Krisis energi dapat muncul ketika kebutuhan energi terus meningkat sementara sistem energi menghadapi risiko terhadap ketersediaan dan keandalan pasokan. Risiko tersebut dapat dipicu oleh ketergantungan pada sumber energi tertentu, gangguan rantai pasok, dinamika geopolitik, hingga lonjakan harga energi.
Karena itu, diversifikasi sumber pasokan dan kemampuan menghadapi gangguan menjadi bagian penting dari ketahanan energi (energy security).
Transisi ke energi terbarukan berpotensi mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Terlebih lagi, data Kementerian ESDM menyebut potensi EBT (Energi Baru Terbarukan) Indonesia mencapai sekitar 3.687 GW. Lantas, apakah besarnya potensi tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan energi Indonesia dan membantu mengatasi krisis energi?
Bagaimana Cara Mengatasi Krisis Energi di Tengah Ketergantungan pada Energi Fosil?
Krisis energi dapat memberikan tekanan terhadap kegiatan operasional industri, terutama ketika gangguan pasokan atau kenaikan harga energi memengaruhi biaya produksi dan keandalan operasional.
Karena itu, mengatasi risiko tersebut tidak cukup hanya dengan menambah pasokan energi, tetapi juga memerlukan langkah untuk mengendalikan kebutuhan energi, mengurangi ketergantungan pada sumber tertentu, dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara strategis.
Meningkatkan Efisiensi dan Mengendalikan Konsumsi Energi
Salah satu cara mengurangi tekanan terhadap pasokan energi adalah menekan penggunaan energi yang tidak efisien, bukan hanya meningkatkan jumlah pasokan. Efisiensi energi dapat dilakukan melalui penggunaan teknologi yang lebih efisien, optimalisasi proses operasional, dan pengurangan konsumsi energi yang tidak diperlukan.
Bagi industri, penggunaan energi yang lebih efisien dapat membantu menekan kebutuhan energi untuk menjalankan kegiatan operasional sekaligus mengurangi biaya energi. Dengan demikian, peningkatan efisiensi dapat mengurangi tekanan terhadap kebutuhan pasokan energi tanpa harus mengandalkan penambahan konsumsi.
Melakukan Diversifikasi Sumber Energi
Ketergantungan yang terlalu besar pada satu sumber energi dapat meningkatkan risiko ketika terjadi gangguan pasokan atau perubahan harga. Karena itu, diversifikasi dilakukan dengan memanfaatkan berbagai sumber energi dalam bauran energi (energy mix), sehingga kebutuhan tidak sepenuhnya bergantung pada satu jenis sumber.
Bagi Indonesia yang masih memiliki ketergantungan pada energi fosil, diversifikasi menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus membuka ruang bagi pemanfaatan sumber energi alternatif, termasuk EBT.
Mengoptimalkan Sumber Energi Domestik
Pemanfaatan sumber energi yang tersedia di dalam negeri dapat membantu mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan eksternal. Indonesia memiliki beragam sumber energi domestik, baik energi fosil maupun energi terbarukan, yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan energi nasional.
Namun, optimalisasi sumber energi domestik tidak berarti mempertahankan ketergantungan pada energi fosil, melainkan memanfaatkan berbagai sumber secara strategis sesuai karakteristik dan kebutuhan sistem energi.
Baca Juga: Ini Penyebab Krisis Energi yang Paling Merugikan
Seberapa Besar Energi Terbarukan Dapat Memenuhi Kebutuhan Energi?
EBT dapat berperan sebagai sumber energi alternatif sekaligus sarana diversifikasi bauran energi Indonesia. Beragam sumber EBT yang tersedia di dalam negeri memberikan peluang untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Kementerian ESDM mencatat potensi EBT Indonesia mencapai sekitar 3.687 GW, yang terdiri dari:
- Energi surya: 3.294 GW
- Energi angin: 155 GW
- Energi air: 95 GW
- Energi laut: 63 GW
- Bioenergi: 57 GW
- Panas bumi: 24 GW
Besarnya dan beragamnya potensi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber EBT yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan energi sekaligus memperkuat diversifikasi pasokan.
Namun, besarnya potensi tersebut belum menunjukkan seberapa besar EBT telah memenuhi kebutuhan energi nasional.
Untuk melihat kondisi aktualnya, bauran energi primer Indonesia dapat menjadi gambaran yang lebih relevan. Pada 2025, EBT menyumbang sekitar 15,75% dari bauran energi primer nasional, sementara sisanya berasal dari batu bara sebesar 42,08%, minyak bumi 27,03%, dan gas bumi 15,13%.
Artinya, EBT sudah menjadi bagian dari pasokan energi nasional, tetapi energi fosil masih memenuhi sebagian besar kebutuhan energi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi EBT Indonesia yang mencapai 3.687 GW masih memiliki ruang pengembangan yang besar untuk meningkatkan kontribusinya dalam bauran energi. Apalagi, total kapasitas terpasang pembangkit EBT hingga saat ini baru mencapai 15.630 MW, menurut data Kementerian ESDM pada Desember 2025.
Baca Juga: Keunggulan Bahan Bakar Biodiesel: Cocokkah Untuk Industri?
Apakah Energi Terbarukan Saja Cukup untuk Mengatasi Krisis Energi?
Energi terbarukan merupakan bagian penting dari solusi krisis energi, tetapi saat ini belum cukup menjadi satu-satunya sumber energi. Indonesia memiliki potensi EBT yang besar dan beragam, tetapi kontribusinya dalam bauran energi primer masih 15,75% pada 2025.
Karena itu, peningkatan pemanfaatan EBT perlu berjalan bersamaan dengan pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jaringan listrik dan penyimpanan energi, serta pengelolaan sistem yang mampu mengatasi perubahan produksi dari sumber seperti surya dan angin.
Pendekatan yang lebih realistis adalah membangun bauran energi yang terdiversifikasi, dengan EBT terus ditingkatkan sekaligus mempertahankan sumber energi lain yang dapat menjaga keandalan pasokan selama kapasitas dan infrastruktur EBT belum sepenuhnya berkembang.
Dengan kombinasi tersebut, sistem energi tidak bergantung pada satu sumber saja dan memiliki pilihan pasokan ketika produksi EBT berfluktuasi atau kebutuhan energi meningkat.
Dalam konteks transisi ini, LNG (Liquefied Natural Gas) dapat menjadi salah satu sumber energi yang mendukung keandalan sistem, terutama ketika pengembangan EBT dan infrastruktur pendukungnya masih berlangsung.
Baca Juga: Carbon Capture and Storage Jadi Gimmick Hijau?
Bagaimana LNG Dapat Melengkapi Energi Terbarukan dalam Masa Transisi?
Dalam masa transisi energi, LNG dapat berperan sebagai salah satu sumber energi pelengkap ketika pemanfaatan EBT terus dikembangkan. Sumber energi seperti surya dan angin memiliki produksi yang bergantung pada kondisi alam, sehingga pasokannya dapat berubah dari waktu ke waktu.
Sementara itu, kebutuhan energi industri tetap perlu dipenuhi secara terus-menerus. Dalam kondisi tersebut, LNG dapat membantu menyediakan pasokan energi ketika produksi EBT tidak mencukupi, sehingga keandalan pasokan tetap terjaga.
Peran tersebut membuat LNG bukan menjadi pengganti atau pesaing EBT, melainkan bagian dari bauran energi selama proses transisi berlangsung.
Agar dapat menjalankan peran tersebut, LNG perlu didukung oleh rantai pasok yang memungkinkan energi tersedia dan disalurkan ke lokasi yang membutuhkan. Hal ini mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari pengadaan LNG, penyimpanan, distribusi, dan proses regasifikasi sebelum digunakan.
PGN LNG Indonesia mendukung kebutuhan tersebut melalui layanan LNG yang terintegrasi untuk membantu memenuhi kebutuhan energi industri di berbagai lokasi.
Pelajari lebih lanjut solusi LNG yang sesuai untuk kebutuhan energi industri Anda di sini: Mitra Penyedia LNG di Indonesia.
Referensi
- ESDM. Diakses Tahun 2026. Laporan Kinerja Ditjen EBTKE Tahun 2025
- ESDM. Diakses Tahun 2026. Perkuat Ketahanan Energi, Indonesia-Jerman Percepat Investasi EBT dan Jaringan Listrik
- ESDM. Diakses Tahun 2026. Bauran EBT di Sektor Listrik Lampaui Target RUKN
- IEA. Diakses Tahun 2026. 2026 Energy Crisis Policy Response Tracker
- PMC. Diakses Tahun 2026. Strategies to save energy in the context of the energy crisis: a review