Kelebihan dan Kekurangan PLTS: Tepatkah Jadi Pengganti Fosil?

29 Jul 26
Kelebihan Kekurangan PLTS

Kapasitas pembangkit listrik terpasang nasional per Mei 2025 telah mencapai 105 gigawatt (GW). Dari jumlah tersebut, PLTU batu bara masih mendominasi dengan kapasitas 41,4 GW atau sekitar 53% dari total pembangkit, berdasarkan data Kementerian ESDM. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem kelistrikan Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil.

Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar. Kementerian ESDM memperkirakan potensi teknis tenaga surya mencapai 3.295 GW, jauh melampaui kebutuhan kapasitas pembangkit nasional saat ini. Meski demikian, pemanfaatan PLTS masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari faktor teknis, investasi, hingga keandalan pasokan listrik.

Lantas, dengan potensi yang begitu besar, apakah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sudah siap menggantikan dominasi pembangkit berbasis energi fosil seperti batu bara?

 

Apa Kelebihan PLTS untuk Sektor Industri?

Penggunaan PLTS semakin banyak dipertimbangkan oleh sektor industri karena menawarkan berbagai keunggulan, baik dari sisi operasional maupun keberlanjutan, antara lain:

Sumber Energi Terbarukan dan Ramah Lingkungan

Sebagai sumber energi terbarukan, PLTS tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca secara langsung selama proses pembangkitan listrik.

Karakteristik ini menjadikannya salah satu solusi untuk mendukung target dekarbonisasi perusahaan, terutama bagi industri intensif energi seperti smelter dan pertambangan.

Selain itu, penggunaan PLTS dapat membantu perusahaan memenuhi standar lingkungan yang semakin ketat di pasar global, termasuk permintaan dari pembeli di Eropa maupun Amerika Serikat yang semakin memperhatikan jejak karbon produk dalam rantai pasok.

Instalasi Relatif Mudah dan Fleksibel

Dibandingkan pembangkit listrik konvensional, instalasi PLTS relatif lebih sederhana dan dapat disesuaikan dengan karakteristik area industri.

Modul surya dapat dipasang di atap fasilitas produksi melalui sistem roof-mounting, di lahan kosong menggunakan ground-mounting, atau pada struktur tiang (pole-mounting). Untuk kawasan pertambangan yang memiliki area genangan, PLTS juga dapat dikembangkan dalam bentuk floating photovoltaic (floating PV).

Fleksibilitas konfigurasi tersebut memungkinkan perusahaan memanfaatkan ruang yang tersedia secara lebih optimal tanpa harus mengubah tata letak operasional.

Potensi Penghematan Biaya Operasional Jangka Panjang

PLTS berpotensi menurunkan biaya listrik operasional setelah investasi awal mencapai periode balik modal (payback period).

Manfaat ini umumnya lebih terasa pada fasilitas industri yang memiliki konsumsi listrik tinggi pada siang hari, seperti pabrik manufaktur maupun smelter, karena energi surya dapat dimanfaatkan saat kebutuhan listrik sedang berada pada puncaknya.

Adopsi PLTS Atap juga semakin didukung oleh Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2024, yang memberikan kepastian regulasi dan kemudahan implementasi, sehingga membuka peluang lebih besar bagi pelaku industri untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi surya sebagai bagian dari strategi efisiensi energi jangka panjang.

Baca Juga: Contoh Energi Terbarukan dan Manfaatnya

 

Apa Kekurangan PLTS untuk Sektor Industri?

Di balik berbagai kelebihannya, penerapan PLTS juga memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu dipertimbangkan, terutama bagi industri yang membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar dan beroperasi secara kontinu, misalnya:

Sifat Intermiten dan Ketergantungan pada Cuaca

Salah satu tantangan utama PLTS adalah sifatnya yang intermiten, yaitu produksi listrik bergantung pada ketersediaan sinar matahari.

Output listrik PLTS dipengaruhi oleh siklus siang dan malam, perubahan musim, serta tingkat tutupan awan (cloud opacity), sehingga tidak selalu menghasilkan daya yang konstan.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi industri yang membutuhkan pasokan listrik selama 24 jam, seperti smelter, peleburan logam, maupun pertambangan bawah tanah, karena proses produksinya tidak dapat berhenti ketika matahari terbenam.

Kebutuhan Lahan yang Luas

PLTS skala industri memerlukan area yang relatif luas untuk menghasilkan kapasitas listrik yang sebanding dengan pembangkit konvensional.

Hal ini dapat menjadi kendala bagi kawasan industri, smelter, maupun area tambang yang memiliki keterbatasan lahan operasional.

Salah satu alternatif yang mulai dikembangkan adalah floating photovoltaic (floating PV) yang memanfaatkan badan air, seperti kolam bekas tambang yang tergenang. Namun, solusi ini juga memiliki keterbatasan karena hanya dapat diterapkan pada lokasi yang memiliki kondisi badan air yang sesuai.

Biaya Penyimpanan Energi yang Masih Tinggi

Untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik dari PLTS, terutama di luar jam produksi energi surya, perusahaan dapat mengintegrasikan sistem penyimpanan energi berbasis baterai atau Battery Energy Storage System (BESS).

Namun, penambahan BESS membutuhkan investasi yang jauh lebih besar dibandingkan sistem PLTS tanpa baterai.

Bagi sektor industri, pembangunan BESS dalam skala besar agar pasokan listrik tetap tersedia selama 24 jam dapat menjadi tambahan belanja modal (capital expenditure/capex) yang perlu diperhitungkan secara matang.

Ketergantungan pada Komponen Impor

Industri surya di Indonesia saat ini masih didominasi oleh aktivitas di sektor hilir, seperti perakitan modul surya dan integrasi sistem.

Sementara itu, sel surya (solar cell) sebagai komponen utama sekaligus yang bernilai paling tinggi masih banyak dipenuhi melalui impor.

Kondisi tersebut membuat pengembangan PLTS di dalam negeri masih dipengaruhi oleh dinamika rantai pasok global, termasuk fluktuasi harga komponen dan ketersediaan pasokan dari negara produsen.

Baca Juga: Peran LNG sebagai Solusi Energi Stabil bagi Industri Smelter

 

Apakah PLTS Realistis Menggantikan Energi Fosil di Sektor Industri Saat Ini?

PLTS merupakan salah satu solusi yang realistis untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap energi fosil, tetapi belum dapat sepenuhnya menggantikan sumber energi konvensional di semua jenis operasional.

Pemanfaatannya perlu disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan energi setiap sektor, terutama dari sisi pola konsumsi listrik dan tingkat keandalan pasokan yang dibutuhkan.

Sektor yang Cocok Menggunakan PLTS

PLTS paling sesuai diterapkan pada fasilitas industri yang memiliki konsumsi listrik dominan pada siang hari atau berfungsi sebagai fasilitas pendukung operasional.

Contohnya meliputi kantor administrasi di kawasan tambang maupun smelter, mess karyawan, fasilitas pengolahan air, serta sistem pendingin dan ventilasi yang banyak beroperasi pada siang hari.

Selain itu, manufaktur ringan, fasilitas logistik, utilitas pendukung tambang, dan kawasan komersial industri juga dapat memanfaatkan PLTS melalui skema self-consumption maupun peak shaving untuk mengurangi penggunaan listrik dari jaringan atau pembangkit utama saat beban puncak.

Dalam kondisi tersebut, PLTS berperan sebagai pelengkap (complementary energy mix) yang meningkatkan efisiensi energi, bukan sebagai satu-satunya sumber pasokan listrik.

Sektor yang Belum Cocok dengan PLTS Saja

Sebaliknya, PLTS belum dapat menjadi satu-satunya sumber energi bagi industri yang beroperasi secara kontinu selama 24 jam, seperti smelter, fasilitas pengolahan mineral, pertambangan dengan operasi tanpa henti, serta industri intensif energi seperti logam, semen, dan kimia.

Proses produksi di sektor-sektor tersebut membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan berkesinambungan sehingga intermitensi PLTS berpotensi mengganggu operasional apabila tidak didukung sistem cadangan yang memadai.

Gangguan pasokan listrik dapat menyebabkan terhentinya proses produksi, penurunan produktivitas, hingga menimbulkan kerugian finansial.

Oleh karena itu, pada kondisi seperti ini dibutuhkan sumber energi pendukung yang lebih andal, salah satunya Liquefied Natural Gas (LNG), untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus mendukung transisi menuju energi yang rendah emisi.

Baca Juga: Contoh Energi Listrik dan Pemanfaatannya

 

Apa Keunggulan LNG sebagai Solusi atas Kekurangan PLTS?

Salah satu keunggulan utama LNG dibandingkan PLTS adalah sifatnya yang dispatchable, yaitu dapat menghasilkan energi sesuai kebutuhan dan dioperasikan kapan saja tanpa bergantung pada kondisi cuaca.

Karakteristik ini membuat LNG mampu menyediakan pasokan listrik yang stabil untuk memenuhi kebutuhan baseload industri yang beroperasi selama 24 jam.

Di sisi lain, PLTS tetap berperan penting sebagai sumber energi terbarukan, tetapi produksinya dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari.

Oleh karena itu, LNG sering diposisikan sebagai bridge fuel atau energi transisi yang melengkapi pemanfaatan PLTS dengan menjaga kontinuitas pasokan listrik ketika produksi energi surya menurun, seperti pada malam hari atau saat cuaca mendung.

Selain menawarkan keandalan pasokan, LNG juga menghasilkan emisi sulfur oksida (SOx) yang sangat rendah serta emisi nitrogen oksida (NOx) dan partikulat yang lebih rendah dibandingkan batu bara, Heavy Fuel Oil (HFO), maupun diesel.

Hal ini menjadikan LNG sebagai pilihan bagi industri yang ingin mengurangi jejak karbon tanpa mengorbankan keandalan operasional.

Akan tetapi, untuk dapat menjalankan perannya sebagai bridge fuel yang andal, ketersediaan LNG perlu didukung oleh rantai pasok yang terjaga, mulai dari penyimpanan, distribusi, hingga regasifikasi di lokasi pembangkit maupun fasilitas produksi.

Kebutuhan akan pengelolaan rantai pasok energi yang konsisten menjadikan peran mitra energi semakin penting. Bukan sekadar pemasok, tetapi juga pihak yang memahami karakteristik operasional setiap industri serta mampu menghadirkan solusi yang sesuai.

Sebagai mitra energi, PGN LNG Indonesia menghadirkan solusi LNG yang terintegrasi untuk mendukung keberlangsungan operasional industri secara andal dan efisien.

Simak bagaimana kami menghadirkan solusi energi yang andal bagi industri Anda, baca selengkapnya di sini: Penyedia LNG untuk Energi Industri Anda.

 

Referensi

  • ESDM. Diakses Tahun 2026. Bukti Nyata Pengembangan Energi Terbarukan, PLTS Ground-Mounted Terbesar di Indonesia Resmi Beroperasi
  • ESDM. Diakses Tahun 2026. Semester I Tahun 2025, Kapasitas Terpasang Pembangkit Meningkat 4,4 GW
  • PMC. Diakses Tahun 2026. Solar power generation intermittency and aggregation

 

Bagikan Artikel
Berita Lainnya