Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) untuk Industri

04 Nov 26
potensi-pembangkit-listrik-tenaga-biogas-pltbg-untuk-industri

Biogas merupakan salah satu sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg).

Biogas dihasilkan dari penguraian bahan organik, termasuk limbah pertanian, peternakan, dan kegiatan industri. Karena itu, pemanfaatan PLTBg memungkinkan perusahaan mengolah kembali limbah organik menjadi sumber energi.

Namun, memiliki potensi biogas tidak otomatis menjadikannya sumber energi yang sesuai untuk semua industri. Kelayakan PLTBg bergantung pada ketersediaan pasokan bahan baku, kapasitas pembangkitan, kebutuhan energi perusahaan, dan biaya investasi.

Apa Itu Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg)? 

Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) merupakan pembangkit yang memanfaatkan biogas sebagai bahan bakar untuk menghasilkan listrik. Biogas dihasilkan melalui proses anaerobic digestion, yaitu penguraian bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen.

Biogas mengandung metana (CH₄) yang dapat dibakar untuk menghasilkan energi. Selain itu, biogas juga mengandung karbon dioksida (CO₂) dan komponen lain dalam jumlah yang bervariasi.

Bahan baku biogas dapat berasal dari limbah pertanian, kotoran ternak, limbah makanan, air limbah yang mengandung bahan organik, dan residu organik dari proses industri tertentu. Bahan-bahan tersebut diolah dalam digester untuk menghasilkan biogas.

Bagi industri yang menghasilkan limbah organik, sistem ini dapat memanfaatkannya sebagai bahan baku energi untuk mendukung kebutuhan operasional.

Baca Juga: Tanpa LNG, Upaya Carbon Neutral Sulit Tercapai?

Seberapa Besar Potensi PLTBg untuk Industri? 

Industri yang menghasilkan limbah organik secara rutin memiliki peluang memanfaatkan PLTBg. Namun, besarnya potensi PLTBg tidak hanya ditentukan oleh jumlah limbah yang tersedia, tetapi juga kemampuan mengolah limbah menjadi biogas dan memanfaatkan listrik yang dihasilkan.

Studi yang terbit pada 2025 memperkirakan potensi produksi biogas dari limbah pertanian dan agroindustri Indonesia melebihi 7 miliar Nm³ per tahun. Sementara itu, Kementerian ESDM mencatat kapasitas terpasang PLTBg di Indonesia sebesar 164,10 MW per April 2026.

Data tersebut menunjukkan estimasi potensi sumber daya biogas dan realisasi PLTBg yang telah terpasang di Indonesia.

Salah satu contoh penerapannya adalah industri kelapa sawit yang telah memanfaatkan Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pengolahan kelapa sawit untuk menghasilkan biogas sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Pemanfaatan ini menunjukkan bahwa PLTBg bukan sekadar potensi, melainkan telah diterapkan dalam kegiatan industri di Indonesia. Meski demikian, banyaknya limbah yang dihasilkan belum cukup untuk menentukan kelayakan PLTBg sebagai sumber energi tunggul industri.

Apa Saja Faktor yang Menentukan Kelayakan PLTBg untuk Industri?

Sebelum mengembangkan PLTBg, perusahaan perlu menilai apakah bahan baku, fasilitas, dan sistem pembangkit yang tersedia dapat mendukung kebutuhan energi secara andal dengan biaya yang masuk akal.

Penilaian ini mencakup beberapa faktor utama:

  • Ketersediaan feedstock: volume dan kestabilan pasokan bahan baku menentukan keberlangsungan produksi biogas dan listrik.
  • Karakteristik feedstock: kandungan bahan organik dan kadar air memengaruhi hasil biogas serta kebutuhan pengolahan bahan baku.
  • Lokasi dan infrastruktur: jarak pengumpulan bahan baku, akses jalan, fasilitas pengolahan gas, sistem kelistrikan, dan kebutuhan penyimpanan gas memengaruhi biaya proyek.
  • Skala fasilitas dan kebutuhan energi: kapasitas pembangkit perlu disesuaikan dengan profil pemakaian listrik perusahaan.
  • Investasi dan biaya operasional: perusahaan perlu menghitung biaya pembangunan digester, sistem pengolahan gas, pembangkit, pengumpulan bahan baku, hingga pemeliharaan.
  • Keselamatan dan lingkungan: instalasi harus memiliki pengendalian risiko operasional, termasuk penanganan gas, keselamatan pekerja, dan pemantauan dampak lingkungan.

Selain itu, Kementerian ESDM telah menerbitkan Pedoman Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) dalam Pengoperasian Instalasi Biogas Berbasis Limbah Cair Kelapa Sawit sebagai acuan pengelolaan risiko pada instalasi berbasis POME

Karena itu, studi kelayakan perlu menilai aspek teknis, ekonomi, dan keselamatan secara menyeluruh sebelum perusahaan menentukan kapasitas serta skema pemanfaatan PLTBg.

Baca Juga: Mengapa LNG Makin Menguntungkan Industri Manufaktur Modern?

Apakah PLTBg Dapat Memenuhi Seluruh Kebutuhan Energi Industri? 

PLTBg bisa saja memenuhi seluruh kebutuhan listrik industri jika kapasitas pembangkit dan ketersediaan biogas mencukupi kebutuhan operasional perusahaan.

Namun, kondisi ini umumnya tidak berlaku karena kemampuan produksi biogas bergantung pada jumlah dan kontinuitas pasokan bahan baku serta desain pembangkit. Industri yang menghasilkan limbah organik dalam jumlah terbatas mungkin hanya dapat memenuhi sebagian kebutuhan listriknya melalui PLTBg.

Karena itu, perusahaan perlu membandingkan kapasitas listrik yang dapat dihasilkan dengan profil beban aktual, termasuk perubahan kebutuhan listrik selama jam operasional.

Jika kapasitas PLTBg atau pasokan bahan bakunya belum mencukupi, perusahaan dapat menempatkannya sebagai salah satu komponen dalam bauran energi, bukan sebagai satu-satunya sumber pasokan

Untuk industri yang beroperasi secara kontinu dan membutuhkan pasokan energi yang andal, maka perlu sumber energi pendukung agar kebutuhan energi tetap terpenuhi. Salah satu opsi energi yang layak dipertimbangkan saat ini adalah  LNG (Liquefied Natural Gas) karena memiliki berbagai keunggulan yang dibutuhkan industri.

Baca Juga: Mengenal Carbon Offset dan Cara Kerjanya

Bagaimana LNG Dapat Mendukung Kebutuhan Energi Industri? 

LNG dapat menjadi salah satu opsi untuk melengkapi pasokan energi industri ketika kapasitas PLTBg atau ketersediaan biogas belum mencukupi kebutuhan operasional.

Berbeda dengan biogas yang produksinya bergantung pada ketersediaan bahan baku organik di lokasi, LNG dapat dipasok melalui rantai distribusi gas alam dan disimpan sebelum digunakan sesuai kebutuhan fasilitas.

Setelah melalui proses regasifikasi, LNG dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik maupun peralatan industri yang membutuhkan panas.

Namun, penggunaannya tetap memerlukan dukungan infrastruktur yang sesuai, mulai dari pengangkutan dan penyimpanan hingga regasifikasi agar LNG dapat digunakan di fasilitas industri.

PGN LNG Indonesia menyediakan solusi LNG yang mencakup penyediaan, penyimpanan, distribusi, dan regasifikasi untuk mendukung kebutuhan energi berbagai sektor industri. Dengan dukungan layanan tersebut, perusahaan dapat mempertimbangkan LNG sebagai solusi energi yang andal.

Kenali lebih lanjut solusi LNG yang kami berikan di sini: Penyedia LNG di Indonesia.

 

Referensi

    • ESDM. Diakses Tahun 2026. Luncurkan Buku Pedoman, Pemerintah Tingkatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Pembangkit Biogas
    • ESDM. Diakses Tahun 2026. Direktorat Jenderal EBTKE
    • ScienceDirect. Diakses Tahun 2026. Biogas potential for sustainable power generation in Indonesia
    • IEA. Diakses Tahun 2026. Introduction to biogas and biomethane

 

Bagikan Artikel
Berita Lainnya