Benarkah LNG Termasuk Bahan Bakar Alternatif Rendah Emisi? Ini Faktanya!

Web Editor
30/01/2026
bahan-bakar-alternatif

Di tengah krisis perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan energi global akibat pertumbuhan ekonomi dan populasi, dunia mendorong transisi menuju sumber energi yang lebih bersih.

Meski peran energi terbarukan terus berkembang, keterbatasan intermitensi dan infrastruktur membuatnya belum sepenuhnya mampu menopang kebutuhan energi secara stabil saat ini.

Hadirnya LNG (Liquefied Natural Gas) atau gas alam cair kerap dipandang sebagai salah satu solusi tantangan tersebut. Namun, apakah LNG termasuk bahan bakar alternatif rendah emisi, mengingat gas alam berasal dari fosil? Temukan faktanya di sini.

Apakah LNG Rendah Emisi?

Ya, LNG dapat dikategorikan sebagai bahan bakar alternatif yang lebih rendah emisi jika dibandingkan batu bara dan diesel. Kenapa bisa demikian? Inilah penjelasan detailnya.

Kenapa LNG Dianggap Bahan Bakar Alternatif?

LNG dianggap sebagai bahan bakar alternatif karena berperan sebagai pengganti batu bara dan minyak bumi, terutama dalam upaya menurunkan emisi dan meningkatkan efisiensi energi.

Di tengah transisi menuju energi terbarukan, LNG sering diposisikan sebagai transition fuel yang lebih bersih namun tetap andal untuk memenuhi kebutuhan energi skala besar.

LNG atau gas alam cair adalah gas bumi yang didinginkan hingga suhu −162°C sehingga berubah menjadi cair dan volumenya menyusut hingga sekitar 600 kali. Kondisi ini memungkinkan LNG diangkut secara efisien menggunakan kapal tanker ke wilayah yang tidak terjangkau jaringan pipa gas.

Dari sisi penggunaan, LNG menawarkan pembakaran yang lebih bersih dengan emisi karbon dan polutan udara yang lebih rendah dibandingkan batu bara dan solar.

Baca Juga: 5 Peran Penting Small Scale LNG

Emisi LNG Dibandingkan Batu Bara dan Diesel

Dibandingkan batu bara dan minyak bakar berat, LNG menawarkan keunggulan lingkungan yang nyata terutama pada tahap pembakaran.

Dalam pembangkitan listrik, LNG dapat menghasilkan emisi CO₂ sekitar 40-50% lebih rendah dibanding batu bara dan sekitar 15-30% lebih rendah dibanding diesel.

Di sektor maritim, LNG secara signifikan menurunkan emisi partikulat dan nitrogen oksida, serta hampir menghilangkan emisi sulfur oksida karena kandungan sulfurnya yang sangat rendah, sehingga menjadi salah satu opsi penting untuk memenuhi regulasi IMO 2020.

Kualitas Pembakaran LNG yang Lebih Bersih

LNG disebut sebagai bahan bakar yang lebih bersih karena kualitas pembakarannya yang lebih efisien dan minim pengotor.

Sebelum dicairkan, gas alam dimurnikan secara ketat untuk menghilangkan air, merkuri, dan senyawa sulfur, sehingga saat dibakar hampir tidak menghasilkan jelaga maupun partikulat halus yang merusak kualitas udara, berbeda dengan batu bara dan diesel.

Karakteristik ini membantu meningkatkan kualitas udara di sekitar fasilitas industri serta mempermudah kepatuhan terhadap regulasi emisi yang semakin ketat.

Baca Juga: Mengenal Carbon Credits dan Bedanya dengan Carbon Trading

Apa Saja Bahan Bakar Alternatif Rendah Emisi Selain LNG?

Selain LNG, ada beberapa alternatif sumber energi yang rendah emisi dan bahkan mendekati nol, antara lain:

Hidrogen

Hidrogen dibedakan ke dalam beberapa jenis berdasarkan metode produksinya, contohnya green hydrogen. Jenis ini termasuk dalam energi terbarukan dan memiliki emisi yang sangat rendah.

Meski berpotensi besar sebagai energi bersih, pengembangan hidrogen masih menghadapi tantangan utama berupa biaya produksi yang tinggi serta keterbatasan infrastruktur pendukung.

Faktor-faktor tersebut menjadikan hidrogen sebagai solusi energi jangka panjang yang menjanjikan, tetapi belum sepenuhnya matang untuk diadopsi secara luas saat ini.

Biofuel (Biodiesel, Bioethanol, Biogas)

Biofuel, termasuk biodiesel, bioetanol, dan biogas, merupakan bahan bakar terbarukan yang dihasilkan dari berbagai sumber organik seperti tanaman energi, limbah pertanian, dan limbah organik.

Dibandingkan bahan bakar fosil, biofuel berpotensi menghasilkan emisi yang lebih rendah. Di sisi lain, pengembangan biofuel masih menghadapi tantangan terkait persaingan dengan lahan pangan serta risiko deforestasi, sehingga keberlanjutan menjadi isu utama dalam penerapannya secara global.

Baca Juga: LNG ISO Tank sebagai Solusi Pintar Distribusi Fleksibel

Amonia

Amonia merupakan bahan bakar yang tidak mengandung karbon dan tidak menghasilkan emisi CO₂ saat pembakaran. Meski demikian, penggunaan amonia menghadapi tantangan teknis berupa potensi emisi NOₓ yang perlu dikendalikan melalui teknologi katalis dan strategi pembakaran khusus.

Selain itu, sifat amonia yang beracun menuntut standar keselamatan dan penanganan yang tinggi, sehingga pengembangannya masih memerlukan kesiapan teknologi dan regulasi yang matang.

LPG dan CNG

LPG dan CNG merupakan bahan bakar gas yang digunakan pada segmen berbeda. LPG banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga dan industri kecil, sedangkan CNG umum digunakan pada transportasi perkotaan.

Keduanya umumnya menghasilkan emisi polutan lokal dan emisi karbon yang lebih rendah dibanding bensin.

Energi Terbarukan

Energi terbarukan seperti surya, angin, dan hidro menghasilkan listrik tanpa proses pembakaran dan hampir tidak menimbulkan emisi pada tahap operasionalnya.

Meski demikian, dampak lingkungannya tetap perlu dilihat secara menyeluruh karena masih menghadapi tantangan teknis dan juga intermitensi pasokan listrik.

Baca Juga: Energi Terbarukan vs Tak Terbarukan, Ternyata Ini Bedanya!

Bagaimana Peran LNG dalam Transisi Energi Saat Ini?

LNG memegang peran vital sebagai jembatan (bridge fuel) menuju sistem energi yang sepenuhnya terbarukan. Membangun infrastruktur energi matahari atau angin dalam skala raksasa membutuhkan waktu dan biaya yang sangat besar.

Dalam konteks ini, LNG hadir sebagai solusi untuk menggantikan batu bara, terutama dalam pembangkit listrik dan sektor industri intensif energi.

Dibandingkan batu bara, pembakaran LNG menghasilkan emisi karbon dan polutan udara yang lebih rendah, sehingga dapat berkontribusi pada penurunan emisi secara bertahap dan menjaga keandalan pasokan energi.

Di sisi lain, pengembangan infrastruktur LNG juga dipandang memiliki potensi adaptasi di masa depan. Pendekatan ini membuka peluang agar aset energi yang ada tetap relevan dalam perjalanan menuju sistem energi rendah karbon.

 

Referensi: