Cara Kerja Geothermal Ubah Panas Bumi Jadi Listrik, Ini Alurnya

Web Editor
17/02/2026
cara-kerja-geothermal

Energi panas bumi atau geothermal di Indonesia memiliki potensi yang sangat menjanjikan. Bahkan, menurut data Kementerian ESDM, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai produsen listrik panas bumi terbesar di dunia.

Meski demikian, saat ini baru sekitar 10% dari potensi geothermal yang dapat dikelola. Jika dimanfaatkan secara penuh, energi ini bisa menjadi solusi energi bersih di masa depan karena menawarkan banyak keunggulan dibandingkan batu bara.

Lantas, apa yang membuat geothermal begitu menjanjikan di Indonesia dan bagaimana cara kerja pembangkit listrik panas bumi dalam menghasilkan energi listrik? Simak penjelasan lengkapnya di artikel ini.

Apakah Geothermal Termasuk Energi Terbarukan?

Ya, benar sekali. Energi geothermal dikategorikan sebagai energi terbarukan (renewable energy). Berdasarkan karakteristik sumber energinya, geothermal berasal dari panas internal bumi yang dihasilkan secara alami dan bersifat berkelanjutan.

Selama inti bumi tetap panas, sangat kecil kemungkinannya energi tersebut habis dalam skala waktu manusia. Namun, terdapat catatan penting yang perlu diperhatikan.

Meskipun sumber energinya terbarukan, pemanfaatan geothermal tetap memerlukan manajemen reservoir yang memadai.

Baca Juga: Benarkah Geothermal Solusi Hijau atau Punya Risiko Tersembunyi?

Sumber Energi Geothermal Berasal Mana?

Energi panas bumi berasal dari aktivitas magma dan panas inti bumi yang temperaturnya mencapai lebih dari 5.000 derajat Celsius. Panas ini merambat keluar melalui lapisan batuan menuju kerak bumi.

Di beberapa lokasi tertentu, panas tersebut bersentuhan dengan air tanah yang terperangkap dalam batuan berpori, sehingga membentuk reservoir panas bumi. Reservoir ini berisi air panas atau uap bertekanan tinggi.

Wilayah dengan potensi geothermal terbesar umumnya berada di sepanjang batas lempeng tektonik atau kawasan Cincin Api (Ring of Fire).

Indonesia, yang terletak di jalur ini, memiliki salah satu potensi panas bumi terbesar di dunia, mencakup hampir 40% dari total potensi global. Keberadaan gunung berapi aktif menjadi indikator kuat adanya sistem hidrotermal yang kaya di bawah permukaan tanah.

Baca Juga: Kupas Tuntas Minyak Bumi lewat Jenis dan Pengolahannya

Bagaimana Cara Kerja Geothermal Menghasilkan Listrik?

Proses konversi energi geothermal menjadi listrik melibatkan proses yang kompleks, mulai dari pengeboran, konversi energi, dan distribusi. Berikut proses lengkapnya:

1. Pengeboran dan Pengambilan Fluida Panas Bumi

Langkah awal dimulai dengan pengeboran sumur produksi hingga kedalaman sekitar 1.500-3.000 meter untuk mencapai reservoir panas bumi. Melalui sumur ini, fluida panas bumi yang berupa air panas bertekanan tinggi dialirkan ke permukaan tanah.

Karena tekanan di permukaan lebih rendah dibandingkan tekanan di dalam reservoir, sebagian air panas tersebut sering kali berubah menjadi uap secara spontan melalui proses yang dikenal sebagai flashing.

2. Konversi Energi Panas Menjadi Energi Mekanik

Uap yang dihasilkan kemudian diarahkan untuk memutar bilah-bilah turbin. Di sinilah terjadi perubahan energi dari energi panas (termal) menjadi energi gerak (mekanik).

Berdasarkan karakteristik fluidanya, terdapat tiga jenis sistem pembangkitan utama:

  • Dry steam: uap yang langsung berasal dari sumur digunakan untuk memutar turbin.
  • Flash steam: sistem di mana air panas bersuhu tinggi diubah menjadi uap dengan menurunkan tekanannya secara cepat.
  • Binary cycle: menggunakan air panas bumi untuk memanaskan cairan kedua (cairan kerja) yang memiliki titik didih rendah. Uap dari cairan kedua inilah yang kemudian memutar turbin.

3. Pembangkitan Listrik dan Distribusi

Turbin yang berputar terhubung langsung dengan poros generator. Di dalam generator terjadi perputaran rotor yang membawa medan magnet menginduksi arus listrik pada stator.

Selanjutnya, arus listrik dialirkan menuju transformator untuk dinaikkan tegangannya sebelum didistribusikan ke jaringan transmisi PLN atau industri.

Salah satu aspek terpenting dalam siklus ini adalah sistem reinjeksi. Fluida yang telah mendingin setelah memutar turbin tidak dibuang ke lingkungan, melainkan dimasukkan kembali ke dalam tanah melalui sumur reinjeksi.

Tujuannya adalah untuk menjaga keseimbangan volume fluida dan tekanan reservoir, sehingga produksi uap dapat tetap stabil dalam jangka panjang.

Baca Juga: 6 Penyebab Pemanasan Global dan Dampaknya

Apa Kelebihan Geothermal sebagai Sumber Energi?

Energi panas bumi memiliki beberapa kelebihan yang sulit ditandingi, baik oleh energi fosil maupun energi terbarukan lainnya.

Pembangkit berbasis geothermal menghasilkan emisi karbon yang sangat rendah dibandingkan pembangkit listrik berbasis fosil, sehingga selama operasionalnya, gas rumah kaca yang dilepaskan jauh lebih sedikit dibanding pembangkit listrik tenaga batu bara.

Selain itu, pembangkit geothermal mampu beroperasi 24/7 secara konsisten. Artinya, mampu menyediakan pasokan listrik yang stabil, berbeda dengan energi surya dan angin yang sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Pembangkit ini juga memiliki efisiensi penggunaan lahan yang tinggi, karena hanya membutuhkan area yang relatif lebih kecil per megawatt (MW) dibandingkan pembangkit listrik tenaga surya atau angin skala besar.

Baca Juga: Nuklir untuk Energi, Jalan Menuju Kemajuan atau Penuh Risiko?

Apa Kekurangan dan Keterbatasan Geothermal?

Meskipun dinilai sangat andal sebagai sumber pasok energi, pengembangan geothermal memiliki tantangan yang kompleks.

Pembangkit geothermal umumnya hanya dapat dibangun di area spesifik dengan aktivitas geologi tertentu, yang sering kali berlokasi di daerah pegunungan dan sulit diakses.

Tahap eksplorasi dan pengeborannya juga memerlukan investasi hingga triliunan rupiah, bahkan sebelum ada kepastian bahwa uap panas bumi tersebut dapat diproduksi secara komersial.

Tidak hanya itu saja, terdapat risiko geologis berupa sumur kering, yaitu kondisi ketika pengeboran tidak menemukan sumber panas yang cukup. Risiko ini dapat menyebabkan kerugian finansial yang besar pada tahap awal proyek.

Waktu pengembangannya pun relatif lama, karena proses dari survei awal hingga operasional penuh dapat memakan waktu sekitar 7 hingga 10 tahun.

Baca Juga: Apa Itu Gas Metana? Kenali Sumber dan Kegunaannya

Bagaimana Peran LNG sebagai Solusi Pelengkap Keterbatasan Geothermal?

Mengingat pengembangan energi geothermal membutuhkan waktu yang relatif lama dan terbatasnya lokasi yang potensial, Liquefied Natural Gas (LNG) hadir sebagai solusi strategis untuk mendukung pasokan energi yang bersih dan stabil.

Dalam era transisi energi, LNG berperan sebagai bridge energy atau energi jembatan yang melengkapi karakteristik geothermal.

Dari perspektif keberlanjutan, LNG memiliki emisi karbon yang jauh lebih rendah, sekitar 40–50% lebih rendah dibandingkan batu bara, sehingga secara signifikan mampu mengurangi beban emisi karbon.

Secara lebih spesifik, dengan memanfaatkan LNG sebagai pelengkap geothermal, LNG memiliki beberapa peran krusial:

  • Mendukung pembangkit listrik beban puncak (peaker), sehingga dapat memberikan dukungan instan saat permintaan listrik melonjak.
  • Menjangkau wilayah yang sulit diakses, karena LNG mampu memasok energi ke area yang tidak terlayani jaringan pipa gas atau wilayah yang belum siap mengembangkan energi terbarukan.
  • Menjaga stabilitas energi industri melalui kombinasi geothermal sebagai base load dan LNG sebagai energi pendukung menciptakan kestabilan pasokan listrik secara andal.

Dengan pendekatan ini, pasokan listrik tetap stabil tanpa mengorbankan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Geothermal menyediakan fondasi energi yang kokoh, sementara LNG menawarkan fleksibilitas yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan energi nasional.

 

Referensi:

  • Kementerian ESDM. Diakses Tahun 2026. Indonesia Siap Jadi Negara Produsen Listrik Panas Bumi Terbesar Dunia 
  • DOE. Diakses Tahun 2026. Geothermal Electricity Generation 
  • EIA. Diakses Tahun 2026. Geothermal explained 
  • IEA. Diakses Tahun 2026. The Role of Gas in Today’s Energy Transitions