Emisi gas rumah kaca (GRK) di Indonesia masih menjadi tantangan besar dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Berdasarkan laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dirilis pada 2024, total emisi GRK Indonesia pada 2023 mencapai 1.360.346,59 Gg CO₂e atau sekitar 1.360,35 juta ton CO₂e, meningkat 10,9% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan emisi tersebut berasal dari berbagai sektor, termasuk energi dan industri yang terus berkembang seiring pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan produksi nasional. Kedua sektor ini dikenal sebagai penyumbang emisi yang signifikan, baik dari penggunaan bahan bakar fosil maupun proses produksi.
Lalu, di antara sektor energi dan industri, sektor mana yang sebenarnya memberikan kontribusi emisi paling besar? Memahami fakta ini akan menjadi langkah penting untuk menentukan strategi pengurangan emisi dan mendorong transisi menuju penggunaan energi yang lebih bersih.
Sektor Mana yang Menjadi Penyumbang Emisi Terbesar?
Untuk memantau sumber emisi secara nasional, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan Inventarisasi GRK Nasional yang mengelompokkan emisi ke dalam lima sektor utama, yaitu:
- Energi.
- Kehutanan dan Penggunaan Lahan Lainnya (FOLU/Forestry and Other Land Use).
- Limbah.
- Pertanian.
- Proses Industri dan Penggunaan Produk (IPPU/Industrial Process and Product Use).
Berikut adalah jumlah emisi yang dihasilkan berdasarkan tiap sektor.
| Sektor | Emisi (Juta Ton CO2e) | Persentase |
| Energi | 752,28 | 55,3% |
| Kehutanan & Penggunaan Lahan (FOLU) | 306,90 | 22,6% |
| Limbah | 136,34 | 10,0% |
| Pertanian | 104,98 | 7,7% |
| Industri (IPPU) | 59,85 | 4,4% |
Sumber: Laporan Inventarisasi GRK dan MPV Tahun 2024.
Berdasarkan Laporan Inventarisasi GRK dan Monitoring, Pelaporan, dan Verifikasi (MPV) Tahun 2024, tingkat emisi GRK Indonesia pada tahun kegiatan 2023 mencapai 1.360,35 juta ton CO₂e.
Dari total emisi nasional tersebut, sektor energi menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi lebih dari 50% emisi Indonesia. Dalam Inventarisasi GRK Nasional, sektor energi mencakup emisi dari pembangkitan listrik, transportasi darat, laut, dan udara, hingga penggunaan bahan bakar di banyak sektor.
Sementara itu, sektor industri atau IPPU menempati posisi kelima dengan kontribusi sebesar 4,4%.
Sektor IPPU mencatat emisi yang berasal dari proses produksi industri, bukan dari pembakaran bahan bakar. Contohnya meliputi produksi semen, kapur, amonia, logam, serta penggunaan gas refrigeran pada sistem pendingin.
Baca Juga: Amankah Cadangan Minyak Bumi Indonesia untuk 10 Tahun Lagi?
Kenapa Sektor Energi Sering Menjadi Penyumbang Emisi Terbesar?
Sektor energi menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di Indonesia karena sistem energi nasional masih didominasi oleh bahan bakar fosil, terutama batu bara dan minyak bumi.
Ketergantungan ini terlihat dari peran pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara yang masih menjadi tulang punggung pasokan listrik nasional.
Di sisi lain, kebutuhan energi terus meningkat seiring pertumbuhan industri, urbanisasi, transformasi digital, serta berkembangnya sektor manufaktur, smelter, dan pengolahan mineral yang membutuhkan pasokan listrik dan bahan bakar dalam jumlah besar.
Selain berasal dari pembakaran bahan bakar, emisi sektor energi juga mencakup kegiatan di sepanjang rantai pasok energi, mulai dari eksplorasi, produksi, dan pengolahan, hingga distribusi.
Baca Juga: Mengenal Carbon Credits dan Bedanya Dengan Carbon Trading
Apa Dampaknya bagi Bisnis yang Beroperasi di Sektor Intensif Emisi?
Komitmen Indonesia untuk mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca dan menuju Net Zero Emissions (NZE) membawa konsekuensi yang semakin nyata bagi dunia usaha, terutama bagi perusahaan yang beroperasi di sektor intensif emisi seperti energi, manufaktur, pertambangan, semen, logam, dan pengolahan mineral.
Seiring berkembangnya kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan mekanisme perdagangan karbon di Indonesia, perusahaan perlu bersiap menghadapi kemungkinan perluasan sektor yang diwajibkan melakukan pengukuran, pelaporan, serta pengurangan emisi.
Kondisi ini dapat meningkatkan biaya operasional karena perusahaan perlu berinvestasi pada teknologi yang lebih efisien, energi rendah karbon, sistem pemantauan emisi, hingga program pengelolaan lingkungan untuk memenuhi persyaratan regulasi yang terus berkembang.
Di saat yang sama, tekanan tidak hanya datang dari regulator, tetapi juga dari investor, lembaga keuangan, pelanggan, dan mitra bisnis global.
Transparansi pelaporan emisi dan kinerja Environmental, Social, and Governance (ESG) kini semakin menjadi pertimbangan dalam keputusan investasi dan pemberian pendanaan.
Baca Juga: Benarkah Carbon Trading Jadi Solusi Emisi?
Mengapa LNG Menjadi Solusi Transisi untuk Menurunkan Emisi Sektor Energi?
Liquefied Natural Gas (LNG) adalah gas alam yang telah didinginkan hingga berbentuk cair agar lebih mudah disimpan dan diangkut dalam skala besar.
Dalam sistem energi modern, LNG berperan sebagai sumber energi fosil yang lebih bersih dibandingkan batu bara, karena menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂) yang lebih rendah ketika digunakan untuk pembangkitan listrik maupun proses industri.
Dalam banyak aplikasi, LNG dapat menjadi substitusi batu bara dan diesel, terutama pada sektor industri yang membutuhkan pasokan energi stabil dan berkelanjutan.
Keunggulan lain LNG adalah kemampuannya menyediakan energi yang andal untuk operasi industri yang berjalan 24 jam, sehingga tetap mendukung produktivitas tanpa gangguan pasokan.
Bagi perusahaan, penggunaan LNG dapat membantu menurunkan jejak karbon sekaligus menjaga keberlanjutan operasional, sehingga selaras dengan target Environmental, Social, and Governance (ESG) serta strategi keberlanjutan jangka panjang.
Ingin memulai transisi energi dengan LNG? PGN LNG Indonesia siap membantu industri Anda merancang solusi pasokan yang andal dan sesuai target keberlanjutan. Temukan solusi terbaiknya di sini: Penyedia LNG di Indonesia.
Referensi:
- KLHK. Diakses Tahun 2026. Laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK) dan Monitoring, Pelaporan, Verifikasi (MPV) Tahun 2024
- IEA. Diakses Tahun 2026. Total CO2 Emissions from Energy
- IESR. Diakses Tahun 2026. Indonesia Sustainable Mobility Outlook (ISMO) 2025
- ESDM. Diakses Tahun 2026. Kinerja Sektor ESDM 2024: Lampui Target, Penuhi Kebutuhan Domestik, dan Tingkatkan Ketahanan Energi