Industri berbasis pertanian dan perkebunan, seperti industri gula dan kelapa sawit, menghasilkan residu biomassa dari proses produksinya. Contohnya adalah bagasse (ampas tebu) dan residu padat kelapa sawit, seperti serat maupun cangkang.
Pemanfaatan biomassa tersebut memungkinkan perusahaan mengubah hasil samping produksi menjadi sumber energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm). Dengan langkah ini, perusahaan berpeluang memenuhi kebutuhan listriknya sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil.
Lantas, apa saja keunggulan PLTBm dan kapan pembangkit ini layak dipertimbangkan oleh perusahaan?
Apa Itu Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm)?
Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) adalah pembangkit listrik yang memanfaatkan biomassa sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi listrik. Dalam regulasi Indonesia, PLTBm juga tercantum sebagai salah satu jenis instalasi penyediaan tenaga listrik dari energi baru dan terbarukan.
Biomassa yang digunakan dapat berasal dari residu pertanian dan perkebunan, kehutanan, serta industri berbasis biomassa, seperti ampas tebu, serat dan cangkang kelapa sawit, sisa pengolahan kayu, sekam padi, serta residu industri pulp dan kertas.
Cara kerja PLTBm diawali dengan pembakaran biomassa untuk menghasilkan panas yang digunakan untuk memanaskan air hingga menjadi uap. Uap tersebut akan memutar turbin yang terhubung dengan generator sehingga menghasilkan listrik.
Namun, tidak semua biomassa dapat digunakan secara langsung karena karakteristiknya memengaruhi efisiensi pembakaran dan kinerja pembangkit.
Sebagai contoh, kadar air yang tinggi dapat mengurangi energi yang tersedia karena sebagian panas digunakan untuk menguapkan air, sedangkan ukuran partikel, densitas, kandungan abu, dan nilai energi turut menentukan kebutuhan pengolahan bahan bakar serta teknologi yang sesuai.
Baca Juga: PLTS Hybrid Solusi Hemat Listrik atau Sekadar Tren?
Apa Saja Keunggulan PLTBm?
PLTBm memiliki sejumlah keunggulan yang relevan bagi industri, khususnya perusahaan yang menghasilkan atau memiliki akses terhadap residu biomassa.
Keunggulan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek akses energi terbarukan, tetapi juga pemanfaatan sumber daya dan fleksibilitas pasokan energi.
Memanfaatkan Residu Produksi sebagai Sumber Energi
Salah satu keunggulan PLTBm adalah kemampuannya mengubah residu dari aktivitas pertanian, perkebunan, kehutanan, dan industri menjadi sumber energi.
Industri gula dapat memanfaatkan ampas tebu sebagai bahan bakar, sedangkan industri kelapa sawit dapat menggunakan serat dan cangkang sawit.
Residu kayu dari industri pulp dan kertas juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber. Pemanfaatan ini memberikan manfaat ganda karena hasil samping produksi tidak hanya dikelola sebagai residu, tetapi juga digunakan untuk menghasilkan listrik.
Berpotensi Memanfaatkan Sumber Energi Lokal
Biomassa yang tersedia di sekitar lokasi industri berpotensi menjadi sumber bahan bakar lokal, sehingga kebutuhan untuk mendatangkan bahan bakar dari lokasi yang jauh dapat berkurang.
Namun, perusahaan perlu mempertimbangkan jumlah dan kontinuitas pasokan, jarak pengangkutan, biaya pengumpulan, serta kebutuhan fasilitas penyimpanan.
Jika residu tersebar di banyak lokasi atau jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan pembangkit, biaya pengadaan dan transportasi dapat meningkat.
Karena itu, pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi lokal perlu didukung rantai pasok yang stabil agar pembangkit dapat beroperasi secara ekonomis.
Dapat Menyediakan Listrik Secara Lebih Terukur
PLTBm memiliki karakteristik dispatchable, yaitu listriknya dapat dihasilkan sesuai kebutuhan selama bahan bakar tersedia dan pembangkit beroperasi dengan baik. Hal ini berbeda dengan PLTS dan PLTB yang produksi listriknya dipengaruhi oleh intensitas cuaca.
Bagi industri yang membutuhkan pasokan listrik untuk menjaga proses produksi tetap berjalan, karakteristik PLTBm dapat membantu mendukung keandalan sistem energi.
Namun, kemampuan PLTBm untuk beroperasi secara berkelanjutan tetap bergantung pada desain sistem, teknologi pembangkit, dan ketersediaan bahan bakar
Mendukung Pemanfaatan Energi Terbarukan
PLTBm dapat menjadi salah satu pilihan bagi perusahaan untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan dalam bauran energinya.
Di Indonesia, pemanfaatan biomassa untuk pembangkitan listrik juga tercermin dalam kebijakan pemerintah, termasuk Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2023 yang mengatur penggunaan biomassa sebagai campuran bahan bakar pada PLTU.
Bagi perusahaan, hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan biomassa dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi.
Baca Juga: Benarkah Carbon Trading Jadi Solusi Emisi atau Hanya Ilusi?
Apa Saja Tantangan dalam Pemanfaatan PLTBm?
Meskipun dapat memanfaatkan residu sebagai sumber energi, PLTBm tetap memiliki tantangan, terutama dalam menjaga pasokan biomassa agar mencukupi kebutuhan pembangkit.
Biomassa yang tersedia belum tentu dapat langsung digunakan karena jumlah, kualitas, lokasi, dan waktu ketersediaannya dapat berbeda-beda. Faktor-faktor tersebut juga memengaruhi biaya pengadaan bahan bakar dan kelancaran operasional pembangkit.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi:
- Ketersediaan bahan baku: Volume biomassa harus mencukupi kebutuhan pembangkit. Jika pasokan bersifat musiman, perlu menyiapkan sumber alternatif atau penyimpanan.
- Kualitas biomassa: Kadar air, nilai kalor, ukuran, densitas, dan kandungan abu memengaruhi energi yang dapat dihasilkan dan kebutuhan pengolahan.
- Logistik: Jarak sumber biomassa, biaya pengangkutan, proses pengumpulan, dan fasilitas penyimpanan memengaruhi kelancaran pasokan.
- Keekonomian: Perusahaan perlu menghitung keseluruhan biaya, mulai dari pengadaan bahan baku, pengolahan awal, transportasi, penyimpanan, hingga operasi pembangkit.
Karena itu, sebelum menjadikan PLTBm sebagai sumber energi utama, perusahaan perlu melakukan feedstock assessment atau penilaian ketersediaan dan kualitas bahan baku, serta supply-chain planning atau perencanaan rantai pasok.
Langkah ini membantu memastikan bahwa biomassa tersedia dalam jumlah yang cukup, kualitas yang sesuai, dan biaya yang mendukung kelayakan operasional pembangkit.
Baca Juga: Carbon Capture and Storage Apakah Hanya Gimmick Hijau?
Kapan PLTBm Layak Dipertimbangkan sebagai Sumber Energi Perusahaan?
PLTBm layak dipertimbangkan ketika perusahaan memiliki beberapa kondisi yang mendukung, terutama:
- Terdapat sumber biomassa yang cukup.
- Pasokan tersedia secara konsisten.
- Jarak sumber biomassa masih ekonomis untuk diangkut.
- Karakteristik biomassa sesuai dengan teknologi pembangkit.
- Kebutuhan listrik perusahaan sesuai dengan kapasitas pembangkit.
- Tersedia fasilitas untuk handling dan storage.
Perusahaan yang menghasilkan residu biomassa sendiri berpotensi memperoleh keuntungan dari sisi akses bahan baku, tetapi tetap perlu menilai volume, kualitas, dan kontinuitas residu tersebut.
Sementara itu, perusahaan yang tidak menghasilkan biomassa sendiri masih dapat mempertimbangkan PLTBm selama tersedia rantai pasok yang andal dan ekonomis di sekitar lokasi.
Keputusan menggunakan PLTBm perlu mempertimbangkan profil kebutuhan listrik, keandalan pasokan, keseluruhan biaya, kesiapan rantai pasok, dan kebutuhan energi jangka panjang, bukan hanya keberadaan biomassa.
Dalam praktiknya, PLTBm juga dapat menjadi salah satu komponen energy mix atau bauran energi perusahaan, bersama sumber energi lain yang melengkapi kebutuhan operasional.
Ketika biomassa belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan energi perusahaan, sumber energi pendamping berperan dalam memasok energi tambahan yang dibutuhkan.
Salah satu opsi energi pendamping adalah LNG (Liquefied Natural Gas) karena mampu menghasilkan nilai energi yang tinggi dan memiliki fleksibilitas dalam distribusi menjangkau lokasi industri.
Baca Juga: Perbedaan Bahan Bakar Diesel vs. Bensin
Bagaimana LNG Dapat Mendukung Kebutuhan Energi Industri?
LNG dapat menjadi salah satu sumber energi pendamping bagi industri yang mengintegrasikan PLTBm ke dalam bauran energinya.
Ketika pasokan biomassa terbatas atau kebutuhan energi meningkat, LNG dapat mendukung pemenuhan kebutuhan energi melalui pembangkitan listrik maupun penyediaan panas untuk proses industri, bergantung pada teknologi yang digunakan.
Dengan demikian, perusahaan memiliki alternatif untuk menyesuaikan pasokan energi dengan kebutuhan operasionalnya.
Namun, pemanfaatan LNG sebagai pendamping PLTBm perlu didukung oleh sistem penyediaan yang sesuai dengan kebutuhan energi dan kondisi infrastruktur di lokasi operasional.
Hal ini penting agar perusahaan dapat mempertimbangkan ketersediaan pasokan gas, kebutuhan penyimpanan, distribusi, dan regasifikasi sebelum mengintegrasikan LNG ke dalam sistem energi.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, PGN LNG Indonesia menyediakan solusi LNG yang mencakup penyediaan, penyimpanan, distribusi, hingga regasifikasi. Layanan ini dapat menjadi salah satu opsi bagi perusahaan yang ingin mengeksplorasi pemanfaatan LNG sebagai pendukung kelangsungan operasional industri.
Kenali solusi layanan LNG yang sesuai untuk kebutuhan energi dan operasional perusahaan Anda di sini: Penyedia LNG di Indonesia.
Referensi
- ESDM. Diakses Tahun 2026. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 12 Tahun 2023
- ESDM. Diakses Tahun 2026. World Biofuel Day
- IRENA. Diakses Tahun 2026. Solid Biomass Supply for Heat and Power: Technology Brief
- ERIA. Diakses Tahun 2026. Development of the Bioenergy Supply Chain in AZEC Partner Countries