Efek Domino Perang Iran terhadap Industri Minyak dan Gas

Web Editor
08/07/2026
Efek Perang Iran terhadap Minyak dan Gas

Iran dikenal sebagai salah satu produsen minyak dan gas terbesar di kawasan Teluk Persia. Iran memegang cadangan minyak terbesar ketiga dan cadangan gas terbesar kedua di dunia. Negara ini juga menjadi tulang punggung pasokan energi global, terutama untuk negara Asia.

Ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz. Langkah penutupan selat ini memicu efek domino yang tak hanya memengaruhi harga minyak dan gas, tetapi juga mengguncang rantai pasokan energi hingga stabilitas ekonomi.

 

Seperti Apa Posisi Iran di Peta Minyak dan Gas Global? 

Iran adalah salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Dilansir dari CEIC Data, produksi minyak Iran pada 2025 totalnya mencapai 4,19 juta barel per hari (bpd), menjadikannya sebagai produsen terbesar ketiga di negara OPEC.

Sebelum terjadinya konflik, ekspor minyak Iran rata-rata berkisar 1,38–1,56 juta bpd, dengan China sebagai satu-satunya pembeli yang menyerap sekitar 90% ekspor minyak Iran.

Selain sebagai negara penghasil energi, Iran juga diuntungkan oleh posisi geografisnya di pesisir Selat Hormuz, jalur yang menjadi jantung distribusi minyak dan gas global. Sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk petroleum per hari melintasi selat ini. Angka ini setara dengan 20% konsumsi minyak global.

Sekitar 20% perdagangan LNG (Liquefied Natural Gas) global juga melewati selat yang sama. Sebagian besar berasal dari Qatar, yang merupakan eksportir LNG terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Asia menerima 84% aliran minyak mentah dari Hormuz, dengan China, India, Jepang, dan Korea Selatan sebagai empat tujuan utama.

Baca Juga: Kegunaan Hidrokarbon yang Bikin LNG Penting di Industri Energi

 

Apa Efek Domino Perang Iran ke Industri Minyak dan Gas Global? 

Meletusnya perang Iran yang kemudian menyebabkan blokade di Selat Hormuz tentu punya dampak pada pasokan energi global. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi harga saja, tetapi akan merembet ke berbagai aspek yang makin merugikan industri hingga ekonomi.

Lonjakan Harga Minyak dan Volatilitas Pasar 

Setelah terjadi blokade di Selat Hormuz pada akhir Februari 2026, harga minyak dunia melonjak tajam. Harga minyak Brent melompat dari sekitar USD 72 per barel langsung menyentuh hampir USD 120 per barel di puncaknya.

Lonjakan ini dipicu bukan hanya oleh gangguan fisik pasokan, melainkan juga oleh spekulasi pasar dan pembengkakan biaya asuransi tanker karena selat ini secara komersial tidak dapat dilalui.

Dampak ke Pertumbuhan Ekonomi Global 

Asia adalah kawasan yang paling bergantung pada aliran energi melalui Selat Hormuz. China, India, Jepang, dan Korea Selatan adalah empat importir terbesar minyak yang melewati selat ini.

Secara kolektif, keempat negara ini menyumbang hampir 40% PDB global, sehingga gangguan energi yang mereka alami bisa langsung berdampak pada aktivitas perekonomian dunia. Efek krisis ini berpotensi semakin besar karena negara-negara tersebut juga merupakan tulang punggung rantai pasok manufaktur global, mulai dari elektronik hingga otomotif.

Jika gangguan energi berlanjut lebih lama dan meluas ke 2027, IMF memperingatkan pertumbuhan global bisa anjlok ke 2%, sementara inflasi melampaui 6%. Itu artinya mendekati ambang resesi global.

Guncangan di Pasar LNG dan Gas Global 

Selat Hormuz menjadi tulang punggung distribusi sekitar 20% perdagangan LNG global dan tidak ada rute alternatif. Ketika selat ini efektif tertutup sejak awal Maret 2026, guncangan yang ditimbulkan terhadap pasar gas global langsung terasa.

Hal yang paling terlihat adalah terjadinya volatilitas harga ekstrem. Pada pekan pertama krisis, harga gas di Eropa melonjak sekitar 76%, sementara harga LNG di Asia naik 51%.

Selain itu, terputusnya pasokan gas dari Selat Hormuz memaksa negara-negara pengimpor untuk mencari sumber energi alternatif dengan harga yang jauh lebih mahal. Kondisi ini jelas merugikan dan memicu krisis jangka pendek..

Perubahan Struktural Rantai Pasok Energi Jangka Panjang

Blokade Selat Hormuz berpotensi memicu perubahan pada rantai pasok energi global, terutama untuk minyak dan gas alam cair (LNG). Negara-negara pengimpor energi yang selama ini bergantung pada jalur distribusi melalui Selat Hormuz akan mencari alternatif pasokan dari kawasan lain guna mengurangi risiko gangguan distribusi.

Kondisi tersebut juga dapat mempercepat investasi pada diversifikasi rute ekspor energi serta memperkuat daya tarik sumber energi di luar Timur Tengah. Produsen LNG seperti Amerika Serikat dan Australia berpotensi memperoleh peningkatan permintaan.

Selain itu, negara produsen regional seperti Indonesia juga memiliki peluang untuk memperkuat posisi dalam pasar LNG global, terutama bagi negara-negara Asia yang membutuhkan pasokan lebih stabil dan dekat secara geografis.

Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Energi Fosil di Era Energi Transisi

 

Mengapa LNG Domestik Menjadi Solusi di Tengah Krisis? 

Di tengah guncangan pasar energi global, Indonesia justru memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara importir energi lainnya: cadangan gas alam domestik yang besar dan infrastruktur LNG yang terus berkembang.

Ketika harga LNG global melonjak hingga 51–76% akibat blokade Selat Hormuz, industri-industri yang telah mengamankan pasokan dari sumber domestik justru relatif terlindungi dari volatilitas tersebut. Inilah yang membuat LNG domestik bukan sekadar opsi efisiensi, melainkan instrumen ketahanan energi yang sesungguhnya.

Namun, ketersediaan cadangan saja tidak cukup. Tantangan nyata ada pada distribusi, yaitu bagaimana memastikan pasokan gas sampai ke titik-titik industri yang belum terjangkau jaringan pipa.

PGN LNG Indonesia menjawab tantangan tersebut dengan berperan menjembatani gap antara cadangan gas domestik dan kebutuhan industri. Melalui solusi small-scale LNG dan infrastruktur regasifikasi yang fleksibel, PGN LNG Indonesia mampu menyalurkan energi ke lokasi-lokasi yang secara geografis sulit dijangkau pipa konvensional.

Di tengah krisis seperti saat ini, kehadiran pemasok LNG domestik yang andal bukan hanya soal efisiensi biaya, tetapi juga menyangkut keberlangsungan operasional industri nasional.

Ingin mengetahui lebih lanjut apa saja yang PGN LNG Indonesia tawarkan untuk mendukung industri Anda? Temukan penjelasan lengkapnya di sini: Penyedia LNG untuk Kebutuhan Energi Industri.

 

Referensi:

  • IEA. Diakses Tahun 2026. Strait of Hormuz Factsheet
  • EIA. Diakses Tahun 2026. The Strait of Hormuz is the world’s most important oil transit chokepoint
  • CEIC Data. Diakses Tahun 2026. Iran Crude Oil: Production
  • CNBC. Diakses Tahun 2026. A timeline of how the Iran war shook oil prices — and what comes next
  • IMF. Diakses Tahun 2026. War Darkens Global Economic Outlook and Reshapes Policy Priorities