Di tengah meningkatnya kebutuhan efisiensi energi dan upaya mengurangi emisi karbon, banyak industri mulai melirik PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) sebagai alternatif untuk menekan biaya listrik.
Namun, bagi sektor seperti tambang dan smelter yang umumnya beroperasi 24 jam dan butuh energi besar, tentu keandalan pasokan energi menjadi faktor yang krusial.
Dalam kondisi tersebut, PLTS hybrid hadir sebagai solusi yang mengombinasikan energi surya dengan sumber listrik lain, seperti genset atau jaringan listrik, sehingga pasokan daya tetap lebih stabil dibandingkan mengandalkan PLTS saja.
Lantas, apakah PLTS hybrid benar-benar mampu menghemat biaya listrik bagi industri, atau justru hanya efektif diterapkan pada kondisi tertentu?
Apa Itu PLTS Hybrid dan Bagaimana Cara Kerja?
PLTS hybrid adalah sistem pembangkit listrik yang menggabungkan panel surya (photovoltaic/PV) dengan satu atau lebih sumber energi lain, seperti jaringan PLN, genset diesel, mesin gas/LNG, atau Battery Energy Storage System (BESS).
Sistem ini dirancang untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik karena tidak hanya bergantung pada energi matahari.
Agar seluruh komponen bekerja secara optimal, PLTS hybrid juga dilengkapi inverter untuk mengubah arus listrik dari panel surya menjadi arus bolak-balik serta Energy Management System (EMS) yang mengatur distribusi energi dari setiap sumber.
Dalam operasinya, PLTS hybrid memprioritaskan penggunaan energi surya selama produksinya mencukupi kebutuhan beban. Jika terdapat surplus energi, listrik akan disimpan di BESS untuk digunakan saat produksi energi surya menurun, misalnya pada malam hari, cuaca mendung, atau ketika terjadi lonjakan beban.
Apabila daya dari baterai tidak lagi mencukupi, EMS akan secara otomatis mengalihkan pasokan ke sumber energi cadangan, seperti PLN atau genset, sehingga suplai listrik tetap stabil sekaligus membantu mengoptimalkan biaya operasional.
Baca Juga: Sistem Kerja Panel Surya dan Manfaatnya
Apakah PLTS Hybrid Bisa Menghemat Biaya Listrik?
Ya, PLTS hybrid dapat menghemat biaya listrik, tetapi besarnya penghematan bergantung pada kondisi operasional masing-masing industri.
Penghematan terjadi karena pada siang hari beban listrik diprioritaskan menggunakan energi dari panel surya, sehingga konsumsi listrik dari PLN atau penggunaan bahan bakar genset dapat berkurang.
Jika produksi listrik surya berlebih, energi tersebut disimpan di Battery Energy Storage System (BESS) untuk digunakan saat produksi surya menurun atau ketika tarif listrik sedang tinggi (peak hour). Dengan begitu, biaya pembelian listrik maupun konsumsi bahan bakar dapat ditekan.
Studi techno-economic di Arab Saudi melaporkan bahwa sistem hybrid yang menggabungkan PV, baterai, dan genset mampu menghemat biaya energi hingga sekitar 41% dibandingkan sistem pembangkit berbahan bakar diesel saja.
Namun, angka tersebut merupakan hasil studi kasus sehingga tidak bisa dijadikan acuan untuk semua proyek. Besarnya penghematan tetap dipengaruhi oleh profil beban, kapasitas sistem, intensitas penyinaran matahari, serta tarif listrik di lokasi.
Baca Juga: Tanpa LNG, Upaya Carbon Neutral Sulit Tercapai? Cek Faktanya!
Apakah PLTS Hybrid Cocok untuk Industri dengan Beban Besar?
Industri seperti smelter, tambang, dan manufaktur memiliki kebutuhan listrik yang sangat besar, umumnya mencapai puluhan hingga ratusan megawatt, serta beroperasi secara kontinu selama 24 jam.
Proses produksinya juga sangat sensitif terhadap gangguan pasokan listrik, sehingga fluktuasi daya maupun downtime dapat mengganggu operasi dan menimbulkan kerugian besar.
Dengan karakteristik tersebut, industri membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan. Karena produksi listrik dari panel surya bergantung pada intensitas sinar matahari, PLTS tidak dapat menjadi satu-satunya sumber energi untuk menopang seluruh beban operasional.
Oleh karena itu, PLTS hybrid lebih cocok dimanfaatkan sebagai sumber energi pendamping (supplementary power), bukan sebagai pengganti utama pasokan listrik. Pada industri yang beroperasi 24 jam, seperti smelter, tambang, dan manufaktur, sistem ini digunakan untuk mengurangi konsumsi listrik dari PLN atau bahan bakar genset saat energi surya tersedia.
Dengan pendekatan tersebut, industri dapat menekan biaya energi dan emisi karbon tanpa mengorbankan keandalan pasokan listrik yang dibutuhkan untuk menjaga kontinuitas produksi.
Baca Juga: Carbon Capture and Storage Jadi Gimmick Hijau?
Mengapa LNG Mulai Diposisikan sebagai Pelengkap PLTS Hybrid untuk Industri
PLTS hybrid mampu mengurangi konsumsi listrik dari jaringan atau pembangkit berbahan batu bara atau diesel, tetapi produksi listriknya tetap bergantung pada ketersediaan sinar matahari. Karena itu, LNG (Liquefied Natural Gas) mulai diposisikan sebagai sumber energi pelengkap yang dapat menyediakan listrik secara stabil dan sesuai kebutuhan.
Konsep kombinasi PLTS dan pembangkit berbahan bakar gas juga menjadi salah satu opsi untuk menggantikan captive coal power plant di kawasan industri yang jauh dari akses energi. Dalam skema ini, PLTS menyuplai listrik saat siang hari, sedangkan pembangkit gas mengambil alih pasokan ketika produksi listrik dari panel surya menurun atau berhenti.
Selain menjaga keandalan pasokan listrik, penggunaan LNG juga menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan batu bara maupun diesel sehingga dapat mendukung upaya dekarbonisasi industri.
Namun, efektivitas skema ini sangat bergantung pada keandalan pasokan LNG itu sendiri. Kawasan industri yang jauh dari akses energi justru membutuhkan mitra yang mampu menjamin distribusi LNG hingga ke lokasi.
Faktor inilah yang menjadikan pemilihan mitra LNG sebagai keputusan strategis. PGN LNG Indonesia hadir dengan layanan terintegrasi yang dirancang untuk menjawab tantangan tersebut, termasuk bagi kawasan industri dengan keterbatasan akses energi sekalipun.
Temukan bagaimana PGN LNG Indonesia menjawab kebutuhan energi industri Anda di sini: Penyedia LNG untuk Energi Industri.
Referensi:
- Elum Energy. Diakses Tahun 2026. What is a Solar Diesel Hybrid System?
- Springer. Diakses Tahun 2026. Techno-economic assessment for energy transition from diesel-based to hybrid energy system-based off-grids in Saudi Arabia
- Gletscher Energy. Diakses Tahun 2026. Replacing Diesel Generators: A Strategic Blueprint for Remote Infrastructure Electrification
- ScienceDirect. Diakses Tahun 2026. Case study on decarbonization strategies for LNG export terminals using heat and power from CSP/PV hybrid plants