Mampukah LNG Menjawab Kebutuhan Energi Pabrik Tekstil?

05 Nov 26
mampukah-lng-menjawab-kebutuhan-energi-pabrik-tekstil

Pabrik tekstil membutuhkan energi yang stabil untuk mengoperasikan mesin maupun menghasilkan panas dalam proses produksi. Kebutuhan ini dapat dipenuhi melalui berbagai sumber energi, seperti batu bara dan minyak bumi.

LNG (Liquefied Natural Gas) dapat menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi pabrik tekstil, terutama untuk menghasilkan panas dan uap melalui boiler. Dibandingkan batu bara dan minyak bumi, pembakaran LNG menghasilkan emisi CO₂ yang lebih rendah, sehingga sangat cocok untuk opsi transisi energi.

Apa Sumber Energi yang Digunakan Pabrik Tekstil? 

Pabrik tekstil menggunakan berbagai sumber energi, seperti batu bara, bahan bakar minyak, dan gas alam. Komposisinya berbeda-beda bergantung pada proses produksi, skala pabrik, lokasi, dan infrastruktur yang tersedia.

Bahan bakar umumnya digunakan untuk menghasilkan panas dan uap melalui boiler, terutama untuk proses pencelupan, pencucian, dan pengeringan kain.

Sedangkan output yang berupa listrik digunakan untuk mengoperasikan mesin pemintalan, penenunan, pompa, dan peralatan produksi lainnya.

Dalam memilih sumber energi, pabrik tidak hanya mempertimbangkan harga bahan bakar, tetapi juga kemampuan menghasilkan panas sesuai kebutuhan proses, ketersediaan pasokan, dan kesesuaian dengan peralatan yang dimiliki.

Baca Juga: Bahan Bakar Captive Power Plant: Apa yang Paling Efisien?

Mengapa Industri Tekstil Perlu Mempertimbangkan Pengurangan Emisi?

Pembakaran batu bara dan minyak bumi untuk menghasilkan panas dan uap di pabrik tekstil menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂). Khusus batu bara, pembakarannya juga menghasilkan abu dan dapat melepaskan partikulat serta polutan lain yang perlu dikendalikan.

Kondisi ini membuat pemilihan sumber energi menjadi salah satu pertimbangan dalam upaya mengurangi emisi dan pencemaran dari kegiatan industri.

Pengurangan emisi penting bagi industri tekstil karena dapat berkaitan dengan kepatuhan terhadap peraturan lingkungan, pemenuhan persyaratan pelanggan, dan pencapaian target keberlanjutan perusahaan.

Di sinilah tantangannya muncul, di mana pabrik tetap membutuhkan pasokan energi yang stabil agar proses produksi tidak terganggu, tetapi di sisi lain, emisi hasil pembakaran harus tetap terkendali.

Beralih ke sumber energi lain dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi emisi, tetapi keputusan tersebut tidak bisa hanya didasarkan pada potensi penurunan emisi. Pabrik juga perlu mempertimbangkan biaya operasional, keandalan pasokan, serta kesesuaian bahan bakar dengan boiler dan peralatan yang digunakan.

Apa yang Memengaruhi Kebutuhan Energi Pabrik Tekstil? 

Kebutuhan energi pabrik tekstil bergantung pada jenis produk dan tahapan produksinya. Pabrik yang hanya melakukan pemintalan dan penenunan memiliki kebutuhan energi yang berbeda dari fasilitas yang juga melakukan pencelupan (dyeing), pengeringan, dan penyelesaian kain (finishing).

Pada proses pencelupan, panas dibutuhkan untuk memanaskan larutan pewarna, sedangkan pengeringan memerlukan energi termal untuk menghilangkan kelembapan dari kain.

Proses tersebut membutuhkan pasokan panas yang memadai agar kegiatan produksi dapat berlangsung sesuai kebutuhan operasional.

Kebutuhan panas dan uap pada proses tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai kesesuaian gas alam sebagai sumber energi termal.

Selain itu, pabrik perlu mempertimbangkan kebutuhan listrik untuk mengoperasikan mesin serta fasilitas yang tersedia untuk memanfaatkan gas sebagai bahan bakar.

Baca Juga: Seberapa Andal PLTS Off-Grid untuk Industri di Area Remote?

Bagaimana LNG Dapat Memenuhi Kebutuhan Energi Pabrik Tekstil?

LNG adalah gas alam yang didinginkan hingga menjadi cair agar lebih mudah disimpan dan diangkut. Sebelum digunakan sebagai bahan bakar, LNG perlu melalui proses regasifikasi untuk dikembalikan ke bentuk gas.

Di pabrik tekstil, gas tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk menghasilkan uap dan panas yang dibutuhkan dalam proses pencelupan dan pengeringan kain.

Pemanfaatan ini menjadikan LNG salah satu opsi untuk memenuhi kebutuhan energi termal, terutama pada pabrik yang membutuhkan pasokan panas secara berkelanjutan.

Gas alam juga dapat digunakan untuk menghasilkan listrik melalui pembangkit berbahan bakar gas jika kebutuhan dan fasilitas pabrik mendukung. Penggunaan untuk pembangkitan listrik ini berbeda dari pemanfaatan gas untuk menghasilkan panas secara langsung melalui boiler atau peralatan pemanas.

Dibandingkan batu bara dan minyak bumi, pembakaran gas alam menghasilkan emisi CO₂, emisi sulfur dioksida, dan partikulat yang lebih rendah.

Karakteristik ini menjadikan LNG sebagai salah satu opsi bagi pabrik tekstil yang ingin memenuhi kebutuhan panas dan uap sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi dari penggunaan bahan bakar.

Bagaimana Contoh Pabrik Tekstil yang Beralih dari Batu Bara ke Gas Bumi? 

PT Easterntex merupakan produsen benang dan kain campuran serat poliester dan kapas yang berdiri sejak 1973 dan berlokasi di Pasuruan, Jawa Timur.

Sebelumnya, perusahaan ini menggunakan batu bara sebagai sumber energi utama untuk kegiatan produksinya. Pada Maret 2024, PGN mengumumkan penyaluran gas bumi kepada Easterntex setelah perusahaan tersebut beralih menggunakan gas bumi sebagai bahan bakar utama.

Peralihan ini dilakukan dengan mempertimbangkan efisiensi energi, kesinambungan pasokan, dan upaya mengurangi emisi karbon.

Dalam industri tekstil, pemilihan bahan bakar tidak hanya memengaruhi kebutuhan energi, tetapi juga efisiensi operasional dan upaya perusahaan mengurangi emisi karbon. Pengalaman Easterntex menunjukkan bahwa peralihan dari batu bara ke gas bumi dapat menjadi salah satu langkah untuk mencapai tujuan tersebut.

Dengan pasokan energi yang berkelanjutan dan penggunaan bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan produksi, pabrik tekstil dapat mendukung kelancaran proses produksi sekaligus memperkuat daya saing produk, terutama ketika efisiensi dan pengurangan emisi semakin menjadi perhatian pasar.

Baca Juga: Mampukah PLTB Menjawab Kebutuhan Listrik di Masa Depan?

Bagaimana PGN LNG Indonesia Mendukung Kebutuhan Energi Industri? 

PGN LNG Indonesia mendukung kebutuhan energi industri melalui layanan penerimaan, penyimpanan, pengangkutan, dan regasifikasi LNG yang terintegrasi.

Melalui infrastruktur tersebut, LNG dapat didistribusikan dan diubah kembali menjadi gas alam untuk memenuhi kebutuhan energi industri, termasuk sebagai bahan bakar boiler untuk menghasilkan panas dan uap dalam proses produksi tekstil.

Pemanfaatan LNG juga dapat membantu memperluas akses gas alam bagi industri yang kebutuhan energinya belum terpenuhi melalui jaringan pipa gas, sehingga perusahaan memiliki alternatif untuk mendukung kelancaran operasional dan menjaga kontinuitas pasokan energi.

Agar pemanfaatan LNG dapat berjalan sesuai kebutuhan operasional, perusahaan perlu mempertimbangkan ketersediaan pasokan serta dukungan infrastruktur untuk menyalurkan gas hingga ke lokasi penggunaan.

Melalui layanan LNG yang terintegrasi, PGN LNG Indonesia mendukung kebutuhan energi industri dengan menyediakan solusi yang mencakup penerimaan, penyimpanan, pengangkutan, dan regasifikasi LNG.

Dukungan ini memungkinkan perusahaan mempertimbangkan pemanfaatan gas alam sesuai kebutuhan energi dan kondisi infrastruktur di lokasi operasionalnya.

Ingin tahu lebih lanjut solusi LNG untuk mendukung operasional industri Anda? Simak ulasan lengkapnya di sini: Penyedia LNG di Indonesia.

 

Referensi

  • Government of Canada. Diakses Tahun 2026. Net-Zero Emissions Primer for Textile Manufacturing Firms 
  • IESR. Diakses Tahun 2026. Industry Decarbonization Roadmaps for Indonesia 
  • LBNL. Diakses Tahun 2026. Energy-Efficiency Improvement Opportunities for the Textile Industry 
  • MDPI. Diakses Tahun 2026. Electrification of Steam and Thermal Oil Boilers in the Textile Industry 
  • ANTARA. Diakses Tahun 2026. PGN komitmen ekspansi bisnis dengan salurkan gas bumi ke PT Easterntex

 

Bagikan Artikel
Berita Lainnya