Batu bara selama beberapa dekade dapat dikatakan menjadi tulang punggung sistem energi global, terutama dalam menopang sektor industri dan pembangkitan listrik.
Namun, secara faktual, batu bara bukanlah sumber energi terbesar yang tersedia di Bumi, karena masih terdapat sumber energi lain dengan kapasitas yang jauh lebih besar dan bersifat terbarukan.
Meski potensi energi-energi tersebut secara teoretis mampu melampaui energi fosil, pemanfaatannya hingga kini masih belum optimal dan belum sepenuhnya menggantikan dominasi bahan bakar fosil. Mau tahu sumber energi apa itu? Temukan jawabannya di artikel ini.
Apa Sumber Energi Terbesar di Bumi?
Matahari adalah sumber energi terbesar yang disediakan oleh alam dan memiliki peran krusial dalam menggerakan sistem kehidupan di permukaan Bumi. Namun, selain matahari masih ada sumber energi lainnya. Inilah daftar lengkapnya:
1. Energi Matahari
Matahari adalah sumber energi eksternal utama yang menggerakkan hampir seluruh sistem di permukaan Bumi. Berdasarkan pengukuran Total Solar Irradiance (TSI) oleh NASA, ada sekitar 1.361 watt per meter persegi (W/m²) di luar atmosfer, setara dengan sekitar 173.000 terawatt (TW) setiap detiknya.
Angka energi tersebut lebih dari 10.000 kali lipat total konsumsi energi seluruh penduduk dunia saat ini.
Pemanfaatan energi matahari kini juga telah menjadi salah satu tulang punggung listrik bersih global. Melalui teknologi Photovoltaic (PV) dan Concentrated Solar Power (CSP), biaya produksi energi surya telah turun drastis dalam satu dekade terakhir.
Baca Juga: Tanpa LNG, Upaya Carbon Neutral Sulit Tercapai?
2. Energi Panas Bumi (Geothermal)
Energi geothermal berasal dari panas alami perut Bumi. Panas ini bersumber dari dua proses utama, yaitu sisa energi panas dari pembentukan planet miliaran tahun lalu dan peluruhan radioaktif alami unsur-unsur di dalam kerak Bumi.
Secara teoretis, panas yang tersimpan di lapisan atas kerak Bumi atau berada di kedalaman sekitar 10 kilometer, diperkirakan mengandung energi puluhan ribu kali lebih besar dibandingkan seluruh cadangan minyak dan gas dunia.
Keunggulan utama energi panas bumi adalah sifatnya sebagai baseload, yang berarti dapat beroperasi 24/7 tanpa bergantung pada kondisi cuaca, berbeda dengan sumber energi terbarukan seperti angin atau surya..
3. Energi Nuklir Alami
Banyak yang tidak menyadari bahwa Bumi dapat dianalogikan sebagai sistem nuklir alami berskala raksasa.
Energi ini dihasilkan dari peluruhan radioaktif alami isotop seperti Uranium-238, Thorium-232, dan Kalium-40 yang terdapat di kerak dan mantel Bumi. Proses ini bertanggung jawab atas sekitar 40–50% aliran panas internal Bumi.
Perbedaan mendasar antara energi nuklir alami dan buatan terletak pada konsentrasi dan tingkat kontrolnya. Di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), manusia memicu reaksi fisi secara terkendali dalam volume yang sangat terbatas untuk menghasilkan panas dalam waktu singkat.
Sebaliknya, peluruhan radioaktif alami berlangsung sangat lambat dan tersebar luas di dalam interior Bumi, sehingga energinya tidak dimanfaatkan secara langsung, melainkan termanifestasi melalui aktivitas tektonik dan vulkanik.
Baca Juga: Keunggulan Truk LNG dibanding Truk Konvensional, Tak Cuma Irit!
4. Energi Gravitasi
Gaya tarik gravitasi antara Bumi, Bulan, dan Matahari menghasilkan energi mekanik yang sangat besar dalam bentuk pasang surut laut. Dinamika samudra ini membawa energi kinetik yang diperkirakan mencapai skala terawatt secara global.
Teknologi seperti Tidal Stream Generators digunakan untuk menangkap energi tersebut. Meskipun potensinya besar dan sangat dapat diprediksi, pemanfaatannya masih terbatas oleh biaya infrastruktur yang tinggi serta tantangan lingkungan laut seperti korosi.
5. Energi Fosil
Secara teknis, energi fosil dapat dipandang sebagai energi matahari yang terkurung. Energi ini berasal dari proses fotosintesis jutaan tahun lalu, ketika tumbuhan dan organisme laut menyerap energi matahari, kemudian terkubur dan berubah menjadi batu bara, minyak bumi, dan gas alam.
Meskipun secara total kuantitas energi yang tersimpan dalam bahan bakar fosil jauh lebih kecil dibandingkan energi matahari atau panas internal Bumi, energi fosil menjadi dominan secara ekonomi karena kepadatan energinya yang sangat tinggi (energy density) serta kemudahan penyimpanan dan distribusinya.
Namun, batu bara dan minyak bumi memicu dampak peningkatan emisi gas rumah kaca, sehingga mendorong dunia untuk mencari sumber energi yang lebih bersih tanpa sepenuhnya mengorbankan kepadatan energi tersebut.
Solusi dari masalah tersebut yang paling stabil saat ini adalah gas alam, terutama Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair.
LNG menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan batu bara dan minyak, sekaligus mampu mempertahankan keunggulan energi fosil dalam hal keandalan dan fleksibilitas pasokan.
Baca Juga: Offtake Station Jadi Penentu Distribusi LNG Lancar, Ini Alasannya!
Apa Peran LNG dalam Lanskap Energi Modern?
Di tengah transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan, LNG berperan sebagai solusi transisi untuk menjembatani kebutuhan energi saat ini dengan target dekarbonisasi jangka panjang.
LNG merupakan gas alam yang dicairkan pada suhu sekitar –162 °C, sehingga volumenya menyusut hingga sekitar 600 kali. Keunggulannya memungkinkan penyimpanan dan distribusi lintas wilayah secara efisien.
Di antara bahan bakar fosil, LNG adalah yang paling rendah emisinya. Dibandingkan batu bara, pembakarannya menghasilkan emisi CO₂ sekitar 40–50% lebih rendah, serta hampir tidak menghasilkan emisi sulfur dan partikulat.
Karakteristik ini menjadikan LNG sebagai “jembatan energi” bagi sektor industri dan pembangkit listrik yang belum dapat sepenuhnya beralih ke elektrifikasi atau energi terbarukan intermiten.
Bagi operasional perusahaan dan industri, LNG menawarkan dua nilai strategis utama.
- Fleksibilitas pasokan, karena dapat diangkut dengan kapal tanker maupun truk, sehingga menjangkau wilayah yang tidak terhubung dengan jaringan pipa gas.
- Efisiensi dan kepatuhan lingkungan, karena membantu perusahaan memenuhi standar regulasi emisi yang semakin ketat tanpa mengorbankan keandalan pasokan energi.
Dengan menggabungkan kepadatan energi tinggi, emisi yang relatif lebih rendah, serta fleksibilitas distribusi global, LNG memainkan peran penting dalam memastikan bahwa transisi energi dapat berlangsung secara bertahap tanpa mengganggu stabilitas ekonomi dan operasional industri global.
Referensi:
- NASA. Diakses Tahun 2026. Solar Irradiance Science
- IAEA. Diakses Tahun 2026. Nuclear fuel cycle
- DoE. Diakses Tahun 2026. Marine Energy Basics
- EIA. Diakses Tahun 2026. Liquefied natural gas