Seberapa Besar Potensi PLTS Atap Menggeser Peran Batu Bara?

01 Okt 26
seberapa-besar-potensi-plts-atap-menggeser-peran-batu-bara

Industri seperti pertambangan, smelter, manufaktur, dan pengolahan membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar dan stabil untuk menjaga kelancaran operasional. Hingga kini, batu bara masih berperan penting dalam memenuhi kebutuhan energi tersebut.

Berdasarkan Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara 2025, 57,27% penyerapan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara digunakan untuk PLTU, sedangkan 30,91% atau sekitar 76,3 juta ton diserap sektor metalurgi/smelter. 

Di sisi lain, kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan emisi mendorong industri mencari sumber energi yang lebih rendah emisi. PLTS Atap menjadi salah satu opsi karena memungkinkan perusahaan memanfaatkan listrik dari energi surya untuk memenuhi sebagian kebutuhan listriknya.

Namun, seberapa besar PLTS Atap dapat menggeser peran batu bara sebagai sumber energi utama industri?

 

Apa Itu PLTS Atap?

PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) Atap merupakan sistem pembangkit listrik yang memanfaatkan modul fotovoltaik yang dipasang pada atap atau bagian bangunan untuk mengubah radiasi matahari menjadi energi listrik.

Cara kerja sistem ini adalah ketika sinar matahari mengenai sel fotovoltaik, energi dari radiasi tersebut memicu pergerakan elektron sehingga menghasilkan listrik dalam bentuk arus searah (Direct Current/DC).

Listrik yang dihasilkan kemudian dialirkan menuju inverter, yaitu komponen yang mengubah arus DC menjadi arus bolak-balik (Alternating Current/AC). Setelah dikonversi, listrik tersebut masuk ke instalasi listrik bangunan dan dapat digunakan untuk menjalankan peralatan operasional sesuai kebutuhan.

Pada fasilitas industri, listrik yang dihasilkan PLTS Atap dapat langsung dimanfaatkan ketika produksi listrik surya berlangsung, misalnya untuk membantu memasok kebutuhan mesin, sistem penerangan, maupun peralatan pendukung lainnya.

Sistem ini dapat dirancang tanpa baterai maupun dilengkapi baterai, tergantung kebutuhan dan desain instalasinya.

Baca Juga: PLTS Hybrid Solusi Hemat Listrik atau Sekadar Tren?

 

Seberapa Besar Potensi PLTS Atap untuk Kebutuhan Industri? 

Pemanfaatan PLTS Atap di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Berdasarkan data Ditjen EBTKE tahun 2026, kapasitas terpasang PLTS Atap nasional telah mencapai 916,99 MW. Sementara itu, Kementerian ESDM memperkirakan potensi PLTS Atap nasional mencapai 32,5 GW.

Namun, besarnya kebutuhan listrik industri tidak otomatis menentukan seberapa besar kapasitas PLTS Atap yang dapat dipasang.

Kapasitas yang dapat dimanfaatkan pada setiap fasilitas bergantung pada luas dan kondisi atap, kebutuhan serta pola penggunaan listrik, kapasitas daya yang tersedia, dan potensi radiasi matahari di lokasi.

Artinya, PLTS Atap dapat membantu memenuhi kebutuhan listrik industri, tetapi tidak menggantikan seluruh pasokan listrik yang dibutuhkan.

Pemanfaatannya akan semakin efektif ketika waktu produksi listrik dari panel surya sedang optimal, misalnya di siang hari. Namun, saat produksi listriknya menurun, perlu tambahan pasokan dari sumber listrik lain.

Baca Juga: Cocokkah PLTS On-Grid Sebagai Energi Utama Industri Berat?

 

Apakah PLTS Atap Dapat Menggeser Peran Batu Bara di Industri?

PLTS Atap dapat menggeser sebagian peran batu bara dalam pemenuhan kebutuhan listrik industri, tetapi belum dapat menggantikannya sepenuhnya sebagai sumber energi utama.

Besarnya pergeseran bergantung pada seberapa besar listrik yang dapat dihasilkan PLTS Atap dibandingkan dengan kebutuhan listrik industri. Ketika produksi listrik PLTS dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan listrik pada siang hari, kebutuhan pasokan listrik dari pembangkit berbahan bakar batu bara dapat berkurang.

Namun, pengurangan tersebut tidak berarti batu bara dapat sepenuhnya ditinggalkan. Industri dengan kebutuhan listrik besar tetap memerlukan pasokan ketika produksi PLTS menurun, terutama pada sore dan malam hari.

Karena itu, PLTS Atap lebih realistis berperan sebagai sumber listrik yang mengurangi sebagian porsi energi berbasis batu bara, bukan menggantikannya secara penuh, terutama pada industri dengan beban listrik besar.

Baca Juga: Seberapa Andal PLTS Off-Grid untuk Industri di Area Remote?

 

Apa yang Membatasi PLTS Atap Menggantikan Batu Bara Sepenuhnya? 

Produksi listrik PLTS Atap bergantung pada sinar matahari, sehingga tidak berlangsung secara konstan sepanjang hari. Kondisi ini menjadi kendala bagi industri yang membutuhkan pasokan listrik secara kontinu, terutama fasilitas dengan operasi 24/7.

Pada malam hari atau ketika produksi surya menurun, kebutuhan listrik tetap harus dipenuhi dari sumber lain. Luas dan kondisi atap juga membatasi kapasitas PLTS yang dapat dipasang, sehingga besarnya kebutuhan listrik industri belum tentu dapat diimbangi dengan kapasitas PLTS Atap yang tersedia di fasilitas tersebut.

Selain keterbatasan produksi dan kapasitas, batu bara pada beberapa sektor industri juga digunakan secara langsung dalam proses produksi, bukan hanya untuk menghasilkan listrik. Misalnya pada industri semen, batu bara digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan panas tinggi dalam proses pembuatan klinker.

Kebutuhan seperti ini tidak dapat digantikan secara langsung hanya dengan memasang PLTS Atap saja. Artinya, PLTS Atap tidak dapat secara langsung menggantikan seluruh fungsi batu bara.

Sebagai sumber listrik, PLTS Atap memiliki peluang besar untuk mengurangi penggunaan energi berbasis batu bara, tetapi penggantian sepenuhnya membutuhkan kombinasi sumber energi dan sistem pendukung lainnya.

Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan PLTS: Tepatkah Jadi Pengganti Fosil?

 

Mengapa Transisi Energi Industri Membutuhkan Kombinasi Sumber Energi? 

Keterbatasan PLTS Atap bukan berarti energi surya tidak relevan bagi industri. PLTS Atap tetap dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi energi untuk memenuhi sebagian kebutuhan listrik ketika sinar matahari tersedia.

Jika diperlukan, sistem penyimpanan energi dapat membantu memperpanjang pemanfaatan energi surya. Sementara sumber energi lain dapat digunakan ketika produksi PLTS tidak mencukupi.

Bagi industri dengan kebutuhan energi besar dan tuntutan operasional yang tinggi, mengombinasikan beberapa sumber energi lebih realistis daripada mengandalkan satu sumber untuk seluruh kebutuhan.

Dalam konteks ini, LNG (Liquefied Natural Gas) dapat menjadi salah satu opsi energi pendukung yang membantu menyediakan pasokan energi yang fleksibel dan andal, sekaligus mendukung upaya industri mengurangi ketergantungan pada bahan bakar dengan intensitas emisi yang lebih tinggi seperti batu bara.

Namun, penerapan kombinasi sumber energi juga perlu mempertimbangkan bagaimana setiap pasokan energi dapat tersedia dan disalurkan sesuai dengan kebutuhan operasional industri. Perbedaan lokasi dan skala konsumsi energi membuat setiap industri membutuhkan pendekatan penyediaan energi yang berbeda.

Karena itu, dukungan pasokan LNG yang andal menjadi bagian penting dalam pemanfaatannya sebagai sumber energi pendukung. PGN LNG Indonesia hadir sebagai mitra penyedia LNG yang mendukung kebutuhan energi industri melalui solusi penyediaan dan distribusi LNG untuk berbagai kebutuhan operasional dan lokasi yang terjangkau jaringan pipa.

Temukan solusi LNG yang tepat sesuai kebutuhan energi industri Anda di sini: Penyedia LNG di Indonesia.

 

Referensi

  • ESDM. Diakses Tahun 2026. Laporan Kinerja Ditjen Mineral dan Batubara Tahun 2025
  • ESDM. Diakses Tahun 2026. Kementerian ESDM Apresiasi Pengembangan PLTS Atap di Kawasan Industri Jababeka
  • Tata Power. Diakses Tahun 2026. Rooftop Solar/Rooftop Solar System

 

Bagikan Artikel
Berita Lainnya