Jenis-jenis Bahan Bakar Minyak yang Mulai Tergeser oleh LNG

Web Editor
12/03/2026
jenis-bahan-bakar-minyak

Bahan bakar minyak (BBM) punya sejarah panjang sebagai penggerak sektor industri dan transportasi. Namun, di tengah kekhawatiran dunia global akan dampak emisi, muncullah beragam regulasi yang membatasi penggunaan BBM berintensitas karbon tinggi.

Penerapan standar emisi yang lebih ketat membuat pelaku industri perlu mencari alternatif energi yang mampu menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memenuhi ketentuan regulasi. Salah satu opsi terbaiknya adalah Liquefied Natural Gas (LNG). Bukan hanya karena emisinya lebih rendah dibandingkan BBM, tetapi ada keunggulan lain yang sulit tersaingi.

Apa Saja Jenis Bahan Bakar Minyak yang Tergeser LNG?

Transisi dari minyak ke gas tidak terjadi secara serentak di semua sektor, melainkan menyasar bahan bakar dengan jejak karbon dan polusi tertinggi.

Heavy Fuel Oil (HFO) di Industri Pelayaran

Selama puluhan tahun, Heavy Fuel Oil (HFO) atau minyak residu berat menjadi bahan bakar utama bagi kapal kargo, tanker, dan kapal pesiar di seluruh dunia. HFO banyak digunakan karena harganya relatif murah, tetapi memiliki kelemahan utama berupa kandungan sulfur yang tinggi.

Perubahan besar terjadi ketika International Maritime Organization (IMO) memberlakukan regulasi IMO 2020 yang membatasi kadar sulfur maksimum dalam bahan bakar kapal dari 3,5% menjadi 0,5%.

Kebijakan ini mendorong industri pelayaran untuk menyesuaikan strategi operasionalnya. Para pemilik kapal kemudian memiliki beberapa opsi:

  • Memasang scrubber untuk membersihkan gas buang
  • Beralih ke alternatif yang lebih bersih seperti LNG

LNG secara alami memiliki kandungan sulfur yang sangat rendah, sehingga mampu memenuhi ketentuan IMO tanpa memerlukan sistem pembersihan tambahan untuk emisi sulfur.

Baca Juga: Karakteristik Low Sulphur Fuel Oil dan Manfaatnya

Marine Gas Oil (MGO) dan Marine Diesel Oil (MDO)

Bagi operator kapal yang tidak lagi menggunakan HFO, pilihan penggantinya biasanya Marine Gas Oil (MGO) atau Marine Diesel Oil (MDO). Kedua jenis bahan bakar ini tergolong distillate fuel yang lebih encer dan memiliki kandungan sulfur lebih rendah dibandingkan HFO.

Namun, penggunaan MGO dan MDO perlu biaya operasional tinggi dibandingkan HFO. Meski lebih bersih dari sisi sulfur dan partikulat, keduanya tetap menghasilkan emisi karbon dioksida dalam jumlah signifikan.

Sebagai alternatif, LNG menawarkan potensi penurunan emisi CO₂ sekitar 20–25% dibandingkan bahan bakar minyak maritim konvensional, serta hampir tidak menghasilkan emisi sulfur.

Solar Industri (High-Speed Diesel) untuk Genset dan Pembangkit

High-Speed Diesel (HSD) atau solar industri masih menjadi andalan untuk captive power plant di kawasan industri, pertambangan, serta pembangkit listrik di daerah terpencil.

Namun, ketergantungan pada solar industri membawa risiko finansial akibat volatilitas harga minyak global yang dapat memengaruhi biaya operasional. Dari sisi lingkungan, faktor emisi karbon diesel terbilang cukup tinggi. Dilihat dari masalah ini, LNG bisa menjadi solusi.

Di berbagai negara, perusahaan pertambangan dan manufaktur mulai mengonversi mesin diesel menjadi mesin berbahan bakar LNG untuk menekan biaya bahan bakar, mengurangi emisi karbon, dan polutan lokal.

Baca Juga: Perbedaan High Speed Diesel dengan Solar dan Keunggulannya

Fuel Oil dan Minyak Bakar untuk Boiler Industri

Sektor industri berat yang mengoperasikan furnace, kiln, dan boiler berkapasitas besar kerap menggunakan minyak bakar atau fuel oil sebagai sumber energi termal. Pembakaran bahan bakar jenis ini dapat menghasilkan emisi partikulat dan sulfur oksida (SOx) dalam jumlah besar.

Selain merusak lingkungan, emisi sulfur berpotensi meningkatkan risiko korosi pada komponen boiler dan sistem cerobong akibat pembentukan senyawa asam.

Beralih ke LNG menawarkan sejumlah keuntungan, misalnya menghasilkan pembakaran yang lebih bersih dengan kandungan sulfur mendekati nol dan tanpa residu karbon padat.

Diesel pada Transportasi Berat dan Logistik

Transportasi logistik jarak jauh selama ini sangat identik dengan mesin diesel karena kemampuannya menghasilkan torsi tinggi dan efisiensi bahan bakar. Meskipun teknologi diesel modern telah mengalami peningkatan dalam pengendalian emisi, tekanan terhadap dekarbonisasi sektor transportasi mendorong pencarian alternatif yang lebih rendah emisi.

Di sejumlah wilayah seperti Eropa dan China, LNG mulai dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk truk heavy-duty jarak jauh. Kendaraan ini mampu menghasilkan emisi partikulat yang jauh lebih rendah serta tingkat kebisingan mesin yang lebih halus dibandingkan diesel.

Baca Juga: Keunggulan Truk LNG dibanding Truk Konvensional, Tak Cuma Irit!

Apa Keunggulan LNG Dibanding Bahan Bakar Minyak?

Dalam pemanfaatannya sebagai sumber energi, LNG dinilai memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan bahan bakar minyak, terutama dari sisi profil emisi dan kebersihan pembakaran.

Secara umum, LNG memiliki karakteristik emisi yang lebih rendah:

  • Hampir nol emisi sulfur (SOx).
  • Penurunan emisi nitrogen oksida (NOx) sekitar 70–85%.
  • Pengurangan emisi karbon dioksida (CO₂) sekitar 15–25% dibandingkan diesel atau fuel oil.

Dari sisi teknis, mesin berbahan bakar gas mampu menghasilkan pembakaran yang lebih bersih karena gas tercampur lebih merata dengan udara sebelum proses pembakaran. Hal ini meminimalkan pembentukan residu karbon padat dan dapat membantu mengurangi kebutuhan pembersihan serta perawatan ruang bakar.

Efisiensi termal mesin LNG dapat menyamai mesin diesel konvensional, sehingga tetap mampu menghasilkan output energi yang stabil untuk kebutuhan industri maupun transportasi berat.

Selain itu, penggunaan LNG kerap dikaitkan dengan strategi ESG (Environmental, Social, and Governance) karena membantu perusahaan menurunkan intensitas emisi dan meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang semakin ketat.

Referensi: