Memahami pola kebutuhan energi di setiap sektor menjadi langkah penting bagi perusahaan dalam menyusun strategi diversifikasi energi. Pasalnya, kebutuhan energi nasional terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga bisnis perlu mengantisipasi risiko kenaikan biaya energi, gangguan pasokan, maupun tuntutan transisi menuju energi yang lebih hijau.
Dengan mengetahui sektor mana yang memiliki konsumsi energi terbesar dan bagaimana trennya berkembang, perusahaan dapat menentukan waktu dan strategi yang lebih tepat untuk mulai melakukan diversifikasi energi.
Hal ini semakin relevan mengingat di tahun 2024, Indonesia mencatat konsumsi energi final tertinggi dalam satu dekade terakhir, yakni mencapai 1.292,34 juta BOE (Barrel of Oil Equivalent) atau meningkat 4,53% dibandingkan tahun sebelumnya.
Di balik angka tersebut, terdapat empat sektor utama yang menjadi penyumbang konsumsi energi terbesar, yaitu industri, transportasi, rumah tangga, dan komersial. Lantas, sektor mana yang saat ini mendominasi konsumsi energi nasional?
Seperti Apa Data Konsumsi Energi di Indonesia?
Berdasarkan Handbook of Energy and Economic Statistics of Indonesia 2024 yang diterbitkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sektor industri masih menjadi pengonsumsi energi final terbesar di Indonesia pada 2024 dengan porsi hampir setengah dari total konsumsi nasional.
Posisi tersebut diikuti oleh sektor transportasi, rumah tangga, komersial, dan sektor lainnya, seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut.
| Sektor | Konsumsi (Juta BOE) | Share (%) |
| Industri | 586,25 | 45,36% |
| Transportasi | 460,78 | 36,65% |
| Rumah Tangga | 175,51 | 13,58% |
| Komersial | 58,36 | 4,52% |
| Sektor Lain | 11,44 | 0,89% |
Besarnya konsumsi energi di setiap sektor dipengaruhi oleh karakteristik aktivitasnya. Sektor industri mencakup berbagai kegiatan manufaktur dan pengolahan bahan baku, seperti smelter nikel dan baja, pabrik semen, tekstil, pupuk, hingga petrokimia.
Sementara itu, sektor transportasi mencakup seluruh moda angkutan orang dan barang, mulai dari kendaraan bermotor, truk logistik, penerbangan, hingga perkapalan domestik, dengan sekitar 85% konsumsi energinya berasal dari transportasi darat.
Adapun sektor rumah tangga menggunakan energi untuk memasak, penerangan, dan peralatan listrik. Di sisi lain, sektor komersial meliputi gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, dan fasilitas layanan publik yang sebagian besar menggunakan energi listrik untuk pendingin ruangan, pencahayaan, serta operasional bangunan.
Baca Juga: Mengenal Carbon Credits dan Bedanya Dengan Carbon Trading
Bagaimana Pergeseran Dominasi Terjadi dalam Satu Dekade?
Dominasi konsumsi energi di Indonesia bukanlah kondisi yang statis, melainkan terus berubah mengikuti perkembangan ekonomi dan industri.
Hingga pertengahan 2010-an, sektor transportasi masih menjadi pengonsumsi energi terbesar di Indonesia. Pada 2014, sektor ini menyumbang 45,08% dari total konsumsi energi nasional, sedangkan sektor industri hanya 32,04%.
| Tahun | Industri | Transportasi |
| 2014 | 32,04% | 45,08% |
| 2019 | 37,75% | 42,94% |
| 2022 | 44,56% | 37,67% |
| 2024 | 45,94% | 36,11% |
Namun, kondisi tersebut berubah dalam beberapa tahun berikutnya. Memasuki periode pasca-2020, konsumsi energi sektor industri meningkat pesat seiring berkembangnya industri hilirisasi mineral, seperti smelter nikel dan baja, sementara konsumsi energi sektor transportasi sempat menurun akibat pandemi COVID-19 dan pulih dengan laju yang lebih lambat.
Pergeseran tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Salah satu faktor utamanya adalah kebijakan yang mendorong hilirisasi mineral yang mewajibkan peningkatan nilai tambah mineral melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri sebelum diekspor.
Kebijakan ini kemudian mendorong pertumbuhan industri pengolahan, meningkatkan kebutuhan energi di sektor industri, dan pada akhirnya menggeser posisi transportasi sebagai sektor dengan konsumsi energi terbesar di Indonesia.
Baca Juga: Solusi LNG Bunkering untuk Operasional Pelayaran yang Andal
Apa Tantangan Energi yang Dihadapi Sektor Industri di Masa Depan?
Seiring meningkatnya konsumsi energi di sektor industri, tantangan yang dihadapi juga semakin kompleks. Hingga kini, industri di Indonesia masih sangat bergantung pada batu bara dan minyak bumi sebagai sumber energi utama.
Ketergantungan tersebut membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi harga energi global yang dapat meningkatkan biaya operasional, sekaligus menghadapi risiko gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik.
Di saat yang sama, investor dan pasar global juga semakin menuntut penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), sehingga perusahaan perlu mulai mengurangi ketergantungan pada sumber energi beremisi tinggi.
Tak berhenti di situ saja, target dekarbonisasi dan pencapaian net zero emissions mendorong sektor industri untuk beralih ke sumber energi yang lebih rendah emisi.
Tantangan ini akan semakin besar seiring proyeksi pertumbuhan aktivitas manufaktur dan hilirisasi yang diperkirakan terus meningkatkan kebutuhan energi di masa mendatang.
Oleh karena itu, industri perlu membangun sistem energi yang lebih andal, bersih, dan tidak bergantung pada satu sumber energi saja. Diversifikasi energi menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.
Baca Juga: Integrasi Smart Grid dan LNG: Kunci Penggerak Efisiensi Energi
Bagaimana Peran LNG dalam Diversifikasi Energi Sektor Industri?
Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair merupakan gas alam yang didinginkan hingga berubah menjadi bentuk cair. Proses ini membuat volume gas menyusut secara signifikan sehingga lebih mudah disimpan dan didistribusikan ke berbagai wilayah.
LNG menjadi salah satu alternatif yang semakin banyak dipertimbangkan sebagai energi transisi karena menghasilkan emisi karbon, partikulat, dan sulfur yang lebih rendah dibandingkan batu bara, sekaligus menawarkan efisiensi pembakaran yang tinggi.
Bahan bakar LNG juga dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik captive, boiler, furnace, maupun berbagai proses produksi yang membutuhkan energi termal. Karakteristik tersebut menjadikannya relevan bagi sektor industri, seperti smelter, industri logam, semen, petrokimia, kertas, hingga kawasan industri.
Dengan keunggulan yang dimiliki, LNG dapat menjadi solusi transisi yang membantu industri menjaga keandalan pasokan energi, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus mendukung pencapaian target dekarbonisasi.
Untuk dapat memanfaatkan LNG sebagai sumber energi, industri membutuhkan pasokan yang tidak hanya stabil, tetapi juga dikelola melalui rantai pasok yang aman, mulai dari penyimpanan, distribusi, hingga regasifikasi di lokasi operasional.
Tanpa dukungan infrastruktur dan keahlian yang memadai, potensi LNG sebagai solusi transisi energi sulit dimanfaatkan secara optimal oleh masing-masing sektor industri.
Karena itulah, PGN LNG Indonesia hadir sebagai mitra energi yang membantu industri memanfaatkan LNG secara optimal. Kami tidak hanya menyediakan pasokan LNG yang andal, tetapi juga menghadirkan solusi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional setiap industri.
Pelajari lebih lanjut bagaimana PGN LNG Indonesia dapat mendukung kebutuhan energi industri Anda, baca selengkapnya di sini: Penyedia LNG untuk Penuhi Kebutuhan Energi Industri.
Referensi
- ESDM. Diakses Tahun 2026. Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia 2024
- IEA. Diakses Tahun 2026. Indonesia
- ScienceDirect. Diakses Tahun 2026. Sustainability of Indonesia’s transportation sector energy and resources demand under the low carbon transition strategies