pembuatan
Apa Efek Negatif Zat Polutan Udara?
Dampak dari polutan-polutan udara menciptakan efek domino yang merusak berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, lingkungan, hingga ekonomi dan sosial.
Dampak Kesehatan Manusia
Paparan kronis terhadap polutan dari pembakaran batu bara meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama penyakit pernapasan seperti bronkitis kronis dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
Partikulat halus juga terbukti berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, stroke, dan kanker paru-paru.
Dampak kesehatan ini sering menyerang anak-anak dan lansia, terutama yang mudah mengalami penurunan fungsi paru-paru akibat kualitas udara yang buruk.
Dampak Lingkungan
Emisi SO₂ dan NOx dari pembakaran batu bara berkontribusi pada pembentukan hujan asam yang menurunkan kesuburan tanah dan mengganggu ekosistem air tawar melalui penurunan pH serta pelepasan logam berat beracun.
Di sisi lain, emisi CO₂ meningkatkan pemanasan global yang mempercepat pencairan es di wilayah kutub dan mendorong meningkatnya frekuensi serta intensitas cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia.
Dampak polutan tersebut dalam jangka waktu panjang akan merusak lingkungan dan juga habitat hewan.
Dampak Ekonomi & Sosial
Tingkat polusi yang tinggi meningkatkan beban biaya kesehatan publik dan menurunkan produktivitas ekonomi akibat masalah penyakit.
Selain dampak kesehatan, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan industri sering mengalami penurunan kualitas hidup akibat paparan polusi udara yang berlangsung secara terus-menerus.
Baca Juga: IMO 2020 dan LNG jadi Solusi Final? Cek Faktanya
Beralih ke LNG untuk Mengurangi Polutan
Sebagai bagian dari upaya mitigasi polusi udara, peralihan dari batu bara ke bahan bakar yang lebih bersih menjadi salah satu opsi penting, misalnya menggunakan LNG (Liquefied Natural Gas).
LNG adalah gas alam yang didinginkan hingga sekitar -160 °C agar berbentuk cair, sehingga lebih efisien untuk transportasi dan penyimpanan skala besar.
Dalam pembangkit listrik, LNG menghasilkan:
- Emisi CO₂ sekitar 40–50% lebih rendah dibandingkan batu bara.
- Hampir tanpa emisi sulfur (SO₂) dan partikulat halus (PM2.5).
- Emisi NOx yang relatif lebih rendah.
Dari kelebihan inilah LNG dapat menjadi solusi tepat dalam menurunkan polusi udara akibat pembakaran batu bara.
Selain itu, LNG dapat disalurkan ke daerah yang belum terjangkau pipa gas melalui kapal tanker atau ISO tank, sehingga menjadikannya sebagai bahan bakar yang tak hanya memenuhi kebutuhan pasokan energi, tetapi juga untuk menurunkan polusi dan emisi karbon.
Referensi
- EPA. Diakses Tahun 2025. Power Plants and Neighboring Communities
- EIA. Diakses Tahun 2025. Electric power sector CO2 emissions drop as generation mix shifts from coal to natural gas
- WHO. Diakses Tahun 2025. Air Pollution
- CREA. Diakses Tahun 2025. Air quality, health and toxics impacts of coal power and coal mining in Coahuila, Mexico
- HCWH. Diakses Tahun 2025. Scientific Evidence of Health Effects from Coal Use in Energy Generation