5 Top Negara Penghasil Minyak Bumi: Indonesia Urutan Berapa?

02 Okt 26
top-negara-penghasil-minyak-bumi-indonesia-urutan-berapa

Produksi minyak bumi dunia masih terkonsentrasi pada sejumlah negara. Kelompok negara yang berada di jajaran produsen terbesar relatif tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir. EIA (U.S. Energy Information Administration) mencatat lima negara penghasil crude oil terbesar mampu menyumbang sekitar 52% produksi minyak dunia.

Besarnya produksi minyak di sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh cadangan minyak, tetapi juga kemampuan mengembangkan sumber daya tersebut melalui beragam strategi. Lantas, negara mana saja yang menjadi penghasil minyak bumi terbesar saat ini dan Indonesia ada di urutan berapa?

 

5 Negara Penghasil Minyak Bumi Terbesar di Dunia

Peringkat negara penghasil minyak bumi terbesar berikut berdasarkan data produksi 2025 dari International Energy Statistics yang dirilis oleh EIA. Data tersebut menunjukkan produksi minyak mentah secara global.

Peringkat Negara Produksi Minyak
1 Amerika Serikat 13,586 juta barel/hari
2 Rusia 9,885 juta barel/hari
3 Arab Saudi 9,556 juta barel/hari
4 Kanada 4,964 juta barel/hari
5 Irak 4,388 juta barel/hari

Besarnya produksi menunjukkan bahwa negara-negara tersebut memiliki peran penting dalam pasokan minyak global.

Perubahan produksi dari produsen utama dapat memengaruhi keseimbangan pasokan di pasar dunia, sehingga perkembangan produksi di negara-negara tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam dinamika harga minyak global.

Baca Juga: Jenis-jenis Minyak Bumi dan Pengolahannya

 

Mengapa Negara-negara Ini Mendominasi Produksi Minyak Bumi? 

Negara-negara penghasil minyak bumi terbesar umumnya memiliki kombinasi sumber daya yang besar dan kemampuan untuk mengembangkannya menjadi produksi dalam skala tinggi.

Ketersediaan cadangan menjadi fondasi penting, tetapi kemampuan pengembangan perlu didukung oleh teknologi, investasi, infrastruktur, serta ekosistem industri yang memungkinkan produksi dipertahankan dalam jangka panjang. 

Amerika Serikat menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dan peningkatan produktivitas dapat mendukung produksi minyak dalam skala besar.

Kemajuan dalam kegiatan pengeboran dan produksi membantu negara tersebut mempertahankan tingkat output yang tinggi. Hasilnya, EIA mencatat produksi crude oil AS mencapai rekor 13,6 juta barel per hari pada 2025.

Baca Juga: Dampak Negatif Minyak Bumi, Tak Hanya Picu Emisi

 

Indonesia Berada di Urutan Berapa sebagai Penghasil Minyak Bumi? 

Indonesia berada di peringkat ke-25 sebagai negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia pada 2025, dengan produksi minyak mentah sebesar 582 ribu barel per hari.

Posisi ini berada di antara Inggris di peringkat ke-24 dengan 616 ribu barel per hari dan India di peringkat ke-26 dengan 581 ribu barel per hari.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa kapasitas produksi minyak Indonesia masih relatif kecil dalam skala global, sementara kebutuhan domestiknya jauh lebih besar. EIA mencatat konsumsi minyak di Indonesia mencapai sekitar 1,69 juta barel per hari, hampir tiga kali lipat dari kemampuan produksi minyak, yaitu sebesar 582 ribu barel per hari.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa produksi dalam negeri belum mencukupi seluruh kebutuhan minyak domestik, sehingga Indonesia perlu memastikan ketersediaan pasokan energi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Baca Juga: Masih Amankah Cadangan Minyak Bumi Indonesia untuk 10 Tahun Lagi?

 

Apa Tantangan Industri Jika Masih Bergantung pada Minyak Bumi?

Kebutuhan minyak domestik yang lebih besar daripada produksi nasional membuat Indonesia masih membutuhkan pasokan dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.

Kondisi ini menunjukkan bahwa industri yang bergantung pada minyak bumi memiliki kerentanan terhadap perubahan harga minyak global, kondisi geopolitik, serta potensi gangguan pada rantai pasok energi. 

Sektor seperti pertambangan, smelter, pelayaran, pembangkit, dan manufaktur yang membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar dapat terdampak ketika biaya energi mengalami kenaikan. Kenaikan harga BBM dapat meningkatkan biaya transportasi dan operasional, menaikkan biaya produksi, serta pada kondisi tertentu menekan margin perusahaan.

Perusahaan juga dapat menghadapi tekanan daya saing apabila biaya energinya lebih mahal dibandingkan kompetitor yang memiliki akses energi yang lebih efisien.

Karena itu, peningkatan produksi minyak saja tidak otomatis menghilangkan seluruh risiko energi bagi industri. Diversifikasi sumber energi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan bakar serta mengelola risiko biaya dan pasokan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Kekurangan Minyak Bumi: Perlukah Beralih ke Energi Alternatif?

 

Mengapa Diversifikasi Energi Semakin Penting bagi Industri? 

Diversifikasi energi semakin penting karena industri perlu menjaga keandalan pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan bakar. Ketergantungan pada minyak bumi membuat biaya serta operasional industri lebih terpengaruh oleh perubahan harga dan kondisi pasokan energi global.

Dengan menggunakan kombinasi beberapa sumber energi, perusahaan dapat memiliki alternatif pasokan yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan operasional. Diversifikasi juga dapat membantu perusahaan mengelola intensitas emisi dengan meningkatkan penggunaan sumber energi yang menghasilkan emisi lebih rendah.

Diversifikasi tidak berarti perusahaan harus langsung mengganti seluruh penggunaan minyak atau mengubah fasilitas yang sudah ada. Penerapannya dapat dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan energi, karakteristik peralatan, dan kesiapan infrastruktur di masing-masing lokasi.

Karena itu, industri membutuhkan sumber energi yang tidak hanya mampu menyediakan pasokan secara stabil dan fleksibel, tetapi juga memiliki intensitas emisi yang lebih rendah dibandingkan sebagian bahan bakar fosil lainnya. Dalam konteks ini, LNG (Liquefied Natural Gas) dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung diversifikasi energi industri.

Baca Juga: Alternatif Pengganti Minyak Bumi, Ini yang Ramah Lingkungan!

 

LNG sebagai Solusi Energi Transisi bagi Industri 

LNG dapat menjadi salah satu opsi diversifikasi energi bagi industri yang membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar.

LNG adalah gas bumi yang dicairkan agar lebih mudah didistribusikan, kemudian dikirim menggunakan kapal atau truk menuju lokasi tujuan. Model distribusi ini memungkinkan gas bumi menjangkau lokasi industri tanpa bergantung sepenuhnya pada jaringan pipa.

Dari sisi emisi, LNG dapat menjadi opsi energi transisi dengan emisi lebih rendah dibandingkan batu bara. Karena itu, bagi industri, LNG dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi selama masa transisi menuju sistem energi dengan emisi yang lebih minim.

Agar pemanfaatannya dapat mendukung operasional industri secara optimal, LNG perlu tersedia dengan pola distribusi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lokasi. Perbedaan skala konsumsi, lokasi operasional, dan akses terhadap infrastruktur gas membuat setiap industri memiliki kebutuhan yang berbeda.

PGN LNG Indonesia hadir sebagai mitra yang mendukung kebutuhan LNG industri melalui layanan yang mencakup supply, storage, distribution, dan regasification, sehingga pasokan energi tetap andal.

Ingin tahu solusi LNG apa saja yang kami berikan untuk industri Anda? Simak selengkapnya di sini: Penyedia LNG di Indonesia. 

 

Referensi

  • EIA. Diakses Tahun 2026. Crude oil including lease condensate production 2025
  • EIA. Diakses Tahun 2026. U.S. crude oil production rose in 2025, setting new record
  • IEA. Diakses Tahun 2026. World Energy Outlook 2025 – Executive summary
  • ESDM. Diakses Tahun 2026. Pasang Target Lifting Minyak 610 Ribu Barel di 2026, Ini Jurus Menteri ESDM Hadapi Tantangan Produksi

 

Bagikan Artikel
Berita Lainnya