Geothermal atau energi panas bumi merupakan energi yang berasal dari panas di dalam bumi dan dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Prosesnya dilakukan dengan mengalirkan fluida panas berupa air maupun uap dari reservoir bawah tanah ke permukaan untuk menggerakkan turbin dan generator.
Menurut Kementerian ESDM, kapasitas terpasang pembangkit berbasis energi panas bumi di Indonesia mencapai sekitar 2.744 MW pada 2025. Ini menunjukkan bahwa geothermal telah berperan dalam memasok energi untuk kebutuhan nasional.
Meskipun geothermal merupakan sumber energi terbarukan dan memiliki potensi besar, pemanfaatannya tetap menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan area di sekitar proyek.
Apa Saja Dampak Negatif Geothermal?
Dampak lingkungan dari geothermal berbeda-beda di setiap proyek, bergantung pada karakteristik reservoir, teknologi yang digunakan, lokasi, dan metode pengelolaan fluida panas bumi. Karena itu, pengembangannya tetap perlu diperhitungkan dan dikelola sejak tahap perencanaan hingga operasional.
Potensi Emisi Gas dan Dampak terhadap Kualitas Udara
Fluida panas bumi dapat mengandung gas terlarut, termasuk hidrogen sulfida (H₂S) dan karbon dioksida (CO₂), yang berpotensi terlepas saat pengeboran, pengujian sumur, maupun operasional pembangkit.
H₂S memiliki bau khas seperti telur busuk dan pada konsentrasi tertentu dapat mengganggu kesehatan serta menurunkan kualitas udara di sekitar sumber emisi. Meski geothermal tidak menghasilkan emisi melalui pembakaran bahan bakar seperti pembangkit fosil, pelepasan gas tersebut tetap perlu dikelola melalui teknologi pengendalian emisi.
Munculnya Potensi Pencemaran Air
Fluida panas bumi dapat membawa mineral, logam, dan senyawa terlarut dari reservoir, termasuk arsenik, merkuri, boron, serta garam terlarut. Jika fluida atau air buangan tidak dikelola dengan baik, zat tersebut berisiko mencemari air permukaan maupun air tanah.
Karena itu, pengelolaan fluida menjadi bagian penting dalam operasional geothermal, salah satunya melalui reinjeksi, yaitu mengembalikan fluida ke reservoir melalui sumur injeksi untuk mengurangi pembuangan ke lingkungan.
Perubahan Penggunaan Lahan dan Gangguan Ekosistem
Pengembangan geothermal membutuhkan infrastruktur seperti jalan akses, lokasi pengeboran, sumur produksi dan injeksi, jaringan pipa, hingga fasilitas pembangkit. Pembangunan tersebut dapat mengubah penggunaan lahan, membuka vegetasi, memecah habitat, dan mengganggu ekosistem di sekitarnya.
Karena itu, pemilihan lokasi dan pengelolaan lahan perlu diperhatikan untuk meminimalkan perubahan lingkungan akibat pembangunan infrastruktur.
Timbulnya Kebisingan dari Aktivitas Proyek
Aktivitas geothermal dapat menghasilkan kebisingan, terutama saat eksplorasi, pengeboran, dan konstruksi yang melibatkan peralatan serta kendaraan operasional. Ketika pembangkit mulai beroperasi, suara juga dapat berasal dari turbin, sistem pendingin, pompa, dan fasilitas pendukung lainnya.
Kebisingan berpotensi mengganggu masyarakat maupun lingkungan sekitar jika fasilitas berada dekat pemukiman atau area yang sensitif terhadap suara.
Perubahan Kondisi Bawah Permukaan dan Aktivitas Seismik
Produksi dan reinjeksi fluida geothermal dapat mengubah tekanan serta kondisi fluida di reservoir bawah permukaan.
Dalam kondisi tertentu, perubahan tersebut, terutama yang berkaitan dengan tekanan injeksi dan keberadaan patahan, dapat memicu induced seismicity, yaitu aktivitas gempa yang dipicu atau dipengaruhi oleh kegiatan manusia.
Oleh karena itu, pemantauan aktivitas seismik dan kondisi reservoir diperlukan untuk membantu mengidentifikasi serta mengendalikan risiko
Penurunan Permukaan Tanah
Pengambilan fluida dalam jumlah besar dari reservoir geothermal dapat mengubah tekanan bawah permukaan dan bisa menyebabkan pemadatan batuan yang berkontribusi terhadap subsidence atau penurunan permukaan tanah.
Karena itu, pemantauan kondisi reservoir dan deformasi permukaan perlu disertai dengan pengelolaan fluida yang tepat, sehingga dapat membantu mengendalikan risiko penurunan tanah.
Baca Juga: Seberapa Besar Potensi PLTS Atap Menggeser Peran Batu Bara?
Bagaimana Dampak Geothermal Dapat Dikurangi?
Berbagai potensi dampak lingkungan geothermal dapat dimitigasi melalui perencanaan, teknologi, dan pengelolaan yang tepat sejak tahap pengembangan hingga operasional.
Salah satu pendekatannya adalah reinjeksi, yaitu mengembalikan fluida panas bumi ke reservoir untuk mengurangi pembuangan fluida ke lingkungan sekaligus membantu menjaga kondisi reservoir. Selain itu, pemilihan teknologi pembangkit perlu disesuaikan dengan karakteristik sumber daya.
Upaya mitigasi juga mencakup pengelolaan air dan limbah cair untuk mencegah zat berbahaya mencemari aliran air. Tidak hanya itu saja, pemantauan kondisi bawah permukaan dan aktivitas seismik tetap diperlukan untuk mendeteksi perubahan yang berkaitan dengan produksi maupun reinjeksi fluida.
Melalui langkah-langkah tersebut, potensi dampak lingkungan dapat dikendalikan sehingga pengembangan geotermal dapat dilakukan dengan lebih bertanggung jawab.
Mengapa Dampak Geothermal Perlu Menjadi Pertimbangan dalam Pemilihan Sumber Energi?
Bagi perusahaan dengan kebutuhan energi besar, pemilihan sumber energi tidak cukup hanya mempertimbangkan statusnya sebagai energi terbarukan.
Perusahaan juga perlu mengevaluasi ketersediaan energi di lokasi operasional, keandalan dan kontinuitas pasokan, kesesuaian dengan kebutuhan proses produksi, kesiapan infrastruktur, serta dampak lingkungan dan kemampuan mengelola risikonya.
Pertimbangan ini penting karena setiap sumber energi memiliki karakteristik dan kebutuhan operasional yang berbeda.
Geothermal memiliki keunggulan dalam menyediakan listrik secara kontinu dan dapat berperan sebagai sumber listrik beban dasar (base load). Namun, pengembangannya bergantung pada karakteristik sumber daya panas bumi dan lokasi yang sesuai, sedangkan pemanfaatannya oleh industri juga membutuhkan infrastruktur penyaluran listrik.
Karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan kombinasi sumber energi sesuai kebutuhan operasionalnya, termasuk selama proses transisi energi berlangsung.
Dalam kombinasi tersebut, LNG (Liquefied Natural Gas) dapat menjadi salah satu opsi untuk memenuhi kebutuhan energi termal maupun mendukung pembangkitan listrik, terutama ketika dibutuhkan sumber energi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi infrastruktur industri.
Baca Juga: 5 Top Negara Penghasil Minyak Bumi
LNG sebagai Opsi Energi Transisi untuk Mendukung Kebutuhan Industri
Dalam proses transisi energi, industri membutuhkan sumber energi yang tidak hanya mendukung pengurangan emisi, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan operasional secara andal. LNG dapat menjadi salah satu opsi karena dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk kebutuhan panas proses dan pembangkitan listrik, bergantung pada konfigurasi fasilitas.
Dibandingkan batu bara, penggunaan gas alam dapat menghasilkan emisi CO₂ pembakaran yang lebih rendah per unit energi dalam kondisi tertentu. Namun, manfaat emisinya secara keseluruhan tetap bergantung pada efisiensi penggunaan dan kebocoran metana sepanjang rantai pasok.
Bagi industri yang beroperasi di luar jangkauan jaringan pipa gas, LNG memungkinkan pasokan gas melalui penyimpanan, distribusi, dan regasifikasi di lokasi terpencil. Dengan dukungan infrastruktur dan perencanaan pasokan yang tepat, LNG dapat memenuhi kebutuhan energi untuk membantu menjaga kontinuitas operasional.
Pemilihan LNG tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan energi, biaya, kesiapan fasilitas, dan target lingkungan perusahaan agar penggunaannya sesuai dengan strategi energi jangka panjang.
Kebutuhan setiap industri terhadap pasokan gas dapat berbeda, bergantung pada skala konsumsi, lokasi operasional, serta kesiapan infrastruktur pendukung. Karena itu, pemanfaatan LNG sebagai opsi energi transisi perlu didukung oleh solusi penyediaan yang mencakup pasokan hingga distribusi agar kebutuhan operasional dapat terpenuhi secara optimal.
PGN LNG Indonesia menyediakan solusi LNG yang mencakup pasokan, penyimpanan, distribusi, dan regasifikasi untuk mendukung kebutuhan energi berbagai sektor industri. Dengan layanan yang terintegrasi, perusahaan dapat mempertimbangkan pemanfaatan LNG sesuai kebutuhan operasional dan kondisi infrastrukturnya.
Ingin tahu lebih lanjut bagaimana solusi LNG kami menjawab kebutuhan energi di industri Anda? Simak selengkapnya di sini: Penyedia LNG di Indonesia.
Referensi
- ESDM. Diakses Tahun 2026. Bauran EBT di Sektor Listrik Lampaui Target RUKN
- EIA. Diakses Tahun 2026. Geothermal explained
- IFC. Diakses Tahun 2026. EHS Guidelines: Power
- IFC. Diakses Tahun 2026. Environmental, Health, and Safety Guidelines for Geothermal Power Generation