Saat ini dunia tengah menghadapi krisis iklim yang memicu berbagai bentuk kerusakan lingkungan. Salah satu kontributor utamanya berasal dari penggunaan bahan bakar di sektor transportasi dan industri.
Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya energi yang lebih berkelanjutan, berbagai negara mulai mendorong transisi menuju sumber energi dan bahan bakar yang lebih bersih.
Lantas, jenis bahan bakar apa saja yang digunakan saat ini dan mana yang lebih ramah lingkungan? Temukan jawabannya di artikel ini.
Apa Itu Bahan Bakar?
Bahan bakar adalah zat atau material yang mampu melepaskan energi melalui suatu reaksi, umumnya reaksi kimia seperti pembakaran. Energi yang tersimpan dalam bahan bakar berupa energi kimia, di mana saat dilepaskan akan menghasilkan energi panas.
Selanjutnya, energi panas tersebut dikonversi menjadi energi mekanis atau energi listrik melalui berbagai sistem, seperti mesin pembakaran dalam, turbin, atau pembangkit listrik.
Proses konversi inilah yang memungkinkan bahan bakar digunakan untuk menggerakkan kendaraan, mesin industri, dan sistem kelistrikan.
Saat ini, pemilihan bahan bakar tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan tenaga saja, tetapi juga mempertimbangkan efisiensi energi, biaya produksi, ketersediaan infrastruktur, serta dampak lingkungan.
Baca Juga: Karakteristik Low Sulphur Fuel Oil dan Manfaatnya
Apa Jenis Bahan Bakar yang Banyak Digunakan Saat Ini?
Di era modern seperti sekarang, ada banyak jenis bahan bakar yang digunakan, mulai dari yang konvensional hingga jenis alternatif.
1. Bensin (Gasoline)
Bensin adalah bahan bakar minyak cair berbasis minyak bumi yang diproduksi melalui distilasi fraksional serta berbagai proses lanjutan seperti reforming dan blending untuk memenuhi standar performa dan emisi.
Bahan bakar ini digunakan pada mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) dengan sistem penyalaan bunga api. Itulah kenapa, jenis ini menjadi pilihan utama bagi kendaraan transportasi darat.
Secara global, bensin merupakan salah satu komoditas energi terpenting di sektor transportasi, didukung oleh infrastruktur distribusi yang telah berkembang luas dan stabil.
2. Solar (Diesel)
Solar adalah bahan bakar minyak dengan rantai hidrokarbon lebih panjang dan densitas energi per liter yang lebih tinggi dibanding bensin.
Kombinasi solar dengan mesin diesel yang menggunakan kompresi tinggi tanpa bunga api mampu menghasilkan efisiensi termal yang baik serta torsi besar pada putaran rendah.
Karakteristik inilah yang menjadikan solar sebagai pilihan utama untuk transportasi berat, kapal laut, dan mesin industri yang membutuhkan daya tahan, efisiensi, serta kemampuan menggerakkan beban besar secara konsisten.
Baca Juga: Perbedaan Bahan Bakar Diesel dan Bensin
3. LPG (Liquefied Petroleum Gas)
LPG adalah bahan bakar hidrokarbon ringan yang dicairkan, umumnya berupa campuran propana dan butana, yang diperoleh dari proses penyulingan minyak mentah maupun pengolahan gas alam.
Berkat nilai kalor yang tinggi dan kemampuannya disimpan dalam tabung bertekanan sedang, LPG banyak digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga untuk memasak serta oleh industri kecil untuk keperluan pemanasan.
4. CNG (Compressed Natural Gas)
CNG adalah bahan bakar berbasis gas alam yang didominasi metana dan dikompresi hingga volumenya berkurang secara signifikan untuk keperluan penyimpanan.
Bahan bakar ini telah banyak digunakan pada transportasi publik dan armada industri karena pembakarannya yang lebih bersih dibanding bensin dan diesel.
Keunggulan CNG terletak pada emisi partikulat, sulfur, nitrogen oksida, dan emisi CO₂ yang jauh lebih rendah, sehingga menjadikannya salah satu opsi bahan bakar untuk meningkatkan kualitas udara di kawasan perkotaan.
5. Biofuel (Biodiesel & Bioethanol)
Biofuel merupakan bahan bakar terbarukan yang dihasilkan dari bahan organik seperti tanaman energi dan limbah biomassa.
Dibandingkan bahan bakar fosil, biofuel berpotensi menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah jika ditinjau dari siklus hidupnya, meskipun dampaknya sangat bergantung pada metode produksi dan penggunaan lahannya.
Biofuel juga dapat dicampurkan dengan solar atau bensin hingga persentase tertentu tanpa perubahan besar pada mesin, sehingga menjadikannya salah satu opsi mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
6. Hidrogen
Hidrogen adalah bahan bakar yang dapat diproduksi melalui berbagai metode dengan tingkat emisi yang berbeda, mulai dari
- Grey hydrogen berbasis gas alam.
- Green hydrogen yang dihasilkan melalui elektrolisis air menggunakan energi terbarukan.
Saat digunakan sebagai sumber energi, hidrogen tidak menghasilkan emisi karbon dan hanya melepaskan uap air.
Meski demikian, dampak lingkungannya sangat bergantung pada proses produksinya, sehingga green hydrogen dinilai paling berpotensi dalam mendukung pencapaian target net-zero emission di berbagai sektor energi dan industri global.
7. LNG (Liquefied Natural Gas)
LNG adalah gas alam yang dicairkan melalui pendinginan hingga sekitar −160°C, sehingga volumenya menyusut dan menjadi lebih efisien untuk diangkut jarak jauh menggunakan kapal tanker khusus.
Bentuk cair ini meningkatkan densitas energi per volume, sehingga menjadikan LNG pilihan penting bagi pembangkit listrik dan industri skala besar.
Selain itu, LNG mulai digunakan di sektor transportasi laut karena menghasilkan emisi karbon lebih rendah saat pembakaran dibanding batu bara dan minyak.
Baca Juga: Mengenal Bio LNG dan Manfaatnya
Mana Jenis Bahan Bakar yang Paling Ramah Lingkungan?
Untuk menentukan tingkat ramah lingkungan suatu bahan bakar perlu melibatkan banyak faktor, seperti mempertimbangkan emisi CO₂, polutan udara (seperti NOx dan sulfur), dampak siklus hidup produksi (LCA), serta risiko kebocoran metana pada bahan bakar gas.
Pendekatan ini membantu melihat dampak nyata bahan bakar terhadap iklim dan kualitas udara secara keseluruhan.
Berdasarkan parameter tersebut, inilah urutan jenis bahan bakar mulai dari yang paling ramah lingkungan hingga yang paling kotor:
- Hidrogen (green hydrogen): Paling ramah lingkungan di titik penggunaan karena tidak menghasilkan CO₂, dengan catatan diproduksi menggunakan energi terbarukan.
- Biofuel: Terbarukan dan berpotensi menekan emisi karbon, tetapi dampaknya sangat bergantung pada metode produksi dan penggunaan lahannya.
- CNG & LNG: Bahan bakar fosil paling bersih, dengan emisi sulfur dan partikulat rendah, meski tetap memiliki risiko kebocoran metana.
- LPG: Lebih bersih dari bensin dan solar, tetapi masih berkontribusi pada emisi karbon.
- Bensin & Solar: Paling tidak ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas rumah kaca tinggi dan polusi udara perkotaan.
Baca Juga: 5 Manfaat Energi Matahari yang Tak Dimiliki Energi Fosil
Bagaimana Potensi LNG sebagai Bahan Bakar?
LNG memiliki potensi besar sebagai bahan bakar transisi di sektor industri, pembangkitan listrik, dan transportasi karena pembakarannya menghasilkan emisi partikulat, sulfur, dan karbon yang lebih rendah dibanding batu bara dan minyak bumi.
Dalam aplikasinya pada sektor industri, LNG banyak dimanfaatkan untuk pembangkit listrik serta proses termal seperti boiler dan kiln yang membutuhkan pasokan panas stabil dan andal.
Pada transportasi laut, LNG semakin diadopsi sebagai alternatif untuk memenuhi regulasi emisi sulfur IMO 2020, sementara penggunaannya di perkeretaapian masih terbatas pada proyek percontohan.
Sementara itu, pada transportasi darat jarak jauh, LNG menawarkan keunggulan jarak tempuh lebih panjang dibanding CNG berkat densitas energi per volume yang lebih tinggi.
Referensi:
- EIA. Diakses Tahun 2025. Gasoline Explained
- EIA. Diakses Tahun 2025. What is Diesel Fuel?
- ICCT. Diakses Tahun 2025. The Climate Implications of Using LNG as A Marine Fuel
- IEA. Diakses Tahun 2025. Low-Emissions Fuels