Salah satu keunggulan LNG (Liquefied Natural Gas) adalah fleksibilitas dalam distribusinya menjangkau wilayah yang tak tersentuh jaringan pipa gas. Fleksibilitas ini didukung oleh adanya fasilitas penting dalam rantai pasok LNG, yaitu offtake station.
Fasilitas ini tak hanya membantu memastikan kualitas LNG dan menjaga kontinuitas pasokan, tetapi juga menjadi penentu kelancaran distribusi di berbagai wilayah terpencil.
Apa Itu Offtake Station?
Offtake station adalah fasilitas infrastruktur yang berfungsi sebagai titik serah terima gas alam atau LNG dari fasilitas utama seperti terminal regasifikasi atau mini-LNG plant untuk didistribusikan ke pengguna akhir.
Umumnya, offtake station dapat menyalurkan gas hasil regasifikasi maupun LNG cair melalui moda distribusi non-pipa, sehingga memungkinkan sektor industri, pembangkit listrik, dan transportasi di wilayah yang tidak terjangkau jaringan pipa tetap memperoleh pasokan energi gas.
Baca Juga: Energi Alternatif Punya Kekurangan? Ini Solusinya
Apa Saja Komponen Utama dalam Offtake Station?
Offtake station LNG dilengkapi beberapa komponen utama untuk memastikan penyimpanan dan transfer LNG tetap aman dan efisien, mulai dari:
- LNG Storage/Buffer Tank: Tangki berinsulasi vakum ganda untuk menyimpan stok sementara.
- Loading Arm & Cryogenic Hose: Perangkat transfer LNG bersuhu sangat rendah tanpa risiko kebocoran atau kerusakan material.
- Vaporizer: Mengubah sebagian LNG menjadi gas sesuai kebutuhan.
- Pressure Control Unit: Menjaga kestabilan tekanan sistem.
- Safety System: Meliputi Emergency Shutdown (ESD), detektor gas, dan monitoring kriogenik untuk mencegah kecelakaan kerja.
- Flow Meter: Mengukur volume LNG yang ditransfer secara akurat untuk kepastian operasional dan transaksi.
Dengan komponen ini, offtake station dapat beroperasi secara aman dan efisien sambil menjaga LNG tetap pada suhu kriogenik sekitar -160 °C.
Baca Juga: Potensi Besar Energi Mikrohidro dan Tantangannya
Bagaimana Cara Kerja Offtake Station?
Fasilitas ini melibatkan rangkaian prosedur teknis yang sangat presisi, terukur, dan tidak boleh ada kesalahan sekecil apa pun.
Prosesnya menuntut koordinasi yang sinkron antara pengaturan tekanan, pemantauan suhu, dan kecepatan aliran secara simultan.
Berikut cara kerja offtake station dalam mendistribusikan LNG:
Proses Transfer LNG
Pada offtake station, proses transfer dimulai dengan pengaliran LNG dari tangki penyimpanan menuju buffer tank atau langsung ke loading bay.
Sebelum pemuatan, pipa dan selang transfer menjalani proses cool-down untuk mencegah thermal shock, sementara tekanan dan boil-off gas dikendalikan agar sistem tetap stabil.
LNG kemudian dipindahkan ke truk tangki menggunakan cryogenic hose berinsulasi tinggi guna meminimalkan perpindahan panas dan menjaga keselamatan serta efisiensi operasional.
Kontrol Keamanan (Safety Operations)
Keamanan merupakan aspek kritis dalam operasional offtake station berbasis LNG. Mengacu pada NFPA 59A, fasilitas LNG yang tercakup dalam standar ini harus dilengkapi Emergency Shutdown System (ESD) untuk menghentikan aliran LNG maupun gas secara otomatis saat terdeteksi kondisi abnormal.
Sistem ini juga didukung oleh pressure relief valve dan sistem mitigasi kriogenik untuk mengendalikan risiko kebocoran dan overpressure.
Selain itu, operator dan pengemudi truk wajib mematuhi SOP ketat guna memastikan seluruh koneksi transfer terpasang dengan aman dan kedap selama proses pemuatan.
Baca Juga: Mengenal Carbon Credits dan Bedanya Dengan Carbon Trading
Apa Fungsi Utama Offtake Station dalam Distribusi LNG?
Offtake station menjalankan peran pengendalian kualitas yang menentukan kelayakan energi sebelum dikirim ke konsumen. Berdasarkan poin tersebut, inilah fungsi utamanya dalam distribusi LNG:
Mengatur dan Mengontrol Aliran LNG
Pengaturan flow rate dilakukan untuk memastikan proses pengisian armada transportasi berjalan efisien dan aman.
Sistem kontrol dan otomatisasi, seperti PLC (Programmable Logic Controller) atau SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition), memungkinkan pemantauan tekanan dan temperatur secara real-time sehingga pembentukan boil-off gas akibat heat ingress dapat dikendalikan.
Menjamin Kualitas
Kualitas LNG dijaga melalui pengendalian sistem dan prosedur operasional yang ketat di offtake station.
Fasilitas ini umumnya memantau parameter operasional seperti tekanan, temperatur, dan kebocoran untuk memastikan LNG ditransfer dalam kondisi aman tanpa risiko kontaminasi.
Praktik ini sejalan dengan standar industri LNG di Indonesia, di mana kualitas produk dikendalikan sejak hulu, sementara aspek keselamatan seperti leak detection dan integritas sistem menjadi fokus utama selama proses distribusi ke pelanggan.
Mengoptimalkan Proses Loading dan Unloading
Offtake station berperan mengoordinasikan proses muat dan bongkar LNG melalui pengaturan jadwal serta alur kerja yang efisien antara fasilitas penyimpanan dan armada transportasi, sehingga waktu tunggu truk dapat ditekan.
Dalam operasionalnya, boil-off gas (BOG) yang terbentuk akibat heat ingress dikelola melalui pengendalian tekanan, pengembalian ke tangki penyimpanan, atau pemanfaatan sebagai fuel gas.
Proses ini diperlukan guna menjaga keselamatan sistem dan meminimalkan potensi kerugian operasional.
Baca Juga: Karakteristik Low Sulphur Fuel Oil dan Manfaatnya
Mengapa Offtake Station Menjadi Penentu Kelancaran Distribusi LNG?
Offtake station dinilai sebagai solusi dalam mengeliminasi hambatan distribusi yang sering terjadi pada logistik jarak jauh. Itulah kenapa menjadi kunci kelancaran distribusi LNG.
Berikut alasan fasilitas ini punya peran penting dalam infrastruktur LNG:
Mengurangi Bottleneck Distribusi
Keberadaan offtake station berperan penting dalam mengurangi potensi bottleneck pada rantai pasok LNG.
Dengan pengaturan throughput, jumlah loading bay, dan manajemen operasional yang tepat, fasilitas ini dapat melayani armada transportasi secara efisien dan meminimalkan antrean truk.
Dengan demikian, jadwal suplai ke pelanggan industri tetap terjaga tanpa mengorbankan keselamatan dan keandalan operasi.
Mendukung Fleksibilitas Distribusi LNG
Indonesia membutuhkan skema distribusi Small-Scale LNG untuk menjangkau wilayah kepulauan dan daerah terpencil.
Offtake station mendukung fleksibilitas distribusi dengan memungkinkan LNG disalurkan melalui berbagai moda non-pipa, seperti truk tangki dan ISO tank.
Pendekatan ini memberikan solusi pasokan energi yang lebih adaptif, khususnya bagi pembangkit listrik di daerah pelosok yang belum terhubung dengan infrastruktur gas konvensional.
Meminimalkan Risiko Gangguan Operasional
Keandalan peralatan di offtake station berperan penting dalam mendukung kontinuitas pasokan LNG melalui pemantauan dan pengendalian operasional yang baik.
Dengan dukungan sistem kontrol dan peringatan dini potensi gangguan seperti kebocoran kecil atau fluktuasi tekanan dapat terdeteksi lebih awal.
Offtake station tidak hanya sekadar fasilitas pengisian, tetapi juga menjadi elemen strategis dalam rantai pasok LNG yang membantu menjaga stabilitas, keselamatan, dan efisiensi distribusi, sekaligus berkontribusi pada efisiensi logistik dan ketahanan energi nasional.
Referensi:
- DoE. Diakses Tahun 2025. Global LNG Fundamentals
- JFE Engineering. Diakses Tahun 2025. LNG (liquefied natural gas) receiving and offtake terminal
- PMC. Diakses Tahun 2025. Optimization of the risk-based small-scale LNG supply chain in the Indonesian archipelago
- ABB Library. Diakses Tahun 2025. Controlling the gas flow