Mengapa LNG Makin Menguntungkan Industri Manufaktur Modern?

30 Jul 26
Industri Manufaktur

Industri manufaktur hingga saat ini masih sangat bergantung pada batu bara dan minyak bumi sebagai sumber energi utama. Namun, ketergantungan tersebut membuat perusahaan rentan terhadap fluktuasi harga energi global dan gangguan pasokan yang dapat meningkatkan biaya produksi.

Di sisi lain, pelaku industri juga menghadapi tekanan untuk memenuhi regulasi emisi yang semakin ketat, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional agar tetap kompetitif di tengah persaingan bisnis.

Kondisi tersebut mendorong perusahaan manufaktur untuk mencari alternatif sumber energi yang mampu mendukung kebutuhan operasional sekaligus menjawab tuntutan efisiensi dan keberlanjutan. Salah satu opsi yang kini perlu dipertimbangkan adalah Liquefied Natural Gas (LNG).

 

Apa Tantangan Industri Manufaktur yang Masih Bergantung pada Batu Bara dan Minyak Bumi?

Ketergantungan pada batu bara dan minyak bumi membawa sejumlah tantangan bagi industri manufaktur, terutama dari sisi biaya operasional, kepatuhan terhadap regulasi, dan efisiensi proses produksi.

Salah satu tantangan utamanya adalah volatilitas harga energi yang dipengaruhi dinamika pasar global. Kondisi ini membuat perusahaan lebih sulit mengendalikan biaya operasional serta menyusun perencanaan anggaran produksi dalam jangka panjang.

Selain itu, pembakaran batu bara dan minyak bumi menghasilkan emisi karbon dioksida (CO2), sulfur oksida (SOx), nitrogen oksida (NOx), serta partikulat yang relatif tinggi. Akibatnya, perusahaan perlu melakukan berbagai upaya tambahan untuk memenuhi regulasi emisi dan mengurangi dampak lingkungan dari aktivitas operasional.

Dari sisi operasional, kedua sumber energi tersebut juga menghasilkan residu seperti abu dan jelaga yang dapat mempercepat penumpukan kotoran pada boiler maupun peralatan produksi. Dampaknya, kebutuhan perawatan mesin menjadi lebih tinggi dan efisiensi operasional dapat menurun seiring waktu.

Tak hanya berhenti di situ saja, proses penyimpanan dan distribusi bahan bakar padat maupun cair umumnya memerlukan infrastruktur serta penanganan yang lebih kompleks. Kondisi ini dapat menambah beban operasional, terutama bagi industri yang membutuhkan pasokan energi secara kontinu.

Berbagai tantangan tersebut mendorong banyak perusahaan manufaktur untuk mulai mempertimbangkan sumber energi alternatif yang lebih efisien, termasuk LNG.

Baca Juga: Karakteristik Low Sulphur Fuel Oil dan Manfaatnya

 

Mengapa LNG Lebih Menguntungkan Dibanding Batu Bara dan Minyak Bumi?

Dibandingkan batu bara dan minyak bumi, LNG menawarkan sejumlah keunggulan yang dapat memberikan nilai tambah bagi industri manufaktur. Manfaat tersebut tidak hanya terlihat dari aspek penggunaan energi, tetapi juga efisiensi operasional yang membantu meningkatkan daya saing industri.

Keunggulan dari Sisi Energi

LNG menghasilkan pembakaran yang lebih bersih dibandingkan batu bara dan minyak bumi karena emisi sulfur oksida (SOx), nitrogen oksida (NOx), serta partikulat yang dihasilkan jauh lebih rendah.

Karakteristik ini juga menghasilkan pembakaran yang lebih stabil dan konsisten sehingga cocok untuk kebutuhan industri manufaktur yang memerlukan pasokan energi tanpa gangguan.

Selain itu, penggunaan LNG dapat mengurangi emisi CO2 sekitar 25–30% daripada bahan bakar berbasis minyak bumi, serta menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan batu bara.

Keunggulan dari Sisi Operasional

Karena tidak menghasilkan residu padat seperti abu maupun jelaga, penggunaan LNG dapat mengurangi penumpukan kotoran pada boiler dan peralatan industri sehingga kebutuhan perawatan menjadi lebih rendah.

Proses pembakarannya yang efisien juga membantu meningkatkan thermal efficiency, sehingga energi dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

Selain sebagai bahan bakar utama, LNG juga dapat digunakan sebagai backup fuel, sehingga memberikan fleksibilitas operasional terutama bagi industri di wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa gas.

Keunggulan dari Sisi Bisnis

Selain memberikan manfaat teknis, penggunaan LNG juga didukung kebijakan pemerintah melalui skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), yaitu penetapan harga gas di titik serah konsumen (plant gate) dengan harga maksimal USD 6 per MMBTU, lebih rendah dibandingkan harga gas komersial yang umumnya berada pada kisaran USD 7–10 per MMBTU.

Skema ini berlaku bagi perusahaan yang memenuhi kriteria pada tujuh sektor industri, yaitu pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet, sebagaimana diatur dalam Permen ESDM No. 15 Tahun 2022 dan Kepmen ESDM No. 91.K/MG.01/MEM.M/2023.

Dengan harga energi yang lebih stabil dan kompetitif bagi sektor yang memenuhi persyaratan, perusahaan dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya saing dan daya tarik investasi.

Baca Juga: Manfaat Batu Bara dan Ancaman Risikonya, Ini Faktanya!

 

Mengapa LNG Makin Relevan dengan Perkembangan Industri Modern Saat Ini?

Seiring meningkatnya fokus global terhadap transisi energi, LNG semakin dipandang sebagai bridge fuel yang menjembatani penggunaan bahan bakar fosil konvensional menuju sistem energi yang lebih rendah karbon.

Bagi industri manufaktur, LNG menjadi pilihan yang relevan karena mampu membantu mengurangi emisi tanpa mengorbankan keandalan pasokan energi yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan proses produksi.

Di sisi lain, LNG juga berperan sebagai pelengkap bagi energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin yang bersifat intermiten atau bergantung pada kondisi cuaca. Dengan pasokan energi yang fleksibel dan andal sebagai flexible backup, LNG dapat membantu menjaga kontinuitas operasional industri.

Relevansinya pun terus meningkat seiring berkembangnya teknologi LNG yang lebih efisien serta penerapan teknologi carbon capture di berbagai proyek LNG untuk membantu menekan emisi di sepanjang rantai produksinya.

Untuk dapat memanfaatkan potensi LNG tersebut secara optimal, industri tidak hanya membutuhkan pasokan yang stabil, tetapi juga mitra yang memahami kompleksitas pengelolaannya, mulai dari distribusi ke lokasi operasional, penyimpanan, hingga regasifikasi.

Kebutuhan ini semakin krusial bagi industri manufaktur yang proses produksinya tidak bisa toleran terhadap gangguan pasokan energi sekecil apapun. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, PGN LNG Indonesia menghadirkan layanan LNG terintegrasi yang dirancang untuk mendukung kebutuhan energi di sektor industri.

Cari tahu solusi lengkap yang kami berikan untuk industri Anda, simak di sini: Penyedia LNG di Indonesia.

 

Referensi

  • EIA. Diakses Tahun 2026. The Role of Gas in Today’s Energy Transitions
  • McKinsey. Diakses Tahun 2026. The future of liquefied natural gas: Opportunities for growth
  • ESDM. Diakses Tahun 2026. Pokok-pokok Isi Permen ESDM Nomor 15 Tahun 2022
  • ESDM. Diakses Tahun 2026. Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM No. 91.K/MG.01/MEM.M/2023

 

Bagikan Artikel
Berita Lainnya